The Grey Area: Garis Batas Realita

Abdul Djafar K Yahya
Chapter #11

Bab 10 Lelang Harga Diri

Lorong depan ruang ICU terasa semakin dingin seiring jarum jam yang merangkak melewati tengah malam. Di sudut ruang tunggu, keluarga kecil yang tengah berada di ujung tanduk itu berkumpul dalam keputusasaan yang pekat.

Dafa menatap ibunya yang masih terisak pelan di pelukan Anggun. Sebagai anak sulung, ia harus mengambil keputusan paling berat malam ini.

"Bu..." panggil Dafa pelan, suaranya parau. "Sertifikat rumah kita... apakah masih Ibu simpan di lemari kayu kamar Bapak?"

Ibu mengangkat wajahnya yang sembab, menatap Dafa dengan pandangan kosong sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Masih, Daf. Kamu... mau gadaikan rumah kita?"

"Nggak ada jalan lain, Bu. Enam puluh lima juta itu bukan uang kecil. Cuma rumah peninggalan kakek itu satu-satunya harta kita yang tersisa," jawab Dafa getir. "Besok pagi-pagi sekali, Dafa akan bawa sertifikat itu ke bank cabang kecamatan. Kita ajukan pinjaman darurat."

Mendengar itu, Riko yang sejak tadi menunduk tiba-tiba mengangkat kepalanya. Logika jalanan yang biasa ia pakai di tongkrongan tiba-tiba menyadarkannya pada satu realita pahit.

"Mas... Mas Dafa lupa?" potong Riko dengan suara bergetar. "Ini sudah tengah malam. Bank baru buka jam delapan pagi, pas sama batas waktu dari dokter. Terus, bank itu butuh survei, butuh cek BI Checking. Utang pinjol Mas Dafa yang viral itu... nama Mas pasti sudah di-blacklist sama sistem bank. Nggak mungkin cair dalam hitungan jam, Mas! Bapak bisa..." Riko tak sanggup meneruskan kalimatnya, kembali menjambak rambutnya dengan frustrasi.

Lihat selengkapnya