Pukul 06.05 WIB.
Cahaya fajar mulai menyusup dari celah jendela kaca di ujung lorong rumah sakit, memudarkan pendar lampu neon yang sedari tadi menemani keputusasaan Dafa. Layar ponsel di genggamannya menyala, menampilkan sebuah notifikasi dari aplikasi perbankan.
Mata Dafa yang merah dan perih langsung melebar. Jantungnya bergemuruh. Namun, saat ia membaca deretan angka di layar tersebut, napasnya seakan dirampas secara paksa.
Transfer Masuk: Rp35.000.000.
Hanya setengahnya.
Kepanikan seketika menyergap ulu hatinya. Tiga puluh lima juta tidak akan cukup untuk menyelamatkan nyawa bapaknya. Rumah sakit meminta enam puluh lima juta rupiah paling lambat pukul delapan pagi. Waktunya kurang dari dua jam lagi.
Ponselnya kembali bergetar. Sebuah pesan teks masuk dari nomor asisten anak pejabat tersebut.
"Sistemnya udah dicek, jalan lancar. Bos bilang 35 juta dulu buat DP. Sisanya yang 35 juta lagi ditransfer jam 12 siang nanti, nunggu sidang kelulusan bos beres. Biar sama-sama enak, takut lu kabur atau sistemnya error pas demo ke dosen."
Dafa meremas ponselnya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarah, rasa lelah, dan keputusasaan melebur menjadi satu entitas yang dingin di dalam dadanya. Anak pejabat itu bermain aman, menahan setengah bayarannya demi kepastian. Di dunia normal, itu adalah transaksi bisnis yang wajar. Namun di dunia Dafa pagi ini, penundaan itu adalah vonis mati bagi ayahnya.
Dafa menoleh ke arah ruang ICU. Dari celah kaca, ia bisa melihat ibunya yang tertidur karena kelelahan di kursi tunggu, sementara Anggun dan Riko duduk bersandar di lantai dengan wajah pucat. Bapaknya masih terbaring di dalam sana, bergantung pada mesin penyambung nyawa.
Tidak. Dafa tidak akan membiarkan birokrasi, kemiskinan, atau kelicikan seorang anak pejabat merenggut nyawa ayahnya. Jika ia sudah melangkah masuk ke area abu-abu, ia akan bermain dengan aturan di area tersebut.