Ruang rawat inap kelas tiga itu terasa lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Bapak sedang bersandar di bantalnya yang dinaikkan, kulit wajahnya perlahan mulai memerah sehat, tidak lagi sepucat kertas. Mesin monitor jantung di sebelahnya berdetak dengan ritme yang stabil dan menenangkan. Di kursi plastik samping ranjang, Ibu sedang mengupas buah apel, sementara Riko asyik menunduk menatap layar ponselnya di sudut ruangan.
Tidak ada yang tahu bahwa di luar dinding rumah sakit, nama anak sulung kebanggaan mereka sedang menjadi buah bibir satu negara.
Ketukan pelan namun tegas di pintu memecah keheningan. Pintu berderit terbuka, menampilkan dua pria tegap berpakaian kemeja rapi dan berjaket. Wajah mereka serius, namun sama sekali tidak memancarkan aura mengancam.
Ibu menghentikan pisau kupasnya, menatap kedua tamu tak diundang itu dengan dahi berkerut. "Cari siapa, ya, Pak? Dokter jadwal visit-nya masih nanti sore."
Salah satu pria itu—yang terlihat lebih senior—melangkah maju, mengeluarkan dompet kulit dari saku jaketnya, dan menunjukkan lencana kepolisian berwarna perak yang mengilap.
"Selamat pagi, Bapak, Ibu. Kami dari unit reserse kepolisian," ucap pria itu dengan nada yang sangat sopan dan tenang, matanya menatap Bapak yang langsung menegang di atas ranjang. "Mohon maaf mengganggu waktu istirahatnya. Kami ditugaskan secara khusus untuk datang kemari... membawa kabar tentang putra sulung Bapak, Dafa Suyanto."
Pisau dan separuh apel di tangan Ibu terlepas, jatuh bergemerincing ke piring alumunium. Riko langsung berdiri dari kursinya, ponselnya nyaris tergelincir dari genggaman.
"Dafa? Ada apa dengan anak saya, Pak?" suara Bapak bergetar, tangannya refleks meremas selimut rumah sakit. "Dia kecelakaan? Dia kenapa?!"