Jarum jam di dinding kios Bang Edi menunjukkan pukul 09.20 WIB. Suara deru mesin kendaraan di jalan raya depan kios terdengar seperti biasa, sebuah ironi bahwa dunia tetap berputar normal sementara dunia Dafa akan segera berhenti.
Dafa berdiri di depan cermin kecil yang buram di dekat wastafel. Ia merapikan kerah kausnya yang kusut dan menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari. Ia ingin terlihat layak. Ia tidak ingin ditangkap sebagai gembel jalanan yang ketakutan, melainkan sebagai pria yang tahu pasti apa yang ia lakukan.
Ia berjalan ke depan, menghampiri meja kasir. Bang Edi sedang merakit sebuah sasis komputer baru.
"Bang," ucap Dafa, memecah keheningan. "Terima kasih buat tumpangannya semalam. Dafa pamit sekarang."
Bang Edi menghentikan putaran obengnya. Ia menatap Dafa dengan tatapan penuh selidik, lalu melirik ke luar jendela kaca kiosnya. Di seberang jalan, dua unit mobil Kijang Innova berwarna hitam tanpa pelat dinas kepolisian baru saja menepi secara perlahan. Tidak ada sirene. Tidak ada lampu strobo. Hanya dua mobil biasa yang membawa orang-orang luar biasa.
"Teman-temanmu yang menjemput?" tanya Bang Edi pelan, suaranya berat. Insting pria paruh baya itu menangkap ada yang tidak beres dari gestur tubuh orang-orang berpotongan cepak yang mulai turun dari mobil tersebut.
Dafa tersenyum tipis, senyuman yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan selama berminggu-minggu terakhir.
"Bukan, Bang. Itu tagihan yang harus Dafa bayar," jawab Dafa tenang. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel sekali pakainya dan meletakkannya di atas meja Bang Edi. "Bang, tolong bantu buang ponsel ini ke tempat sampah nanti. Dafa nggak butuh ini lagi."