The Grey Area: Garis Batas Realita

Abdul Djafar K Yahya
Chapter #9

Bab 8 Lorong Penebusan Dosa

Bau tajam karbol dan obat-obatan langsung menyergap indra penciuman Dafa begitu ia melangkahkan kaki melewati pintu otomatis rumah sakit daerah. Di belakangnya, Anggun berjalan setengah berlari sambil menggenggam erat tangan Riko yang sedari tadi tak berhenti gemetar.

Perjalanan darat berjam-jam menggunakan bus malam telah menguras sisa tenaga mereka. Di saku celana Dafa, tersimpan gulungan uang hasil menggadaikan laptop kesayangannya—uang yang tidak seberapa, namun cukup untuk membayar deposit awal ruang gawat darurat.

Lorong menuju ruang ICU itu sepi dan dingin, diterangi lampu neon putih yang menyilaukan mata. Di ujung lorong, di atas kursi tunggu besi yang memanjang, duduklah sesosok wanita paruh baya. Bahunya melengkung turun, kepalanya tertunduk lesu bersandar pada dinding keramik. Sepasang sandal jepit tipis membungkus kakinya yang pucat.

"Ibu..." panggil Anggun dengan suara bergetar hebat.

Wanita itu mengangkat wajahnya. Kantung matanya bengkak, menyisakan jejak air mata yang sudah mengering. Begitu melihat ketiga anaknya berdiri di ujung lorong, pertahanan sang ibu kembali runtuh. Ia berdiri dengan kaki bergetar, merentangkan kedua tangannya yang kurus.

"Dafa... Anggun... Riko..." isak ibunya, suaranya parau dan kehabisan tenaga.

Ketiga bersaudara itu berhamburan, memeluk ibu mereka erat-erat. Tangis Anggun pecah seketika, menumpahkan segala ketakutan yang ia pendam sejak dari kota. Riko langsung bersimpuh di lantai, memeluk lutut ibunya sambil meracaukan kata maaf yang tak jelas artikulasinya.

Sementara itu, Dafa mematung dalam pelukan sang ibu. Anak sulung itu tak mampu meneteskan air mata. Dadanya terlalu sesak oleh rasa bersalah yang menjelma menjadi bongkahan batu berduri. Ia mengintip melalui kaca buram pintu ICU. Di dalam sana, tubuh ayahnya dipenuhi kabel dan selang, berjuang menarik napas dari bantuan mesin.

"Maafkan Dafa, Bu," bisik Dafa di telinga ibunya, suaranya serak. "Ini semua salah Dafa. Dafa yang bawa sial ke keluarga ini. Foto-foto pinjaman itu"

"Sstt... sudah, Nak," potong ibunya pelan, tangannya yang kasar mengusap punggung Dafa dengan lembut, tanpa ada sedikit pun nada menyalahkan. "Bapakmu orang kuat. Gusti Allah Maha Tahu niat baikmu, Daf. Yang penting sekarang kalian kumpul. Bapak pasti senang kalian pulang."

Lihat selengkapnya