Tiga hari telah berlalu sejak malam paling panjang dalam hidup Dafa. Ruang perawatan bapak kini telah dipindahkan dari ICU ke bangsal rawat inap kelas tiga. Aroma karbol masih mendominasi, namun ketegangan yang mencekik perlahan memudar.
Sore itu, bapak sedang tertidur pulas setelah meminum obat. Ibu sedang pulang sebentar ke desa ditemani Riko untuk mengambil baju ganti dan membereskan urusan rumah. Tinggal Dafa dan Anggun yang berjaga. Anggun sedang duduk di sudut ruangan, sibuk mengetik tugas kuliahnya dengan laptop pinjaman dari teman, sementara Dafa menyandarkan kepalanya di dinding luar kamar, menyeruput kopi saset yang sudah dingin.
Semuanya terasa mulai membaik. Ekspektasi Dafa untuk melihat keluarganya utuh kembali perlahan menjadi realita.
Namun, ketenangan di area abu-abu hanyalah ilusi.
Ponsel di saku celana Dafa bergetar panjang. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Dafa mengerutkan kening. Mengira itu adalah penawar website dari forum jual-beli atau sekadar panggilan salah sambung, ia menggeser tombol hijau ke atas dan mendekatkan ponsel ke telinga.
"Halo?"
"Kerjaan lu rapi juga, Daf."
Darah Dafa seketika membeku. Suara di seberang sana sangat familier. Itu adalah suara bernada arogan milik asisten anak pejabat yang ia peras tiga hari lalu. Tangan Dafa yang memegang gelas plastik kopi mulai gemetar.