⚜⚜⚜
Semua orang terdiam setelah mendengar perkenalan para penjaga di depan mereka. Loiusa melirik orang-orang di sekitar, ada sekitar 20 orang remaja di dekatnya. Mata hijau itu kembali menatap para penjaga didepannya.
“Masing-masing dari kalian sudah dibagi kelompok dan penjaga yang betanggung jawab. Kalian bisa melihatnya di papan lorong lantai satu, kalian boleh istirahat atau menemui penjaga kalian sekarang. Pukul 10.00 nanti kalian akan berkumpul kembali di sini. Sekian, silahkan bubar!” ucap Dua berbalik dan meninggalkan lapangan bersama beberapa penjaga.
“Kita ke mana?” tanya Louisa memandang Duncen yang sedang berpikir. Kerumunan di sekitar mereka bergerak menuju lorong lantai satu berniat melihat pembagian kelompok yang dimaksud Dua.
Duncen tanpa membuang waktu bergerak ke arah yang sama. Tak menyadari jika beberapa meter dari mereka ada sosok lain yang memperhatikan mereka. Saat sampai di depan lorong, keramaian langsung menyambut ketiganya.
“Malasnya,” gumam Alger malas dan membiarkan dirinya terombang-ambing oleh kerumunan.
Duncen hanya diam saat melihat tingkah Alger, sedangkan Louisa berusaha menembus kerumunan. Meskipun tidak berhasil, hingga suara seorang penjaga membuat mereka menoleh. “Masih belum berhasil?”
Ketiganya serentak menoleh dan Alger berseru antusias saat melihat sepuluh. “Tuan Sepuluh!”
Sepuluh tertawa kecil saat mendengar sapaan Alger. “Sudah tahu kalau saya laki-laki, ya? Bagus-bagus, terkadang ada banyak siswa yang ragu dengan gender kami para penjaga. Apa kalian sudah tahu siapa penanggung jawab kalian?”
Duncen menggeleng mewakili suara Louisa dan Alger. Sepuluh yang melihat jawaan itu tersenyum tipis dan mengajak ketiganya untuk menjauh dari kerumunan menuju sebuah taman. “Jangan khawatir. Penanggung jawab kalian itu saya.”
Helaan napas lega terpampang di wajah ketiga remaja itu. Sepuluh yang duduk di kursi taman menoleh ke arah ketiganya. “Ada yang ingin kalian tanyakan?”
“Ada, Tuan,” ujar Louisa mendekat. Sepuluh mengangguk dan mempersilahkan dirinya bersuara. Louisa terdiam sejenak dan kembali bersuara, “Apa di antara para penjaga ada yang perempuan?”
Sepuluh mengangguk sebagai jawaban. “Tentu saja ada. Cara berpakaian para penjaga tidak dibedakan dan yang hanya mengetahui gender asli mereka hanya orang-orang tertentu.”
Louisa mengangguk, sudah menduga dengan jawaban tersebut. Meskipun sebagian penjaga mengenakan masker yang menutupi wajah dan hanya menyisakan mata serta ikat kepala sebagai identitas. “Lalu apa warna mata para penjaga itu asli?”
Kening Sepuluh sedikit berkerut mendengar pertanyaan Louisa. “Kenapa kamu menanyakan itu, Nona?”
“Saya hanya penasaran,” jawab Louisa sekenanya, sedangkan Duncen serta Alger bertukar pandang ragu. Jelas menyadari ada maksud yang dalam dari pertanyaan Louisa.
Sepuluh melirik sekitar dan kembali memandang Louisa. “Saya tidak bisa mengatakan apa pun tentang hal ini, karena itu rahasia dan aturan yang harus kami simpan sebagai seorang penjaga. Rasa penasaran itu wajar, tetapi jangan sampai menimbulkan kecurigaan para penjaga lainnya, mengingat latar belakang kalian sampai di tempat ini.”
Louisa mengangguk dan menunduk sopan. “Saya minta maaf, Tuan Sepuluh.”
Sepuluh hanya tersenyum dan tidak mempermasalahkan hal tersebut, lalu beralih memandang Alger serta Duncen yang banyak diam. “Apa kalian sudah berkenalan dengan siswa lainnya?”