Ruang besuk tahanan Kejaksaan Negeri itu berbau karbol yang tajam, dingin, dan dibatasi oleh meja panjang bersekat kaca akrilik yang tebal. Di satu sisi meja, keluarga Suyanto duduk berjejer di kursi besi yang dingin. Di sisi lain, sebuah pintu terali besi berderit terbuka.
Dafa berjalan masuk, didampingi seorang sipir. Ia duduk di kursi seberang keluarganya. Senyum tipis mengembang di wajahnya yang kini tampak lebih damai dari sebelumnya. Melalui lubang-lubang kecil di kaca akrilik pembatas, suara mereka bisa saling terdengar.
Ibu adalah yang pertama menempelkan telapak tangannya ke kaca, air matanya menetes tanpa bisa ditahan. Dafa menempelkan tangannya sendiri dari sisi dalam, seolah membalas sentuhan ibunya.
"Ibu jangan nangis terus. Nanti cantiknya luntur," goda Dafa pelan, suaranya sedikit serak. "Dafa di sini makan teratur, Bu. Tidurnya juga nyenyak, nggak perlu mikirin cicilan pinjol lagi."
Candaan getir itu membuat Ibu tertawa kecil di sela isakannya. Bapak, yang duduk di sebelah Ibu, menatap Dafa lekat-lekat.
"Tadi di ruang sidang... kamu hebat, Le," puji Bapak, suaranya parau namun penuh ketegasan. "Bapak nggak pernah sebangga ini sama kamu. Maafkan Bapak yang baru tahu beratnya bebanmu setelah punggungmu patah."
"Nggak ada yang patah, Pak. Semuanya utuh. Bapak sehat, itu yang paling penting," balas Dafa, matanya berkaca-kaca menatap wajah ayahnya yang kini tak lagi pucat. Ia lalu melirik Riko yang sedari tadi menunduk. "Ko, jaga Bapak sama Ibu. Sekarang kamu laki-laki paling tua di rumah."