The Grey Area: Garis Batas Realita

Abdul Djafar K Yahya
Chapter #17

Bab 16 Dusta Penyelamat Nyawa

Dafa memaksa turun dari ranjang IGD, mengabaikan protes perawat jaga. Setelah menandatangani surat pulang atas permintaan sendiri, ia berjalan tertatih menyusuri lorong rumah sakit dengan sisa tenaga yang ada. Kausnya masih berbau keringat dingin, namun pikirannya hanya tertuju pada satu hal: bapaknya.

Saat ia tiba di depan ruang ICU pemulihan, ibunya langsung menghambur memeluknya.

"Dafa, kamu sudah baikan, Nak ?" isak ibunya, mengusap wajah pucat anak sulungnya. Di belakang sang ibu, Anggun dan Riko menatap Dafa dengan sorot mata lega yang bercampur dengan rasa bersalah.

Dafa mengangguk pelan, memaksakan senyum. "Dafa cuma kecapekan, Bu. Bapak... Bapak sudah sadar?"

"Sudah. Alhamdulillah, barusan siuman," jawab ibunya dengan suara bergetar bahagia. Namun, senyum wanita itu perlahan meredup. "Tapi, dari tadi bapakmu gelisah. Matanya terus mencari-cari ke arah pintu. Waktu Ibu masuk sebentar, suaranya pelan sekali, tapi dia cuma sebut satu nama. Dia minta bicara berdua sama kamu, Daf. Sekarang juga."

Perasaan Dafa mendadak tidak enak. Ia menatap Anggun, yang hanya membalas dengan gelengan pelan, sama-sama tidak tahu apa yang akan dibicarakan ayah mereka.

Dengan langkah berat, Dafa mendorong pintu kaca buram ruang ICU. Udara di dalam terasa sangat dingin. Bunyi ritmis dari monitor pendeteksi detak jantung langsung menyambutnya. Di atas ranjang putih di tengah ruangan, sosok pria paruh baya yang selalu menjadi panutannya itu terbaring lemah. Tubuhnya dipenuhi kabel elektroda, sementara selang oksigen bening melingkar di hidungnya.

"Bapak..." bisik Dafa, suaranya nyaris tercekat. Ia menarik kursi lipat dan duduk di samping ranjang, menggenggam telapak tangan ayahnya yang terasa dingin dan kasar.

Kelopak mata bapak perlahan terbuka. Mata tua yang biasanya memancarkan ketegasan dan kebijaksanaan itu kini terlihat sangat lelah. Bapak menoleh sedikit, menatap wajah anak sulungnya cukup lama.

Lihat selengkapnya