The Grey Area: Garis Batas Realita

Abdul Djafar K Yahya
Chapter #27

Bab 26 Badai di Layar Kaca

Jam di sudut kanan bawah monitor warnet menunjukkan pukul 21.45 WIB. Hujan di luar belum juga reda, seolah alam sedang menyembunyikan rencana besar yang tengah dirakit Dafa di sudut bilik yang pengap itu.

Dafa mematikan sebatang rokok yang baru diisapnya setengah. Asapnya mengepul ke langit-langit, berbaur dengan ketegangan yang mendidihkan darahnya. Jari-jarinya menari di atas keyboard plastik yang lengket, mengetikkan barisan skrip otomasi dengan kecepatan yang belum pernah ia capai seumur hidupnya.

Ia tidak sedang membongkar brankas digital kali ini. Ia sedang merakit sebuah meriam.

Langkah pertama, Dafa mengunggah seluruh dokumen korupsi pengadaan alat kesehatan Bupati Haryo—lengkap dengan bukti mark-up harga dan nama perusahaan cangkang—ke berbagai peladen awan terdesentralisasi dan jaringan torrent. Jika satu tautan mati, masih ada seratus tautan lain yang hidup. Dokumen itu kini tidak bisa dilenyapkan oleh siapa pun, bahkan oleh Dafa sendiri.

Langkah kedua, amunisi. Dafa memanggil kembali ribuan "pasukan zombi" atau botnet yang pernah ia ternakkan saat masih bermain di dunia pemasaran gelap. Ini adalah ribuan akun media sosial palsu yang tersebar di berbagai platform: X, Instagram, TikTok, hingga grup-grup Telegram berskala besar.

Langkah ketiga, pelatuknya. Dafa membuka Notepad baru. Ia harus merangkai sebuah pesan yang tidak hanya akan menghancurkan sang bupati, tetapi juga membersihkan nama seorang gadis miskin yang sedang menangis di sel tahanan.

Dafa mengetikkan pesannya dengan jari yang mantap:

KEBENARAN DI BALIK PERETASAN SERVER PEMPROV.

Kepada seluruh rakyat dan media.

Lihat selengkapnya