Ruang dekanat Fakultas Ilmu Komputer yang biasanya sejuk oleh pendingin ruangan, kini terasa sedingin ruang jenazah bagi Anggun. Ia duduk menunduk di kursi kayu berhadapan dengan meja kerja panjang. Di seberangnya, dua penyidik dari unit Cyber Crime Mabes Polri menatapnya dengan pandangan menguliti. Salah satunya adalah polisi wanita yang menjemputnya di toilet, dan satu lagi adalah polisi pria paruh baya yang sedang membolak-balik berkas log cetak.
Di sudut ruangan, Nisa masih menangis sesenggukan, didampingi seorang dosen pembimbing. Gadis malang itu tampak sangat terguncang.
"Saudari Anggun," suara berat polisi pria itu memecah keheningan. "Nisa bersumpah bahwa dia tidur pulas jam sepuluh malam tadi. Tapi anehnya, log server pemerintah mencatat perangkat keras Nisa aktif meretas pada pukul 02.15 dini hari. Nisa bilang, laptop itu dipinjamkan kepada kamu untuk mengerjakan tugas. Benar begitu?"
Jantung Anggun berdentum keras menghantam tulang rusuknya. Keringat dingin merembes dari telapak tangannya. Ia menelan ludah, mengingat kembali pesan ancaman kakaknya.
"B-benar, Pak," jawab Anggun, suaranya bergetar. "Saya pinjam untuk ngetik bab pendahuluan tugas akhir."
"Sampai jam berapa kamu memakainya?" kejar penyidik wanita di sebelahnya, matanya menyipit penuh selidik.
"S-sampai jam dua belas malam. Setelah itu saya ngantuk, dan... dan saya ketiduran di sofa rumah sakit, Pak. Ibu saya bisa bersaksi, beliau berjaga semalaman," bohong Anggun dengan napas tersengal. Ibunya memang tertidur pulas semalaman, jadi ibunya pasti mengira Anggun juga tidur.
Penyidik pria itu menghela napas, mengetuk-ngetukkan penanya ke meja. "Jadi, kalau Nisa tidur jam sepuluh, dan kamu tidur jam dua belas... lalu siapa hantu yang memakai laptop ini jam dua pagi untuk meretas peladen pemerintah, Anggun?"
Anggun membeku. Ia tidak punya jawaban untuk itu. Jika ia menyebut nama Dafa, Nisa akan bebas, tapi keluarganya akan hancur dan ia akan dikeluarkan dari kampus. Ia menunduk semakin dalam, air matanya menetes jatuh ke rok panjangnya. Maafkan aku, Nisa... Maafkan aku... batinnya menjerit pedih.
Sementara itu, dua puluh kilometer dari kampus Anggun, sebuah peperangan digital yang jauh lebih sunyi sedang berlangsung.
Dafa telah kembali ke kamar indekosnya yang sempit dan pengap. Ia mengunci pintu rapat-rapat, menyalakan komputer rakitan miliknya, dan memakai tudung jaketnya seolah sedang bersembunyi dari dunia. Matanya yang merah menatap liar ke arah layar monitor ganda yang menampilkan barisan kode.