Udara di teras kontrakan itu terasa membekukan meski matahari kota masih bersinar terik. Dafa menatap wajah Riko yang bersimbah air mata dan peluh. Kabar tentang ayahnya yang terbaring di ruang ICU akibat serangan jantung karena fitnah pinjol itu mengoyak akal sehatnya. Area abu-abu yang selama ini ia coba navigasi telah hancur lebur; ekspektasinya untuk menjadi pahlawan keluarga kini justru menjadikannya algojo bagi nyawa ayahnya sendiri.
Dafa mencengkeram kerah kaus Riko, bukan karena marah, melainkan untuk menopang tubuhnya sendiri yang gemetar hebat.
"Kita harus pulang, Rik. Sekarang juga," bisik Dafa parau. Suaranya terdengar seperti orang yang pita suaranya terkoyak.
Riko mengusap wajahnya dengan kasar. "Tapi kita harus bawa uang, Mas! Waktu Riko berangkat, Ibu cuma bisa nangis peluk bapak di ambulans. Tetangga nggak ada yang mau bantu karena mereka telanjur percaya selebaran buronan itu. Rumah sakit pasti minta deposit masuk ICU, Mas!"
Dafa tertegun. Uang. Kata itu kini terasa seperti kutukan yang menertawakan kemiskinannya. Ia melirik ke dalam kamarnya—ke arah laptop yang menampilkan penangguhan akun, lalu ke amplop cokelat tipis berisi sisa gaji mingguannya yang tak seberapa.
"Kamu bawa uang?" tanya Dafa nyaris putus asa.
Riko menunduk dalam, tangisnya kembali terdengar. "Riko cuma bawa sisa uang bensin buat ke sini, Mas. Maafin Riko... uang tiga juta dari Mas kemarin benar-benar Riko habiskan. Riko bodoh, Mas."
Mendengar pengakuan itu, amarah Dafa tak lagi tersisa. Semuanya sudah terlambat untuk disesali. Otaknya yang buntu dipaksa bekerja di luar batas. Di tengah kepanikan itu, satu nama melintas di kepalanya. Anggun. Beberapa waktu lalu, Dafa mengirimkan uang satu setengah juta untuk proyek kuliah adiknya itu. Jika proyek itu bisa ditunda, atau jika Anggun memiliki sisa tabungan beasiswa, itu adalah satu-satunya jalan keluar yang mereka miliki saat ini.
"Pakai jaketmu. Kita ke tempat kos Anggun," perintah Dafa mutlak.
Ia bergegas masuk, menyambar ransel usangnya, dan memasukkan laptop ke dalamnya, satu-satunya barang berharga yang mungkin bisa ia gadaikan nanti. Setelah mengunci pintu kontrakan, Dafa melompat ke boncengan motor bebek Riko.
Perjalanan membelah hiruk-pikuk kota metropolitan itu terasa seperti simulasi neraka. Angin panas yang menerpa wajah Dafa tak mampu mengusir bayangan ayahnya yang terpasang selang oksigen. Sepanjang jalan, Dafa terus merapal doa, memohon agar Tuhan tidak mengambil nyawa ayahnya sebelum ia sempat bersimpuh dan meminta maaf.