The Grey Area: Garis Batas Realita

Abdul Djafar K Yahya
Chapter #29

Bab 28 Kembali ke Titik Nol

Hujan badai seolah menjadi sekutu satu-satunya bagi Dafa malam itu. Derasnya air menyapu jejak sepatunya di trotoar, sementara petir yang menyambar menutupi suara langkahnya yang tergesa-gesa. Dafa berjalan menembus gang-gang sempit dan gelap di pinggiran kota, menjauhi jalan raya utama yang mungkin dipenuhi kamera pengawas (CCTV).

Tudung jaketnya basah kuyup, air menetes dari ujung hidung dan dagunya. Tubuhnya menggigil kedinginan, namun otaknya terus berpacu. Empat puluh jam. Ia tidak bisa pulang ke kontrakan. Ia tidak bisa kembali ke rumah sakit. Polisi siber atau orang-orang suruhan Bupati Haryo pasti sedang menyisir tempat-tempat yang terdaftar atas namanya.

Langkahnya akhirnya berhenti di depan sebuah ruko usang berlantai dua yang terjepit di antara deretan warung pecel lele dan bengkel motor. Papan kayu di atas pintu rolling door yang tertutup rapat itu bertuliskan cat pudar: Klinik Komputer Bang Edi - Servis & Rakit PC.

Tempat ini tidak ada dalam catatan sipil kepolisian sebagai tempat yang berafiliasi dengan Dafa. Namun di sinilah, enam tahun lalu, Dafa remaja yang putus asa karena tidak punya uang untuk kuliah, menghabiskan waktu berbulan-bulan menjadi asisten tak dibayar hanya agar bisa menggunakan komputer bekas untuk belajar bahasa pemrograman. Bang Edi adalah mentor jalanannya.

Dafa mengetuk rolling door besi itu dengan pola khusus: dua ketukan cepat, jeda, lalu tiga ketukan lambat. Pola lama yang masih ia ingat di luar kepala.

Butuh waktu dua menit sebelum terdengar suara gerendel besi dibuka dari dalam. Pintu terangkat sebatas lutut, memperlihatkan wajah pria berumur pertengahan empat puluhan dengan rambut gondrong yang diikat asal-asalan, mengenakan kaus oblong pudar berbau asap rokok dan timah solder.

"Siapa malam-malam...?" Bang Edi menyipitkan mata, sebelum akhirnya terbelalak. "Dafa? Astaga, Le, kau seperti gembel basah. Masuk cepat!"

Lihat selengkapnya