The Grey Area: Garis Batas Realita

Abdul Djafar K Yahya
Chapter #28

Bab 27 Gelombang Kejut

Udara di ruang dekanat terasa menyesakkan. Anggun duduk bersandar dengan tatapan kosong, mengusap punggung Nisa yang sedari tadi tak berhenti gemetar. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam. Para penyidik siber dari Mabes Polri mulai tampak frustrasi karena tidak mendapat pengakuan apa pun dari kedua mahasiswi tersebut.

Penyidik wanita itu baru saja membuka mulut untuk melontarkan pertanyaan tajam berikutnya, ketika tiba-tiba, ponsel pintarnya yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan rentetan notifikasi beruntun.

Detik berikutnya, ponsel penyidik pria di sebelahnya ikut berdering nyaring. Lalu ponsel sang dosen pembimbing. Dalam hitungan detik, seluruh ponsel di ruangan itu seolah berteriak secara bersamaan.

Penyidik wanita itu mengernyitkan dahi, meraih ponselnya dengan kasar. Namun, saat matanya membaca rentetan pesan dari grup komando pusat dan melihat tautan berita yang dikirimkan atasannya, wajah garangnya seketika pias. Darahnya seakan surut.

"Pak," bisik penyidik wanita itu, menyodorkan layar ponselnya ke rekan seniornya dengan tangan bergetar. "Bapak harus lihat ini. Sekarang juga. Tagar di X... data lelang Pemprov... semuanya bocor ke publik."

Penyidik pria itu merampas ponsel tersebut. Matanya membelalak membaca manifesto 'The Grey' yang kini telah dibagikan ulang ratusan ribu kali. Ia melihat nama Bupati Haryo, rincian mark-up alat kesehatan, dan yang paling mengejutkan: pernyataan tegas bahwa Nisa hanyalah proksi—kambing hitam—dari konspirasi politik ini.

Ruang yang tadinya tegang oleh interogasi, kini dipenuhi kepanikan instruksional.

"Telepon komandan! Segel laptop ini sebagai barang bukti kejahatan korupsi tingkat tinggi, bukan sekadar peretasan!" perintah penyidik pria itu seraya berdiri tergesa-gesa, menatap Nisa dengan pandangan yang sama sekali berbeda—bukan lagi sebagai tersangka, melainkan saksi kunci.

Lihat selengkapnya