Beep.
Suara kecil dari sistem yang menandakan akses berhasil itu terdengar lebih memekakkan telinga daripada sirene ambulans bagi Dafa. Di layar, direktori peladen rahasia pemerintah daerah itu telah terbuka lebar, menanti untuk dijarah.
Namun, suara Anggun di belakangnya membekukan seluruh darah di nadinya.
"Itu... layar apa, Mas?"
Dafa memejamkan mata erat-erat. Jari-jarinya gemetar di atas keyboard. Otaknya yang sudah kelelahan mencoba merangkai kebohongan baru—sebuah refleks yang kini menjadi kebiasaan buruknya. Namun, saat ia menoleh dan melihat wajah adiknya yang pucat, diterangi cahaya remang-remang lampu rumah sakit, dinding pertahanan Dafa runtuh sepenuhnya.
Ia tidak bisa lagi membohongi Anggun. Tidak di saat nyawa gadis ini yang sedang ia pertaruhkan.
Dengan gerakan cepat namun nyaris tanpa suara, Dafa menurunkan layar laptop itu hingga menyisakan celah kecil, meredupkan cahaya hijau dari layar. Ia lalu bangkit dari lantai, melangkah menghampiri sofa, dan menarik lengan Anggun dengan lembut namun mendesak.
"Mas... Mas tangannya dingin banget. Ada apa?" bisik Anggun, ketakutan mulai merayapi nada suaranya saat melihat mata kakaknya yang merah dan berkaca-kaca.