Dafa memungut ponselnya yang layarnya sedikit retak dari lantai semen. Tangannya masih gemetar saat ia mencari nama Anggun di kontak dan menekan tombol panggil. Butuh beberapa detik yang terasa seperti selamanya sebelum panggilan itu diangkat.
"Mas... gimana?" Suara Anggun terdengar parau dan penuh harap di seberang sana. Latar belakang suaranya kini sedikit lebih sepi, sepertinya ia sedang bersembunyi di toilet kampus. "Mas Dafa udah telepon orang-orang itu? Nisa bakal dilepasin kan, Mas?"
Dafa memejamkan mata, membiarkan air matanya mengalir dalam diam. Ia menarik napas panjang, mengumpulkan setiap serpihan kekejaman yang harus ia kenakan sebagai topeng demi melindungi keluarganya.
"Nggun..." suara Dafa terdengar serak, namun sedingin es. "Dengarkan Mas baik-baik. Jangan menangis, dan jangan bersuara keras."
"Mas...?" Nada harap di suara Anggun perlahan pudar, digantikan oleh firasat buruk yang kembali merayap.
"Orang-orang itu nggak akan membebaskan Nisa. Mereka sengaja menjebak kita. Dan yang lebih parah... mereka sudah mentransfer uang dua ratus juta ke rekening Mas pagi ini."
"Apa hubungannya sama uang sialan itu?!" isak Anggun tertahan, suaranya mulai naik. "Balikin uangnya, Mas! Terus laporin mereka!"