⚜⚜⚜
Ruangan itu sunyi saat angin menembus kulit ketiganya. Duncen melirik ke arah lubang di pintu besi dan melirik ke arah Alger serta Louisa. “Apa kalian ada rencana lain?”
Louisa melirik sekitar dan kemudian berseru. “Aku ingat! Ada arsip yang mengatakan jika bangunan ini punya jalan rahasia.”
Alger bertanya seraya melirik Duncen. “Di mana?”
Louisa kembali diam dan mengingat-ingat. Waktu mereka semakin sempit saat monster di luar semakin gencar menembus pintu. Louisa meraih kertas yang tercecer di lantai “Catatan itu hanya bilang disalah satu ruangan penting di bangunan ini. Sebentar.”
Saat terdesak, gerbang kegelapan akan menuntunmu keluar dan menyelamatkanmu menuju cahaya. Carilah jalan itu dengan menemukan ruangan yang menjadi jantung dari segalanya
Louisa melirik Duncen dan Alger setelah selesai membaca kertas itu. “Itulah katanya.”
“Apa kita masih punya waktu untuk berpikir?” Duncen bertanya dan Alger yang kini berada di dekat jendela mengangguk seraya memandang kerumunan monster yang berjarak sekitar 1,5 km dari mereka.
Duncen mengangguk lalu mengambil kertas dari tangan Louisa yang fokus memandang ke arah pintu besi yang berlubang. Gadis itu melirik ke arah senjata mereka dan kembali memandang kerumunan monster di luar jendela.
“Kita membutuhkan tambahan senjata,” ujar Louisa membuat Alger menoleh dan mendekat, sedangkan Duncen masih sibuk berpikir.
“Apa yang kamu butuhkan, Louisa?” tanya Alger ikut memandang ke arah pintu besi, tempat di mana monster yang mencoba masuk berhasil mereka kalahkan.
Louisa memandang sekitar, mencari apa pun yang bisa menjadi senjata. “Aku rasa pecahan kaca di sana bisa membantu dan aku juga butuh tombak.”
Duncen mengangguk dan mendekat. Siap untuk menyampaikan rencananya. “Aku rasa semua itu ada di sini.” Sebelum Alger sempat menyela, Duncen kembali bersuara. “Arsip itu berkata ruangan yang menjadi jantung dari segalanya, bukankah itu merujuk pada ruangan arsip ini. Tempat di mana semua berkas dan sejarah tersimpan.”
Louisa mengangguk sementara Alger melirik sekitar. “Ya kurasa itu juga tepat, tapi di mana?” Alger kembali bertanya.
“Apanya?”
Alger mendengus dan berbalik memandang Duncen. “Kuncinya, Duncen! Jika di sini ada ruangan rahasia bukankah harus ada kunci untuk membukanya?”
“Ah, iya kamu benar.”
Alger menghela napas dan berbalik ke belakang mencari keberadaan Louisa. “Bagaimana pendapatmu, Louisa?”
Namun, tidak ada siapa pun di belakang keduanya. Hanya hening dan kosong, sedangkan kerumuman monster di luar bangunan semakin mendekat membuat keduanya kian panik. Duncen segera menyadari jika Louisa kemungkinan ke luar ruangan untuk mencari tambahan senjata bagi mereka.
“Dia itu keras kepala sekali!” erang Alger berusaha mengendalikan emosi dan rasa khawatirnya.
Duncen mengangguk dan mengusap wajah. Merasa frustasi dengan sikap Louisa yang selalu suka mengincar bahaya. Duncen menyadari ekpresi rumit Alger dan pemuda itu segera berjalan menyusuri ruangan membuat Alger menoleh menatapnya. “Kita harus mencari kunci itu dulu dan ketika Louisa kembali kita bisa langsung pergi,”