Hujan deras mengguyur kota sore itu, menyamarkan jejak langkah Dafa yang menyusuri gang-gang sempit dan becek, jauh dari rumah kontrakannya maupun rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Tudung jaket hitamnya ditarik hingga menutupi separuh wajah. Matanya awas menatap sekeliling, dihantui paranoia bahwa setiap kamera CCTV di pinggir jalan sedang merekam pergerakannya.
Tick. Tock. Aku melihatmu.
Kalimat ancaman dari peretas anonim itu terus berdengung di telinganya bagai mantra kematian. Empat puluh enam jam tersisa.
Dafa berhenti di depan sebuah warung internet (warnet) kumuh yang buka 24 jam. Papan namanya sudah pudar, dan dari dalam terdengar hiruk-pikuk anak-anak sekolah yang sedang bermain game online sambil mengumpat kasar. Udara di dalam pengap, bercampur bau asap rokok dan seduhan mi instan cup. Ini adalah tempat yang sempurna. Di tengah puluhan IP address publik yang terus berganti dan riuhnya lalu lintas data game, jejak Dafa akan sangat sulit diisolasi.
Ia melangkah ke meja operator. Seorang pemuda kurus berkaus oblong lusuh menatapnya sekilas sambil terus mengisap rokok.
"Biling berapa jam, Bang?" tanya operator itu malas.
"Paket malam. Bebas sampai pagi," jawab Dafa serak, menyodorkan selembar uang lima puluh ribuan yang lecek. "Sama minta kartu SIM sekali pakai yang sudah teregistrasi. Satu saja."
Pemuda itu mendengus pelan, menerima uang tersebut lalu melemparkan sebuah bungkus kartu SIM ke atas meja kaca yang lengket. "Bilik 12. Paling pojok mentok tembok. Kipasnya agak mati, jadi panas."