The Guards : Survive in The World

White Blossom
Chapter #11

10 - Para Penjaga

⚜⚜⚜

Pagi kembali datang dan Duncen segera membuka mata, memandang langit-langit kamar yang bewarna merah dan lampu gantung di atasnya, mengingatkannya bahwa kini mereka punya ntempat untuk bernaung. Merenggangkan tubuhnya Duncen beranjak keluar kamar hendak membangunkan Alger dan Louisa.

“Apa mereka tidak suka tidur di kasur?” tanya Duncen heran saat mendapati Louisa dan Alger tertidur dengan posisi bersandar satu sama lain di sofa.

Duncen tidak membuang waktu dan melangkah menuju dapur, kembali berkutat dengan bahan-bahan masakan yang ada dan saat bau masakan memenuhi ruangan Alger yang nyenyak dibuai mimpi terbangun.

“Jam berapa sekarang?” Alger bergumam pelan dan mencari jam. Gerakan sederhana itu membuat Louisa yang bersandar padanya terbangun. “Ah, maaf. Aku tidak bermaksud membangunkanmu, Louisa.”

Louisa beranjak dari bahu Alger dan melirik ke arah dapur saat mendengar denting sendok serta harum masakan yang menguap di udara pertanda jika Duncen sudah bangun. “Tidak apa-apa. Sudah waktunya untuk bangun.”

Louisa bangkit berdiri dan berjalan menuju dapur, menghampiri Duncen yang sedang sibuk mengaduk bubur. Duncen menoleh saat melihat Louisa mendekat dan membantunya. “Bagaimana tidurmu, Louisa? Nyenyak?”

“Mungkin itu tidur terbaikku belakangan ini,” jawab Louisa mencari piring untuk sarapan mereka.

Duncen mengangguk puas seraya mematikan kompor. “Itu bagus.”

Louisa melirik Duncen yang sibuk menuang bubur, kondisinya tampak lebih baik dari sehari sebelumnya. Merasakan tatapan Louisa, Duncen menoleh dengan keraguan yang terlihat jelas di matanya. “Louisa, apa yang terjadi dengan kalian saat itu? Kenapa Alger tidak ingat apa pun?”

Louisa menghela napas. “Salah satu diantara orang itu memukul kepalanya dan kurasa itu mempengaruhi memorinya. Memorinya sudah sangat kacau dan pukulan itu hanya mempeparah keadaan. Aku hanya bisa berharap ... memori apa pun yang hilang akan segera kembali padanya.”

Duncen mengangguk setuju dan bersiap membawa nampan menuju ruang tamu tempat Alger berada. Pemuda itu langsung berseru saat melihat Duncen dan tanpa membuang waktu segera mengambil bagiannya. Saat ketiganya menghabiskan bubur buatan Duncen dengan tenang, suara ketukan di pintu memecah hening.

Duncen segera membuka pintu, bertemu pandang dengan seorang penjaga berseragam hitam serta masker hitam yang mengenakan ikat kepala putih tersenyum ramah.

“Selamat pagi. Saya diperintahkan untuk menjemput kalian, apakah sudah siap?”

Duncen membalas sapaan ramah tersebut dengan senyum canggung dan melirik Alger yang mendekat. “Selamat pagi, Pak? Beri kami waktu sebentar. Ayo, Alger!”

Penjaga itu tersenyum tipis saat menyadari keraguan Duncen dalam memanggilnya. “Gunakan pakaian ini dan jangan panggil saya pak. Saya masih muda, oke?”

Lima menit ketiganya mendekat dengan mengenakan pakaian olahraga bewarna hijau daun dengan gradasi garis putih di bagian kiri baju dan celana. Louisa mengikat rambut pirangnya dengan gaya ponytail, sedangkan Alger dan Duncen merapikan rambut mereka seperti biasa. Mereka segera bergerak menuju lapangan, mengikuti penjaga dengan ikat kepala putih itu.

Lihat selengkapnya