⚜⚜⚜
“Bangun kalian para lekaki.” Suara Louisa memecah hening di lorong bawah tanah itu. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, kegelapan tidak memberikan jawaban tentang waktu yang mereka lewatkan.
Alger adalah orang pertama yang merespon seraya bergelung mencari kenyamanan. “Lima menit lagi.”
Louisa mendengus dan melirik Duncen yang beranjak duduk. “Bangun atau aku tinggal, Alger!”
Alger menggerutu dan beranjak bangun. “Apa sudah pagi? Bisa saja di luar sana masih malam, kan?”
Louisa menghela napas sambil mengemasi beberapa senjata di dekatnya. “Apa tuan muda Alger tidak bisa mendengar suara riuh burung dan ayam di luar sana?”
Duncen hanya tertawa kecil saat Alger yang belum terlalu bangun berusaha mencerna suara sekitar. Tak lama pemuda bermata coklat itu mengangguk. “Oh, iya. Benar juga.”
Tanpa membuang waktu ketiganya kembali bergerak. Menyusuri lorong dengan lebar 3 meter, tetap berjalan meski pencahayaan yang remang sambil melirik kanan dan kiri. Louisa melirik Alger yang sejak tadi mengerutkan kening. “Ada apa?”
Pemuda dengan mata coklat itu menoleh. “Bukankah ini terlalu sunyi?”
Louisa mendengus seraya menendang kerikil kecil di depannya. “Tentu saja sunyi karena kita ada dibawah tanah, Alger. Ada apa denganmu?”
“Bisakah kalian berdua diam? Kalau ada yang mendengar suara kita bagaimana?” Duncen akhirnya bersuara, menjadi penengah dari adu mulut keduanya. Louisa dan Alger kembali diam, tidak ingin memancing amarah Duncen.
Saat ketiganya kembali berjalan, Duncen tiba-tiba berhenti dan menunjuk ke atas. “Alger, aku rasa cahaya yang kamu lihat kemarin itu ini.”
“Sudah aku bilang, bukan? Itulah kenapa aku memastikan kebenaran ucapanmu kemarin itu, Alger!” ungkap Louisa seraya mendongak memandang langit dari celah gorong-gorong di atasnya.
Alger yang tidak ingin disalahkan kembali bersuara. “Di mana salahnya? Yang pentingkan cahaya!”
Duncen menghela napas dan berbalik memandang Alger yang mengerutkan kening. “Itu benar, tapi ini jelas bukan jalan keluar kita, Alger! Kenapa kamu tidak memastikan ini kemarin?”
Perdebatan keduanya segera diredam oleh Louisa. “Pelankan suara kalian! Bagaimana kalau ada monst-”
Kalimat Louisa terputus saat suara geraman monster dari celah gorong-gorong di atasnya. Seekor monster tepat melintas di atas mereka, monster kadal yang sama yang pernah menyerang kawasan rumah Louisa.
“Sepertinya kita ada di pusat kota. Pelankan suara kalian!” bisik Louisa saat bayang-bayang monster kembali melintas di atas mereka.
Lima menit berlalu dan para monster kadal itu tetap berjalan di atas mereka. Sesekali kaki besarnya menutupi celah gorong-gorong membuat ketiga remaja itu berada dalam kegelapan.
“Kakinya besar sekali. Berapa banyak monster yang ada di atas sana?” tanya Alger seraya menggenggam erat senapan di tangan.