⚜⚜⚜
Lima dan Conary serentak mengerutkan kening, sedangkan Louisa membenarkan peryataan Duncen. “Itu benar, tetapi lorong itu langsung runtuh saat kami sampai disebuah persimpangan.”
Lima kembali mengangguk dan menyudahi pertemuan mereka sekaligus mengingatkan keempat remaja tersebut tentang agenda latih tanding keesokan hari. Mereka kembali berjalan menuju asrama dalam hening. Tak ada satu pun yang tertarik membuka suara.
“Sampai jumpa besok,” ucap Conary saat mereka berpisah di lantai satu.
Suasana asrama yang mulai sepi membuat Alger dan yang lain segera beranjak menuju kamar mereka untuk istirahat. Menuju lantai dua ketiganya berpapasan dengan seorang remaja berkulit putih dengan rambut hitam sedang berdiri di balkon asrama memandang ketiganya dengan pandangan rendah.
“Hei,” panggil remaja itu saat Duncen dan yang lain beranjak. Alger menoleh dengan kening berkerut saat remaja dengan mata orange itu mendekat. “Aku dengar kalian dari kota Atra.”
“Memangnya kenapa?” balas Alger ketus, jelas kesal dengan cara pemuda itu menatap mereka.
Remaja dengan mata orange itu tersenyum. “Hanya ingin mengingatkan posisi kalian.” Alger yang mendengar hal itu hendak maju, tetapi di tahan oleh Louisa. Remaja itu tertawa dan kembali bersuara. “Jangan besar kepala hanya karena kalian pernah melawan monster. Bukan berarti kalian itu hebat.”
Alger yang tak bisa menahan amarahnya hendak bersuara saat Louisa memotongnya dengan cepat. “Tidak ada yang peduli dengan itu, yang penting bagi kami adalah kami tetap bertahan dan bisa sampai di tempat ini. Jika Anda yang ada di sana apa Anda bisa bertahan, Tuan Sombong?”
Pemuda itu tersenyum miring dan berjalan mendekat. “Sombong sekali, Nona. Apa Anda tidak takut jika-”
Kalimatnya terhenti saat Duncen berdiri tepat di depan Louisa. “Jangan macam-macam dengan teman kami! Kami tidak akan diam jika salah satu diantara kami terluka!”
Alger menggeram kesal dan menarik tangan Louisa. “Sudahlah, ayo kita pergi! Kita tidak boleh buang-buang waktu dengan orang congkak sepertinya!”
Remaja itu hanya tersenyum miring dan bergumam pelan di lorong yang sepi. “Kita lihat saja besok. Kalian harus sadar dengan tempat kalian!”
***
Pagi kembali datang, Louisa menghela napas seraya keluar dari kamar. Masih teringat dengan kejadian semalam. Mata hijaunya bertemu pandang dengan Alger yang sudah berpakaian rapi, seragam kaus dengan celana olahraga hitam.