⚜⚜⚜
“Padang rumput?”
Ketiga remaja itu menatap sekeliling dengan takjub, padang rumput luas dengan angin yang menyejukkan serta beberapa hewan berlarian bebas di atas padang rumput.
“Kita bisa mencari makanan di sini,” ungkap Duncen menyipitkan mata saat cahaya matahari mengenainya. Rasanya sangat hangat dan menyegarkan.
“Mau makan apa?” Louisa ikut bertanya. Alger dan Duncen menatap sekitar. Hanya hamparan rumput sejauh mata memandang. Tempat yang terlalu terbuka dan bisa memicu bahaya jika mereka tidak segera menemukan tempat berlindung.
Saat memutuskan untuk berjalan ke arah selatan, rasa lelah kian menghambat langkah mereka. Alger terus menerus mengeluh tentang dirinya yang haus membuat Louisa mulai kesal, hingga akhirnya Duncen menemukan sebuah pohon besar yang bisa menjadi tempat mereka berteduh sementara.
“Sejuk sekali.” Komentar Alger seraya meregangkan anggota tubuhnya. Duncen yang duduk di sampingnya hanya tersenyum tipis dan melirik Louisa yang tetap tenang tanpa banyak mengeluh.
Hingga akhirnya Louisa memecah hening di antara mereka. “Sepertinya aku mendengar suara air dari balik pepohonan di sebelah sana!” Louisa yang merasakan keraguan kedua pemuda itu kembali bersuara. “Aku hanya mengatakan apa yang aku dengar.”
Duncen dan Alger saling lirik dan ikut mendekat ke arah Louisa. Keduanya tentu tidak meragukan Louisa, hanya merasa heran karena jarak pepohonan itu terlalu jauh. Setelah berdiam diri cukup lama Duncen akhirnya memutuskan untuk melihat tempat tersebut.
“Pohonnya semakin besar,” ucap Alger memecah hening di antara mereka.
“Apa ada kota setelah ini?” Duncen bergumam menatap sekitar sementara Louisa hanya berjalan dalam diam mengikuti keduanya.
Mereka mulai memasuki rimbunnya pepohonan dengan sedikit cahaya matahari yang masuk. Kanopi tinggi pepohonan menghambat sebagian cahaya, menutup langit di atas mereka sehingga membuat bagian dalam hutan itu sejuk.
“Kurasa di sekitar sini ada sungai,” ujar Louisa. Alger yang berada di belakang segera berhenti begitu pun dengan Duncen.
“Apa kamu tau tempatnya?” Alger bertanya antusias dan Louisa menjawab dengan anggukan kepala.
Saat ketiganya kembali berjalan, langkah Duncen terhenti saat mendengar suara gemerisik dari pohon di sekitar membuat mata biru itu langsung melirik waspada. Alger yang melihat Duncen berhenti segera meneriakinya sehingga pemuda itu kembali berjalan hingga sampai di sebuah sungai kecil dengan air jernih dan beberapa pohon buah di sekitar.
“Makanan!” seru Alger segera berlari, tetapi ditahan oleh Duncen yang menarik kerah bajunya. “Tenang dulu! Apa itu aman?”
Louisa yang mendengar itu ikut melirik sekitar. Gadis itu melangkah maju, mengambil seteguk air dan meminumnya. Tentu saja tindakan itu memicu teriakan Duncen, Louisa hanya menoleh santai dan menunjuk beberapa hewan yang ikut minum di dekatnya menandakan jika air itu aman dikonsumsi.
“Apa yang kamu pikirkan, Duncen?” tanya Louisa berbalik ke arahnya.