⚜⚜⚜
“Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?” tanya Alessia saat mereka sudah mencapai gedung asrama.
“Istirahat,” sahut ketiga remaja itu kompak.
Alessia menoleh ke arah keempatnya saat sebuah ide hadir di benaknya. “Apa kalian mau jalan-jalan besok? Hanya keliling asrama, yang penting kita jalan-jalan.”
Louisa menoleh dan menatap ketiga pemuda di belakangnya. Hingga Duncen akhirnya bersuara setelah saling lirik dengan Alger dan Tibra. “Boleh, tapi siang.”
Alessia mengangguk senang dan mereka segera berpisah di tangga lantai dua, sedangkan Louisa serta yang lain kembali menaiki lantai tiga menuju kamar masing-masing. Ketika pagi datang, Duncen yang sudah bangun segera menuju dapur berniat untuk menyiapkan makanan sebelum menyadari seseorang yang sudah terlebih dahulu ada di sana.
“Louisa?” ucap Duncen saat melihat gadis itu tengah sibuk memasak.
“Pagi, Duncen! Tidurmu nyenyak?” jawab Louisa saat melihat pemuda berkulit gelap itu memasuki dapur.
Duncen mengangguk seraya melangkah ke dapur dan melirik masakan yang ada di penggorengan. “Tumben sekali kamu bangun pagi, apa kamu tidak tidur?”
“Justru kalian yang terlambat bangun, aku bangun seperti biasa kok,” jawab Louisa kembali mengaduk bubur yang tengah dimasaknya. “Kamu tidak bosan makan bubur kan, Duncen?”
Duncen menggeleng dan segera membantu Louisa menghidankan bubur ke piring. “Justru kenyangnya lebih lama, Louisa.”
Sementara itu Alger yang baru bangun tidur beranjak menuju jendela, menatap suasana dil uar sebelum pemuda itu melihat seseorang yang memandangnya dari lapangan tepat ke arahnya. Saat hendak memanggil orang tersebut ketukan di pintu kamarnya menghentikan tindakan Alger.
“Alger sudah bangun?” tanya Duncen dibalik pintu.
“Ah, iya sudah. Sebentar lagi aku keluar,” jawab Alger kembali melirik ke lapangan yang kosong.
“Oke. Jangan lama!” jawab Duncen dan berlalu menuju ruang tamu tempat Louisa menunggu. Kegiatan pagi itu berlangsung dengan tenang ketiganya makan dalam diam sambil bersantai menunggu waktu yang dijanjikan Tibra dan Alessia untuk membawa mereka.
Ketika kedua remaja itu datang, Alessia langsung menyapa hangat Louisa dan tepat saat itu sebuah pengumuman tentang jadwal kelas tambahan dari pengeras suara membuat mereka terhenti.
“Kelas tambahan? Sepertinya jadwal kita diganti,” komentar Duncen yang diangguki oleh Alger.
“Aku dengar kelas ini tentang teknik dasar bertarung dan semacamnya. Untung saja aku mengikuti firasatku tadi,” tambah Tibra sambil merapikan pakaiannya melirik Alessia yang menghela napas karena tidak percaya ucapannya.