The Guards : Survive in The World

White Blossom
Chapter #4

03 - Kekacauan (1)

⚜⚜⚜

Pagi kembali datang, tetapi dengan suasana yang berbeda. Alger bangun dari tidurnya lalu mencari Louisa dan Duncen. Keningnya berkerut saat tidak menemukan Louisa di dalam gua, dengan Langkah gontai Alger bangkit berdiri dan melirik sekitar. Telinganya segera menangkap suara aneh di luar gua dan saat Alger memeriksa, dirinya terkejut Ketika melihat Louisa berlatih dengan panahnya.

“Louisa?”

Gadis itu menoleh dan memandang Alger dengan wajah tenang. “Maaf, apa aku membangunkanmu?”

Alger mendekat seraya menggeleng. “Tidak juga. Memang sudah jam bangun tidurku.

Matahari perlahan terbit dan menerangi suasana sekitar. Alger bersandar di salah satu pohon dan memandang Louisa yang terus berlatih panah. Satu hal yang ada di pikiran Alger Adalah apakah Louisa tidak Lelah? Apa mungkin gadis itu memaksakan dirinya kembali?

Saat Alger hendak bertanya, mulutnya mendadak bisu karena suara lain yang hadir dari perutnya. Louisa yang mendengar hal itu menoleh dan bertemu pandang dengan Alger yang malu seraya mengusap belakang leher. “Itu hanya panggilan alam.”

Louisa hanya tertawa kecil dan mengajak pemuda itu untuk mencari bahan makanan, sementara Duncen masih nyenyak dalam tidur mungkin karena luka yang didapatnya.

“Alger, bisa masak, kan?” tanya Louisa membawa beberapa kayu bakar.

Alger mengangguk samar dan menjawab asal. “Ya bisa sih.”

Louisa menoleh dan memandang Alger yang jelas menghindari pandangannya. “Kenapa kamu terdengar ragu?”

Pemuda itu tidak langsung menjawab, hanya tertawa canggung sambil membantu Louisa menyusun kayu bakar. “Bukan masalah besar, hanya tidak suka terkena minyak panas. Kamu bisa masak kan, Louisa?”

“Bisa.”

Alger mengangguk mantap, sudah menduga hal tersebut. “Syukurl-”

“Masak air,” potong Louisa seraya merapikan kayu bakar terakhir dan menoleh ke arah Alger. Pemuda itu terdiam dan kemudian tertawa terbahak-bahak. Tawa yang menggema dan menjadi alarm bangun tidur untuk Duncen yang segera berlari keluar dengan wajah panik.

“Ada apa?” tanya Alger memandang Duncen yang terlihat kesal.

Pemuda berkulit gelap itu mendengus kesal. “Kalian dari mana saja? Aku panik karena suara tawa yang menggema itu! Aku pikir itu monster bar-”

Duncen menghentikan kalimatnya saat melihat Alger yang gugup dan Louisa yang tertawa kecil. Tidak perlu dua kali bagi Duncen untuk tahu jawabannya. “Astaga, Alger! Tawamu mengerikan sekali!”

Alger berbalik memandang Duncen. “Apa maksudmu?”

Percakapan keduanya dihentikan oleh Louisa yang baru saja selesai menyalakan api. “Jangan hanya berdebat! Ayo, sini bantu!”

Duncen segera mengambil alih, karena hanya dirinya yang ahli memasak. Ketiganya segera mengisi perut saat harum masakan Duncen menguap di udara. Ketiganya segera berpindah tempat, berjalan menyusuri kawasan hutan bagian utara kota. Suasana sangat sepi, tidak ada satu pun hewan atau manusia yang di jumpai. Saat sampai di kota suasana kacau langsung menyambut ketiganya. Rumah, fasilitas kota yang hancur dan ada banyak jejak darah.

“Apa yang terjadi?” tanya Louisa sambil mengamati sekitar. Duncen yang berjalan paling depan menemukan petunjuk, remaja berkulit gelap itu menemukan jejak kaki monster. Dengan langkah pelan ketiganya kembali berjalan menyusuri pusat kota yang hancur sembari mengambil beberapa barang yang bisa dijadikan senjata.

Lihat selengkapnya