⚜⚜⚜
Beberapa menit sebelumnya, Alger dan Duncen berlari dengan sangat cepat. Kesunyian di kawasan utara membuat keduanya tidak tenang. Saat sampai di depan rumah Louisa pemandangan berdarah langsung menyambut keduanya. Alger yang sampai terlebih dahulu hanya bisa terdiam menatap genangan darah di sekitar. Telinga pemuda itu menangkap suara monster dari dalam rumah. Dirinya hendak berlari ke dalam rumah, tetapi Duncen yang muncul di belakang segera menghentikan.
"Duncen! Lepas!" Alger berseru marah.
Duncen menggeleng dan menatap tajam. "Tenang dulu! Aku tau kita harus segera mencari Louisa. Akan tetapi, jika kita masuk tanpa senjata sama saja dengan bunuh diri."
Alger yang tadinya berontak kini terdiam. Mata pemuda itu kembali menatap pada rumah Louisa yang mengeluarkan aura menyeramkan. “Dia pasti selamat.”
“Tentu saja. Louisa itu kuat. Kita amati situasi dulu!" ujar Duncen berjalan pelan ke arah rumah Louisa melalui celah pepohonan. Keduanya terhenti saat melihat anak panah tertancap tepat di jantung monster kadal di teras.
“Bukankah itu milik Louisa? Dia sangat ahli dalam panah,” ungkap Duncen melirik sekitar.
Alger mengangguk saat mereka mulai dekat dengan rumah Louisa. “Sepertinya dia ada di lantai dua.”
Saat keduanya masih sibuk berdiskusi, mereka dikejutkan dengan suara monster dari dalam rumah. Duncen segera maju dan mengintip dari tembok samping rumah. Mata biru pemuda itu melebar saat melihat Louisa bergelantungan di luar jendela dengan monster kadal yang mengejar dari jendela.
Alger yang melihat itu segera berlari dan memanggil nama Louisa dan tepat saat gadis itu jatuh di dalam dekapannya. Alger melihat mata Louisa yang terbuka perlahan dan kemudian tertutup kembali. Duncen yang baru sampai di dekat keduanya segera mendongak dan melihat satu monster kadal yang berusaha keluar dari jendela.
"Alger!" Duncen menunjuk ke atas, tepat ke arah monster kadal yang menggeram pada mereka.
Alger melirik senapan yang ada di punggung Louisa dan memberikannya pada Duncen. Pemuda itu mulai berlari menjauh sambil menyamankan Louisa dalam dekapannya. “Tembak, Duncen!”
Duncen memposisikan senapan di tangannya kea rah sang monster yang masih berusaha keluar, sedetik kemudian suara tembakan bergema di sekitar mereka. Peluru itu berhasil menghentikan pergerakan sang monster. Setelah memastikan monster itu mati, Duncen segera menyusul Alger.
“Bagaimana?” tanya Alger saat Duncen berlari di sampingnya.
Pemuda dengan kulit gelap itu mengangguk dan tersenyum puas. “Beres. Sekarang kita ke mana?”
Alger melirik sekitar dengan gusar, angin berhembus membawa bau amis dari arah rumah Louisa di belakang mereka. “Kawasan ini sudah tidak aman. Bagaimana kalau kita kembali ke alun-alun kota?”
Duncen mengangguk samar dan segera memimpin jalan. “Tidak masalah, tapi kita butuh persediaan. Kita bisa mampir ke rumahku dulu. Ayo!”
Alger mengikuti di belakang sambil sesekali melirik Loiusa yang tampak tenang dalam gendongannya. Mata coklat pemuda itu menyapu suasana sekitar yang semakin sepi. Duncen yang berjalan mendahului Alger tiba-tiba berhenti dan memberi isyarat kepada pemuda itu untuk ikut berhenti. Duncen secara perlahan mundur diam-diam dan berdiri di samping Alger.
"Di sini juga tidak aman. Kita harus lari!" Duncen berbisik, berusaha tetap tenang.
Alger memandang tajam ke depan. "Ada berapa di sana?"
Duncen menggenggam erat senapan di tangan. "Tiga dan mereka lebih besar dari yang tadi."
Alger kembali melirik Louisa dan mundur perlahan. "Mundur perlahan dan jangan lari, mereka akan mendengarnya,"
Duncen mendengus seraya menyiapkan senapan di tangan. “Aku tahu! Kamu fokus saja dengan Louisa!”
Keduanya mundur secara perlahan, menjauh dari tiga monster yang siap menerkam kapan saja. Berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada mereka, salah satu monster kadal berbalik membuat keduanya membeku. Tanpa pikir panjang Alger berlari terlebih dahulu, sedangkan Duncen di belakangnya bersiap dengan senapan.
“Tahan sebisamu!” titah Alger dan dibalas anggukan oleh Duncen.