Bau menyengat dari amonia dan obat-obatan menguar di udara. Dafa kini terbaring tak berdaya di salah satu ranjang Instalasi Gawat Darurat (IGD), terhubung dengan selang infus setelah dokter mendiagnosisnya dengan kelelahan ekstrem dan dehidrasi berat.
Di ruang tunggu luar ruang operasi, Riko, Anggun, dan ibu mereka masih terduduk lemas. Lampu merah di atas pintu operasi belum juga padam. Waktu seolah berjalan merangkak.
Namun, penderitaan keluarga itu rupanya belum tuntas.
Langkah kaki berat yang beradu kasar dengan lantai keramik rumah sakit memecah keheningan lorong. Dua pria berbadan tegap dengan jaket kulit imitasi dan wajah garang berjalan lurus ke arah ruang tunggu. Mata mereka menyapu deretan kursi sebelum akhirnya tertuju pada ibu Dafa yang sedang memegang tasbih.
"Keluarga Suyanto? Mana yang namanya Dafa?!" bentak salah satu pria itu, suaranya menggelegar kasar, sama sekali tidak memedulikan tulisan 'Harap Tenang' yang menempel di dinding.
Ibu Dafa tersentak, wajahnya memucat seketika. Tasbih di tangannya nyaris terjatuh. "S-saya ibunya. Dafa... Dafa sedang pingsan dirawat di IGD. Ada urusan apa, Bapak-bapak?"
Pria kedua mendengus sinis, mengeluarkan ponselnya dan menyodorkan layar yang menampilkan wajah Dafa memegang KTP, lengkap dengan cap merah bertuliskan TELAT BAYAR.
"Anak Ibu ini maling! Utang di dua aplikasi kami sudah jatuh tempo dan dendanya bengkak. Kami lacak GPS dari HP-nya, ternyata posisinya mandek di rumah sakit ini. Total lima juta rupiah. Bayar sekarang, atau kami bikin ribut dan teriak keliling bangsal ini! Biar semua dokter, perawat, sama orang-orang di rumah sakit ini tahu kalau keluarga kalian ini keluarga penipu!"
Mendengar ancaman keji itu, darah Riko mendidih. Rasa bersalah yang sedari tadi menggerogoti dadanya kini meledak menjadi keberanian yang nekat. Pemuda bungsu itu berdiri, melangkah maju dan memosisikan tubuhnya sebagai tameng di antara kedua preman itu dan ibunya.
"Jaga mulut kalian!" geram Riko, rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat meski ia tahu ia bisa dihajar habis-habisan oleh dua pria berotot itu. "Kakak saya utang pinjol karena kebodohan saya! Kalau kalian mau bikin ribut, ribut sama saya di luar. Jangan berani-berani sentuh ibu saya!"