Tujuh hari berlalu bagai kedipan mata yang dipenuhi mimpi buruk. Di layar dasbor blog rintisannya, grafiknya memang perlahan merangkak naik, tetapi kecepatan koin receh digital itu tak akan pernah bisa mengejar laju argo denda harian dari dua aplikasi pinjaman online yang kini menjerat leher Dafa.
Siang itu, matahari di tanah rantau memanggang atap seng gudang logistik tempat Dafa bekerja. Kausnya sudah lepek oleh peluh. Dafa baru saja menurunkan kardus terakhir dari bak truk ketika ponsel di saku celananya bergetar hebat. Panggilan masuk. Nama 'Riko' berkedip di layar.
Ada secercah harap di hati Dafa. Mungkin adiknya itu akhirnya menyadari kesalahannya dan menelepon untuk menanyakan kabar. Dafa menyeka keringat di dahinya dengan punggung lengan, lalu menekan tombol hijau.
"Halo, Rik—"
"Mas Dafa ini niatnya mau bantuin atau mau ngancurin hidup Riko, sih?!"
Belum sempat Dafa menyelesaikan sapaannya, suara Riko meledak dari seberang telepon. Nada suaranya melengking, sarat akan kepanikan dan amarah yang meluap-luap.
Dafa tertegun. Langkahnya terhenti di tengah hiruk-pikuk gudang. "Ada apa, Rik? Pelan-pelan bicaranya."
"Pelan-pelan gimana?! Dari pagi WhatsApp Riko diteror pesan otomatis ratusan kali! Isinya foto KTP Mas Dafa, disandingkan sama tulisan 'MALING BURONAN'! Terus nomor Riko disebut-sebut sebagai penjamin utang!" napas Riko terdengar memburu, setengah berteriak. "Mas utang di pinjol, ya?! Gila, Mas! Malu-maluin keluarga!"
Dada Dafa terasa seperti dihantam palu godam. Udara panas kota metropolitan ini tiba-tiba terasa mencekik paru-parunya.
"Rik, dengar dulu. Mas terpaksa pinjam karena…"
"Karena apa?! Karena Mas mau gaya-gayaan bikin website nggak jelas itu?!" potong Riko tanpa ampun. Logika remajanya yang dangkal dan egois mengambil alih segalanya. "Mas tahu nggak, Sinta sampai ketakutan gara-gara ada nomor nggak dikenal yang juga nge-chat dia! Kalau sampai calon mertua Riko tahu, batal nikah Riko, Mas! Harusnya kalau nggak punya uang, nggak usah sok-sokan utang!"