⚜⚜⚜
“Mulai saat ini kalian akan tinggal di asrama. Jangan banyak tanya, istirahatlah dan besok tunjukkan kemampuan terbaik kalian!” perintah Albert segera berbalik tanpa membiarkan Alger atau Duncen berpendapat.
Clou hanya tersenyum dan segera membuka pintu. “Semua akan dijelaskan besok. Silahkan masuk anak-anak!”
Pandangan kedua pemuda itu disambut dengan ruang santai yang cukup besar dan jendela di depan mereka. Alger menatap ke kiri dan dibsana terdapat tiga pintu kamar, di sudut kanan terdapat lorong kecil yang mengarah menuju dapur.
“Apa ini tidak berlebihan?” tanya Alger menatap seraya melirik sekitar.
Alvar menggeleng dan masuk ke dalam ruangan diikuti Clou. “Tentu saja tidak. Ini sepadan dengan apa yang akan kalian lakukan.”
Clou tersenyum saat memandang raut wajah keduanya. “Kamar di ujung kanan itu kamar teman perempuan kalian, kami tidak berniat memisahkan kalian. Apa kalian setuju dengan itu?”
Duncen dan Alger serentak mengangguk. Setelah menyampaikan beberapa penjelasan mengenai kegiatan baru mereka ke esokan harinya ruangan itu kembali hening. Duncen melirik Alger yang mendekat ke arah ruangan yang menjadi kamar Louisa, lalu menoleh ke arahnya. “Apa Louisa ada di ruangan ini? Kita buka saja?”
Duncen mengangguk, keduanga membuka pintu kamar dan disambut dengan pemandangan Louisa yang masih terbaring tak sadar. Alger segera mendekat dan menyentuh dahi Louisa, menghela napas lega saat suhu tubuhnya normal.
“Sudah ingat tentang hari itu?” tanya Duncen menatap Alger. Alger hanya menghela nafas dan kemudian menggeleng. Cahaya senja masuk melalui kaca jendela meninggalkan suasana hangat di dalam ruangan. Pertanyaan yang sama juga hadir dibenak Alger, tentang kejadian yang dilupakan dan tentang rasa gelisah tanpa ujung.
Keduanya kembali diam dan menunggu Louisa sadar. Beberapa menit kemudian kelopak mata gadis itu bergerak dan terbuka perlahan, menampilkan mata hijau yang menyesuaikan diri dengan cahaya lampu.
“Kamu baik-baik saja, Louisa? Ada yang sakit?” tanya Alger saat melihat Louisa yang mengerjap.
Duncen mengerutkan kening saat melihat Louisa tidak merespon mereka. “Louisa?”
“Tidak apa-apa. Aku baik.” Gadis itu menjawab pelan. Mata hijaunya beralih memandang Alger dan Duncen yang tampak sehat, terlepas dari beberapa perban yang ada di tubuh.
Duncen kembali bersuara dan melirik Alger. “Aku akan memasak makanan. Tampaknya di sini ada banyak makanan yang bisa kita makan.”
Alger mengangguk dan memandang Duncen yang menghilang di balik pintu, lalu beralih memandang Louisa yang masih melirik sekitar. “Kita ada di asrama Akademi Thien.”
Louisa berbalik memandang Alger, berbagai pertanyaan tampak hadir dari sorot matanya. Alger tersenyum dan memutuskan untuk menjelaskan semua yang dirinya ingat kepada Louisa, termasuk bagian mereka yang diintrogasi dan kegiatan baru yang akan mereka lakukan esok hari.
Louisa mendengarkan semua penjelasan Alger dengan tenang, lalu melirik ke pintu kamarnya saat Duncen muncul sembari membawa nampan berisi 3 mangkuk. Alger menatap berbinar pada mangkuk makanan yang hendak di berikan Duncen padanya, mengepulkan uap panas dan harum yang memanggil tanda peringatan di perutnya.
“Boleh makan sekarang?” tanya Alger.
Duncen hanya menggelengkan kepala dan memberikan satu mangkuk untuk pemuda itu dan satu mangkuk lainnya masing-masing untuk Louisa dan juga dirinya.