⚜⚜⚜
Gelap, dingin, dan sakit. Hal itulah yang dirasakan Alger saat pemuda bermata coklat itu membuka mata dan menemukan dirinya berada di ruangan yang lembab dengan beberapa besi di sekitar.
“Apa ini di penjara?” Alger bergumam pelan seraya melirik sekitar. Seluruh tubuhnya sakit saat bangkit berdiri. “Louisa, dia ada di mana?”
Alger melirik sekitar dan tersentak saat tangannya taanpa sengaajaa menyentuh besi di depan mata yang langsung menghantarkan listrik ke seluruh tubuh. Alger mengerang kesal saat menemukan kegelapan sejauh mata memandang, lalu kembali bersandar pada dinding di belakangnya. Saat Alger hendak berjalan mengelilingi ruangan, suara langkah kaki bergema ke arahnya dan Alger segera kembali ke tempat tidur, berpura-pura pingsan sambil mengumpulkan informasi.
“Anak ini masih belum bangun?” tanya sebuah suara yang terdengar paling dekat dari penjara Alger.
“Lemah!” ucap suara lainnya dingin.
Suara lainnya kembali terdengar dan Alger berusaha tetap tenang sambil mengumpulkan informasi. “Dua lainnya bagaimana?”
“Anak kulit gelap itu sudah sadar dan yang satu lagi belum, kukira lukanya parah.”
Saat orang-orang itu berjalan menjauh meninggalkan Alger, pemuda itu segera bangkit dan mendekat ke arah besi-besi di depan mata. “Luka? Siapa yang terluka?”
Saat sedang sibuk dalam pikirannya sebuah kaca kecil terbang dan mengenai sepatu Alger yang langsung memungutnya dan menatap bingung. Pecahan kaca itu serupa dengan milik Louisa.
“Hei, Alger!”
Alger terkejut dan segera mendekat ke arah jeruji besi, berhati-hati agar tidak tersentrum dan mata coklatnya melebar ketika melihat Duncen ada di sisi yang berlawanan. “Duncen!”
“Shhh ... pelankan suaramu!”
Alger mengangguk dan segera mengunci mulutnya, tetapi tatapan matanya jelas menyiratkan kelegaan dan antusias. Mata coklatnya memandang Duncen, menghela napas lega karena sahabatnya tidak terluka selain perban tipis yang melingkari leher. Meskipun suasana cukup remang dan gelap, Alger tetap bisa melihat semuanya dengan jelas karena kebanyakan remaja-remaja seperti mereka sering berlatih dalam kegelapan.
“Sepertinya kamu baik-baik saja, Alger. Bagaimana dengan Louisa?”
Alger diam dan kembali mengingat apa yang terjadi, tetapi yang diingat pemuda itu hanya suara-suara berisik serta tembakan dan juga suara Louisa yang berteriak ke arahnya.
“Apa ... mereka memukul kepalamu?” Duncen bertanya dalam kegelapan karena pemuda itu pun bisa melihat kondisi Alger yang berada di seberangnya.
Alger hanya mengangguk samar dan bersandar di dinding. Duncen yang melihat kekhawatirannya ikut bersuara. “Tidak usah memaksakan diri, Alger. Aku yakin Louisa pasti baik-baik saja.”
***
Di sebuah ruangan dengan nuansa putih, seorang gadis terbaring tak sadarkan diri dengan selang dan beberapa perban menutupi bagian tubuhnya, terdapat juga rantai yang mengikat kaki kiri dan tangan kanannya menuju tempat tidur besi. Tak lama pintu ruangan terbuka dan masuklah beberapa orang dengan seragam hitam. “Gadis ini?”
Beberapa orang mengangguk. “Ya, kenapa? Apa kita perlu kumpulkan dengan rekannya yang ada di sel?”
Pria lainnya mengangguk. “Boleh juga. Bawa mereka ke aula bagian belakang.”
“Lalu gadis ini?”
Pria lainnya dengan ikat kepala merah mendengus sambil berjalan keluar ruangan. “Gunakan otak kecil kalian itu!”