The Grey Area: Garis Batas Realita

Abdul Djafar K Yahya
Chapter #10

Bab 9 Harga Sebuah Nyawa

Tangan Dafa sedikit gemetar saat ia menyodorkan beberapa lembar ratusan ribu rupiah di loket administrasi yang dijaga oleh seorang petugas berjaga malam. Kipas angin di langit-langit berputar pelan, mengeluarkan bunyi kriet-kriet yang monoton.

"Total deposit awal untuk masuk ICU malam ini dua juta rupiah, Mas," ucap petugas itu dari balik kaca loket, tangannya dengan cekatan menghitung uang yang disodorkan Dafa. Mesin pencetak struk berbunyi nyaring, memuntahkan selembar kertas bukti pembayaran. "Ini kuitansinya. Uang ini hanya menutupi biaya kamar dan observasi awal untuk malam ini saja ya, Mas. Untuk tindakan medis selanjutnya, akan diinformasikan oleh dokter jaga."

Dafa mengangguk pelan, melipat kuitansi itu dan memasukkannya ke saku kemejanya. Ada kelegaan sesaat yang mampir di dadanya. Pengorbanannya merelakan laptop kesayangannya tidak sia-sia; setidaknya untuk malam ini, napas bapaknya aman di bawah pengawasan mesin-mesin medis.

Ia berjalan gontai menyusuri lorong kembali ke depan ruang ICU. Dari kejauhan, ia melihat ibunya sedang duduk bersandar di bahu Anggun, sementara Riko duduk di lantai dengan tatapan kosong. Namun, langkah Dafa terhenti ketika pintu ganda ICU tiba-tiba terbuka.

Seorang dokter pria paruh baya mengenakan jas putih dan masker hijau keluar dari ruangan berhawa dingin tersebut. Wajahnya memancarkan kelelahan khas shift malam, namun matanya menatap tajam ke arah keluarga Dafa.

"Keluarga Bapak Suyanto?" panggil dokter itu.

Ibunya langsung tersentak bangun, disusul Anggun dan Riko. Dafa berlari kecil menghampiri mereka, memposisikan dirinya paling depan sebagai kepala keluarga pengganti.

Lihat selengkapnya