Langkah Anggun terseok-seok menyusuri lorong RSUD siang itu. Rambutnya berantakan, matanya bengkak dan merah karena terlalu banyak menangis sejak dari kantor polisi. Setengah jam yang lalu, ia melihat Nisa berjalan keluar dari ruang tahanan, memeluk ibunya yang menanti di lobi sambil bersujud syukur. Nisa bebas. Nama baiknya dibersihkan oleh pihak kepolisian lewat konferensi pers dadakan.
Namun di balik kebebasan itu, Anggun tahu ada harga tak kasat mata yang baru saja dibayar lunas oleh kakaknya.
Saat Anggun berbelok ke lorong bangsal kelas tiga, langkahnya terhenti. Di depan pintu kamar rawat bapaknya, berdiri dua pria tegap berjaket kulit yang menatap awas ke sekeliling. Penjagaan polisi berpakaian preman. Anggun menelan ludah yang terasa sepahit empedu. Kakaknya benar-benar memikirkan segalanya hingga detik terakhir.
Anggun mengangguk pelan pada kedua polisi itu, lalu mendorong pintu kamar dengan tangan gemetar.
Pemandangan di dalam ruangan itu langsung menghantam dada Anggun seperti palu godam. Ibunya sedang duduk memeluk lutut di lantai samping ranjang, menangis tanpa suara dengan bahu berguncang hebat. Riko, adiknya yang selalu bersikap semaunya sendiri, kini duduk tertunduk di sudut ruangan, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangan.
Dan di atas ranjang, bapak menatap kosong ke arah langit-langit. Air mata terus mengalir dari sudut matanya yang keriput, membasahi bantal rumah sakit yang putih pucat.
"Bapak... Ibu..." panggil Anggun dengan suara serak, nyaris tak terdengar.
Mendengar suara putrinya, Ibu langsung mendongak. Wanita paruh baya itu merangkak bangun dan berhambur memeluk Anggun. Tangis Ibu pecah meledak di bahu putrinya.