Cahaya matahari siang menyinari ruang rawat inap kelas tiga itu dengan hangat. Di ranjangnya, bapak sedang menyuap bubur rumah sakit dengan pelan, disuapi oleh ibu yang tersenyum lega. Riko sedang tertidur di sofa setelah berjaga pagi tadi.
Semuanya tampak normal. Sebuah ilusi kedamaian yang dibeli dengan harga yang sangat mahal.
Dafa berdiri di ambang pintu kamar, menatap keluarganya. Tadi pagi, tepat pukul enam, ia telah mengirimkan salinan data lelang tersebut ke alamat surel terenkripsi milik asisten pejabat itu. Sebagai imbalannya, uang dua ratus juta rupiah telah masuk ke rekening perantara rahasia (crypto wallet) miliknya. Ia sudah menepati janjinya, dan ia mengira iblis itu telah melepaskannya.
Ia mengira semuanya sudah selesai.
Dafa berjalan gontai menuju ruang tunggu di ujung lorong bangsal untuk membuang gelas kopi plastiknya. Di dinding ruang tunggu itu, sebuah televisi layar datar menyala, menayangkan siaran berita nasional siang hari. Volume TV itu tidak terlalu keras, namun tulisan kapital berwarna merah yang berjalan di bagian bawah layar (ticker) seakan menampar wajah Dafa dengan keras.
BREAKING NEWS: PELADEN DATA LELANG PEMERINTAH PROVINSI DIRETAS TENGAH MALAM TADI. KERUGIAN PROYEK DITAKSIR RATUSAN MILIAR RUPIAH.
Dafa membeku. Tangannya yang masih memegang gelas kosong mendadak kaku. Pembaca berita di layar itu menyebutkan bahwa tim Cyber Crime dari Mabes Polri telah diturunkan langsung untuk memburu pelaku yang meninggalkan jejak perusakan sistem yang sangat masif.
Keringat dingin seketika membanjiri tengkuk Dafa.
Tenang, Daf. Tenang, batinnya mencoba menenangkan diri. Aku pakai VPN berlapis. Aku pakai proxy luar negeri. Log aksesnya sudah kuhapus semua. Nggak mungkin terlacak. Nggak mungkin.