Pertanyaan sang ibu menggantung di udara lorong rumah sakit yang dingin, terasa lebih berat daripada ancaman rentenir mana pun yang baru saja pergi.
"Kalian menyembunyikan apa dari Ibu? Uang siapa yang sebenarnya kalian pakai untuk membedah bapak kalian?!" tuntut ibunya lagi. Suaranya tidak keras, namun getarannya mampu meruntuhkan dinding pertahanan Anggun.
Anggun menelan ludah. Keringat dingin membasahi tengkuknya. Gadis itu membuka mulutnya, bersiap menumpahkan seluruh kebenaran kotor tentang proyek joki anak pejabat, skrip pemerasan, dan bagaimana kakak sulung mereka telah melacurkan masa depannya demi uang tujuh puluh juta rupiah itu.
"Bu, sebenarnya Mas Dafa..." suara Anggun bergetar, air matanya bersiap tumpah. Riko di sebelahnya memejamkan mata, bersiap menerima badai kemarahan ibunya.
KLIK.
Sebuah bunyi nyaring dari arah atas memotong kalimat Anggun. Ketiga orang itu serentak menoleh. Lampu indikator berwarna merah yang sedari tadi menyala terang di atas pintu ganda Ruang Operasi Utama, kini telah padam.
Detik itu juga, pertanyaan tentang asal-usul uang menguap dari kepala sang ibu. Insting keibuannya dan cintanya pada sang suami mengambil alih segalanya. Ia setengah berlari menghampiri pintu ganda tersebut, meninggalkan Anggun dan Riko yang masih mematung dengan napas tertahan.