The Grey Area: Garis Batas Realita

Abdul Djafar K Yahya
Chapter #7

Bab 6 Berhala Layar Kaca

Pintu kamar kontrakan berukuran tiga kali empat meter itu ditutup rapat dan dikunci dari dalam. Dafa melemparkan amplop cokelat berisi sisa upahnya ke atas kasur tipis yang tak bersprai. Udara siang di kota metropolitan ini terasa memanggang, mengurungnya dalam kotak pengap tanpa ventilasi yang memadai. Namun, Dafa sudah mati rasa terhadap hawa panas itu.

Ponsel di saku celananya kembali bergetar. Layarnya menyala, menampilkan rentetan pesan WhatsApp baru dari nomor-nomor tak dikenal, berisi cacian, ancaman, dan foto KTP-nya yang telah diedit sedemikian rupa. Tanpa membaca satu kata pun, Dafa menekan tombol daya ponsel itu lama-lama.

Daya mati.

Layar ponsel menggelap. Seketika, keheningan yang mencekam memenuhi ruangan. Dafa memutus seluruh akses. Tidak ada lagi teror debt collector, tidak ada lagi omelan egois Riko, dan untuk sementara waktu... tidak ada lagi kabar dari bapak, ibu, maupun Anggun. Ia memilih tuli demi menjaga sisa kewarasannya.

Dafa duduk bersila di lantai, menarik meja lipat kayunya, dan menghidupkan laptop. Cahaya biru dari layar langsung menyapu wajahnya yang kuyu. Ia membuka dasbor blognya. Angka penghasilan iklannya perlahan merangkak naik, kini menyentuh angka $12.30.

Masih sangat jauh dari ambang batas pencairan seratus dolar, apalagi untuk menutup denda pinjol yang kini entah sudah membengkak menjadi berapa belas juta. Namun, di mata Dafa yang sedang putus asa, angka $12.30 itu adalah satu-satunya dewa penyelamat.

"Kalau satu artikel bisa bawa sepuluh sen sehari, aku cuma butuh ratusan artikel yang viral minggu ini," gumam Dafa pada dirinya sendiri. Suaranya serak, matanya menatap liar ke arah layar. Logikanya mulai melompat, menyusun ekspektasi-ekspektasi mustahil untuk menekan kepanikan di dadanya.

Dan dimulailah pelarian Dafa ke dunia maya.

Selama tiga hari tiga malam berturut-turut, Dafa tidak keluar dari kamarnya kecuali ke kamar mandi. Sisa uang dari mandornya ia gunakan untuk menyetok mi instan dan kopi saset murah. Ia berhenti membedakan antara siang dan malam. Kausnya bau keringat masam, rambutnya acak-acakan, dan kantung matanya menghitam legam seperti orang sakit.

Jari-jarinya mengetik secara mekanis, nyaris tanpa henti. Menulis artikel, mengoptimasi kata kunci, menyebar tautan ke ratusan grup media sosial palsu yang ia buat. Saat rasa kantuk menyerang, ia menyeduh kopi ketiganya hari itu, menampar pipinya sendiri, dan kembali mengetik.

Sesekali, bayangan wajah ayahnya yang terbaring lemah melintas di kepalanya, disusul tangisan Anggun. Setiap kali bayangan itu muncul, Dafa mengetik lebih cepat, lebih keras, seolah suara tuts keyboard bisa membungkam rasa bersalah di dadanya.

Lihat selengkapnya