⚜⚜⚜
“Kenapa harus aku yang pertama?” tanya Alger yang masih bingung di tempat duduknya. Louisa yang duduk di sampingnya menepuk bahu pemuda itu peln, isyarat untuk menyuruhnya segera berdiri.
Sorak penonton mulai heboh dan layar biru di depan mereka segera berpecah menjadi empat menampilkan stadion dari berbagai sudut. Salah satu layar mulai menyorot Alger yang turun ke lapangan. Lalu layar lainnya menyorot seorang pemuda berambut hitam dengan kulit putih berjalan ke lapangan.
“Ternyata dia yang dari keluarga Auriga ya,” ujar Alessia diangguki oleh Tibra.
Duncen melihat pemuda yang menjadi lawan Alger itu mengerutkan kening dan berbisik pelan ke Louisa. “Itu dia kan?”
Tibra dan Alessia serentak menoleh saat melihat keduanya berbisik. Duncen yang menyadari pandangan keduanya menghela napas. “Kemarin dia sempat menyapa kami, tidak lebih tepatnya meremehkan kami dan hampir menyerang Louisa.”
Alessia menoleh ke arah Louisa. “Hah? Kamu baik-baik saja, Louisa?”
Louisa mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Merasa terharu dengan perhatian yang diberikan Alessia meskipun mereka baru bertemu. “Aku baik-baik saja, karena mereka berdua melindungiku.”
Alessia dan Tibra serentak menghela napas lalu kembali memandang ke arah lapangan, tempat Alger siap untuk melakukan perlawanan dengan pemuda dari keluarga Auriga itu.
“Keluarga Auriga memang salah satu keluarga hebat, jadi aku tak heran dengan sikap sombongnya itu.”
Louisa kembali memandang Roger yang kini berdiri beberapa langkah tak jauh dari Alger. “Matanya penuh ambisi.”
***
Alger akhirnya sampai di lapangan dan langsung berhadapan dengan Roger yang menatapnya remeh. Tatapan yang sama saat bertemu sehari sebelumnya.
“Jadi namamu Alger, ya? Kenapa margamu disingkat? Apa tidak dianggap?” tanya Roger dengan nada mengejek.
“Bukan urusanmu!” jawab Alger dingin, sedangkan Roger hanya tersenyum miring. Jelas berusaha memancing emosi lawannya.
Dua yang berada di atas stadion segera menatap kedua pemuda itu singkat sebelum menyebutkan aturan pertandingan. “Peraturannya adalah kalian diizinkan menggunakan senjata yang ada di sekeliling kalian. Kami ingin melihat kemampuan dasar bertarung kalian dengan senjata sederhana.”
Alger dan Roger serentak memandang senjata yang ditunjuk oleh Dua. Mulai dari tongkat kayu panjang, batu, pecahan kaca, dan tombak. Pandangan mata Alger beralih ke Roger yang melihat heran senjata-senjata di depan mereka.
Apa dia tidak pernah menggunakan senjata biasa? batin Alger segera memilih senjata yang akan digunakan.
“Silahkan dipilih senjata utama dan senjata cadangan kalian. Untuk senjata utama kalian harus menggunakan senjata yang sama," perintah Dua melirik kedua pemuda tersebut.
Alger bergerak maju dan memilih tongkat kayu panjang sebagai senjata utamanya, sedangkan Roger sempat terdiam dan bergumam kesal sebelum akhirnya memilih tongkat kayu.
“Silahkan pilih senjata cadangan kalian! Hanya satu!" Suara Dua kembali terdengar.
Roger bergerak maju terlebih dahulu dan kemudian memilih sekumpulan batu, sedangkan Alger memilih pecahan kaca.