Jakarta – Bandung, 4 Desember 1999
Aku berhenti di pom bensin di daerah Padalarang. Kubuka tutup tangki di belakang mobil.
“lima puluh ribu bang,” aku berikan satu lembar lima puluh ribuan ke tukang pom bensin. Angka meteran bensin mulai berputar. Selina masih tertidur di jok depan mobil civic wondernya. Setelah sampai di puncak tadi, gantian aku yang pegang kemudi.
Selama di awal perjalanan Selina banyak bertanya tentang diriku. Tentang masa kecilku, tentang kuliahku, tentang pekerjaanku. Wajahnya selalu serius ketika mendengar ceritaku. Tatapannya kadang jauh ke depan, mengangkat tinggi lengkung bulu matanya, seperti penikmat film yang tak mau kehilangan sedikitpun detil momennya.
Apa obsesi kamu? Ada-ada aja sih kamu? Kamu ini gila ya! Tawa Selina selalu terasa sejuk di pendengaranku, mengalir bagai angin pegunungan puncak yang menyentuh rongga telinga. Mungkin aku seperti orang yang terguyur hujan setelah hampir mati terkapar berhari-hari di tengah padang pasir.
Satunya-satunya hal yang kutanyakan pada Selina adalah tentang pintu cahaya di rumahnya dan di kolam renang.
“Itu bikinan bapakku,” katanya, kali ini suaranya agak pelan.
Jadi pintu itu bisa dibikin orang. Bisa jadi yang ada di gudang rumahku juga bikinan orang. Bapak Selina pasti bukan orang sembarangan.
“Dia tahu tentang tanganmu?”
“Ya… Dia yang membimbingku, jadi sekarang aku bisa mengontrolnya.”
“Bagaimana dengan yang ada di toilet bank waktu itu?”
Aku merasa Selina sengaja menutupi sesuatu tentang hal ini. Dia menepikan mobilnya.
“Tolong gantian dong Dep, gua agak ngantuk nih.”
Aku masuk ke dalam mobil. Indikator bensin sudah menunjuk ke tanda full. Kulihat Selina pulas dengan tidurnya. Nafasnya begitu teratur. Beberapa lembar rambutnya lepas dari ikatan, jatuh di sela lehernya. Kututup pintu mobil pelan. Aku tidak mau membangunkannya.
Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung
Aku melewati orang-orang yang duduk di ruang tunggu. Di depan tergantung tulisan BAGIAN GINJAL. Selina melangkah cepat, tampaknya dia sudah terbiasa lewat sini. Setelah melewati beberapa lorong, kami sampai di toilet wanita.
“Tunggu di sini,” kata Selina cepat. Kemudian dia masuk ke toilet.
Kulihat sekeliling tidak ada orang, hanya bunyi genset yang dari tadi bikin bising. Agak kikuk juga berdiri tepat di depan pintu toilet wanita. Tapi sebentar kemudian Selina muncul di pintu, gerakan jarinya mengisaratkanku untuk masuk. Agak ragu, tapi aku masuk juga. Tidak ada siapa-siapa. Ada dua ruang kloset yang dipisahkan tembok di situ. Selina masuk yang di pojok. Aku mengikutinya dan cahaya berpendar sebesar pintu ada di situ. Selina masuk ke pendaran cahaya itu, dia seperti sedang tergesa. Aku ikut masuk, melebur ke cahaya putih menyala.
Bolak-balik Selina melihat ke belakang, memastikan aku masih mengikuti langkahnya karena ilalang setinggi dada kini ada di sekitar kami. Kami seperti ditelan lautan ilalang yang begitu luas. Aku sudah tak melihat kakiku. Di bawah sana bisa saja ada ular atau mahluk apapun. Yang kulakukan sekarang memastikan aku sudah mengikuti jalur yang Selina lewati, karena kelihatannya dia sudah sering lewat tempat ini.
Entah sejak kapan batu-batu itu ada di sana. Karena baru kulihat di depanku bongkahan batu besar bertumpukan. Tumpukan itu menggunung menembus kabut hitam yang menutup langit. Tapi sebelum batas kabut itu sebuah cahaya menyala. Bentuknya bujur sangkar, sebesar jendela.
Selina sudah menapak di atas sebuah batu. Dia menoleh ke arahku sebentar. Seperti ada yang meresahkan pikirannya. Ada sesuatu di sorot matanya. Cepat dia mendaki tumpukan batu yang menanjak di depannya. Aku mengikutinya, menapaki batu demi batu. Susah payah aku mengikuti langkah Selina. Beberapa kali aku sempat terbatuk. Kulihat Selina sudah berdiri di depan bidang bercahaya itu. Dia terdiam mematung, seperti terpaku melihat sesuatu di dalamnya.
Aku sudah di belakang Selina. Di balik punggungnya kulihat cahaya-cahaya lampu di dalam bidang itu. Lampu penerangan di sebuah ruangan. Setelah berdiri di sebelah Selina, bisa kulihat jelas bidang itu seperti jendela, di dalamnya sebuah ruangan di rumah sakit. Sebuah tempat tidur tampak begitu dekat di situ dan seorang pasien tergeletak di atasnya. Seorang wanita setengah baya, di lengannya tertancap begitu banyak selang, tersambung ke sebuah alat di samping tempat tidur. Di selang-selang itu cairan merah, darah. Selina tidak berkedip memandang wanita itu. Ada genangan air di matanya. Wanita itu seperti menahan sakit. Dari mimiknya terlihat sakitnya luar biasa. Hingga wanita itu tampak mengerang dan Selina menutup bibirnya dengan kedua tangannya, air menetes di pipinya. Cepat-cepat dia mengambil tisu dari tas ketika sadar aku ada di sebelahnya, mengelap matanya dan mencoba mengatur nafasnya. Dia berusaha tampak tenang di sebelahku.
“Siapa dia?” tanyaku pelan saat kulihat wajahnya sudah lebih tenang.
“Dia pasien di sini… hidupnya tergantung alat itu… hari ini jadwal dia cuci darah… setiap minggu dia harus menanggung sakit seperti itu.” Suara Selina bergetar dan tampaknya dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.
Aku tak tahu mengapa Selina jauh-jauh ke Bandung untuk menyaksikan penderitaan orang dirawat di rumah sakit. Tapi aku bisa memahami perasaannya, karena sekarang aku bisa membayangkan bagaimana ibuku mungkin sangat menderita saat tergeletak di rumah sakit sebelum menjelang ajalnya. Walau aku tak pernah tahu dia sakit apa.
Bandung - Jakarta
Jam 23.25, hujan begitu lebatnya di daerah Ciawi ketika mesin mobil Selina tiba-tiba mati di tengah jalan. Beberapa kali Selina memutar kunci kontaknya.
“Sial! Pasti kaburatornya lagi. Gua nggak percaya sama bengkel itu lagi.” Selina menyandarkan punggungnya, berusaha menghilangkan rasa kesalnya.
Di sekeliling suasana gelap, tidak ada tanda pemukiman. Satu dua cahaya lampu mobil melesat dari depan.
“Kita musti pinggirin mobilnya dulu,” kataku.
Derasnya hujan begitu terasa menerpa wajahku. Kudorong mobil Selina ke pinggir jalan. Badanku basah ketika masuk mobil. Kulihat genangan lumpur menempel di sepatuku. Selina sibuk menekan tuts HPnya. Tampaknya beberapa kali HPnya tidak tersambung. Dia berusaha menghubungi nomor lainnya lagi.
“Din dimana lo…“
“Gua mogok di Ciawi, lo tolongin gua dong ke sini…”
“Iya ini… di jalan… di Ciawi…”
“Gua dari Bandung…”
“Nggak, sama temen…”
“Tolonglah Din…”
Tampaknya Selina tetap tak berhasil mendapatkan pertolongan. Wajahnya kini terlihat pasrah.
Aku keluarkan HPku untuk menghubungi sebuah nomor, siapa lagi kalau bukan Binclong. Orang yang pas untuk mengulurkan tangannya kepada mahluk yang terjebak di jalan bernama Selina. Berani bertaruh begitu dengar nama Selina dia pasti akan berangkat ke sini tak peduli hujan badai langit runtuh.
“Bener dia ada di sebelahku,” dikira aku hanya bercanda.
“Ngapain sih aku bohong,” tampaknya dia memang benar-benar nggak percaya. Memang susah dipercaya orang sepertiku bisa duduk semobil dengan Selina.
“Nih bicara sendiri sama orangnya,” aku berikan HPku ke Selina.
“Siapa namanya,” tanya Selina pelan.
“Binclong,” jawabku datar.
“Halo Mas Binclong…”
“Iya Selina nih…”
“Iya yang nyanyi di kafe…”
“Sori banget nih ngerepotin...”
Selanjutnya seperti yang sudah kuduga. Selina mematikan HP, memberikannya padaku. Wajahnya tampak sedikit lega. Saat ini Binclong pasti lagi sibuk milih baju yang paling keren, pakai parfum yang paling mahal.
“Baik sekali temenmu.”
“Yah dia memang baik,” kataku tanpa ekspresi. Kuluruskan kedua kakiku. Sekarang tinggal menunggu Binclong. Sempat kulihat bus jurusan Jakarta lewat.
“Temen kerja?” tanya Selina.
“Ya… dia yang kasih aku projek… dulu kita temen kuliah di Surabaya.”
“Akrab dong kalian,” tanya Selina lagi. Mungkin dia berusaha mengajakku ngobrol untuk menghilangkan suasana bete.
“Ya… akrab seperti saudara senasib sepenanggungan,” kataku sekenanya. Bagaimana bisa senasib sepenanggungan, sebentar lagi dia muncul dengan Merci atau BMWnya, sedangkan aku barusan mendorong mobil Selina.
Binclong muncul sekitar satu jam kemudian. Ternyata dia bawa BMW. Aku dan Selina berlarian menembus hujan menuju mobilnya. Aku suruh Selina duduk di depan.
“Sori, nunggu lama ya,” Binclong mengulurkan tangannya ke Selina.
Seperti biasa Binclong mengeluarkan jurus ramah tamahnya. Bagiku yang penting Selina dapat keluar dari sini.
“Sekarang kita call mobil derek, kita urus mobil kamu dulu, habis itu kita have fun sebentar ke puncak, sayang kan udah deket dari sini. Gue banyak kenalan di sana, dijamin fasilitas kelas satu deh. Gimana?” kata Binclong pada Selina.
Selina memandangku. Aku hanya menatap ke depan. Hujan begitu keras jatuh di atas kaca mobil, airnya bergumpalan tersapu wiper. Jancuk! Dasar Binclong kelakuan. Aku seperti terjebak di situasi yang tidak mungkin aku bisa lalui.
“Gimana Dep?” tanya Selina.
“Ayolah sekali-kali. Terserah deh mau ngapain. Mau lihat live music, main billiard, apa mau berenang… ntar kalau capek bisa istirahat di vilaku,” kata Binclong lagi, pandangannya masih ke arah Selina.
“Kalian berdua saja. Aku mau pulang naik bis. Sori aku capek Bin,” aku keluar dari mobil. Suara Binclong cuma terdengar sayup-sayup karena di sekelilingku air dengan derasnya menumbuk semua yang ada di daratan. Selina membuka kaca mobil, mengatakan sesuatu tetapi aku sudah bergerak menyusuri pinggir jalan yang tergenang.
“Depa!” Selina memanggilku. Dia sudah keluar dari mobil, berjalan ke arahku di tengah hujan.
“Gua mau jalan aja,” katanya melewatiku.
“Sel ini hujan, kamu masuk saja ke mobil,” kataku sedikit berteriak melawan hujan. Keluar dari mobil adalah keputusanku sendiri, aku tidak mau Selina ikutan dan harus menanggung resikonya.
“Ini cuaca yang indah Dep, hujan begini indah sayang kalau dilewatkan, apa kamu nggak pernah main hujan waktu kecil?” Selina membentangkan tangannya seolah sedang menampung sebanyak-banyaknya air yang jatuh ke badannya. Aku hanya terpaku melihat kelakuannya.
Binclong memundurkan mobilnya, kacanya sudah terbuka.
“Selina! ngapain kamu. Mau hujan-hujanan? Ini udah malem, susah cari bis. Ayo ikut aja lah. Nanti kita urus mobil kamu,” Binclong setengah berteriak dari dalam mobil.
“Sori Mas Binclong, kayaknya aku jalan aja. Mau jalan kaki ke Jakarta. Sori banget udah ngerepotin.”
“Gila kamu, hujan-hujan begini…” Binclong tidak meneruskan kata-katanya karena ada mobil mau lewat dari belakang, klaksonnya lama dibunyikan. Binclong meminggirkan mobilnya. Selina meneruskan langkahnya. Binclong meneriakkan sesuatu, kali ini kepalanya nongol di kaca mobil. Suaranya tidak bisa kudengar. Selina masih terus berjalan, memainkan langkahnya, menyerak genangan air. Badannya kini berbalik ke arahku, berjalan mundur, tersenyum geli melihat aku yang masih berdiri di tempatku berpijak.
Bunyi dernyit ban mobil beradu dengan aspal memekak di tengah pecahan hujan. Mobil Binclong melesat dengan mesin yang meraung karena sentakan gas penuh, meninggalkan aku dan Selina. Bisa kubayangkan bagaimana Binclong menyentak gas. Tapi apa peduliku. Blincong tetaplah Binclong. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dia masih tetap anak orang kaya.
Sebuah mobil sedan lewat. Jalannya agak melambat ketika melewati Selina. Kacanya sengaja dibuka. Di dalamnya beberapa anak muda. Berteriak-teriak ke Selina. Ada yang bersiul. Tidak jelas teriakan mereka, kupikir mereka bermaksud menggoda Selina.
“Fuck you!” Selina mengacungkan jari tengahnya. Mobil itu melesat pergi.
Aku mendekati Selina. Walau bagaimana aku tetap merasa bersalah dengan mengambil keputusan yang mungkin tidak rasional ini.
“Sel lebih baik kita panggil mobil derek dulu.”
Selina malah tertawa.
“Ada apa sih?” tanyaku.
Selina masih tertawa. Aku diamkan saja dia.
“Tahu nggak Dep. Barusan tadi gua begitu cemas, begitu takut cuma gara-gara mobil mogok,” katanya di sela tertawanya.
“Dep kita ini mahluk spesial, apa yang musti kita takutkan. Di tengah malam hujan begini siapa yang berani sama kita. Tidak akan ada mahluk di dunia ini yang berani sama kita.”
Aku sudah lihat kemampuan Selina. Mungkin hanya bagian yang paling kecil. Tapi di imajinasiku bisa kubayangkan dia menggunakan tangannya melumpuhkan siapa saja.
“Iya… tapi kita musti tetap panggil mobil Derek,” kataku.
“Gampang lah itu… kamu haus nggak?”
“Emang kenapa?” aku pikir dia punya ide gila cari warung di tengah malam begini.
“Nih kita sudah disediakan air begini banyak,” dia tertawa lagi.
Selina mendongak ke atas, mulutnya dibuka lebar. Air begitu banyak menerpa wajahnya, sebagian masuk ke mulutnya.
“Segar Dep, coba deh,” dia melakukannya lagi.
Aku menirukan seperti yang dia lakukan. Kelihatannya kekanak-kanakan. Tapi aku jadi merasa bebas. Sebebas bocah polos yang tak punya masalah. Aku dan Selina adalah mahluk spesial. Di tengah malam hujan begini, siapa yang berani sama kita.
Jakarta, 5 Desember 1999
Aku terbangun di lantai kamar kosku. Selina masih telungkup di atas kasur, memakai kaosku, karena tadi malam bajunya basah. Aku duduk di depan meja, menyalakan rokok. Satu dua hisap aku terbatuk. Mungkin sudah saatnya aku memikirkan untuk berhenti. Aku hisap lagi rokokku.
Pukul 08:16 jam di atas meja. Laptopku masih menyala. Design site untuk kafe Om Braja sudah jadi, tinggal aku masukkan modul programmingnya.
Tadi malam Selina tidak sabar untuk melihatnya. Dia begitu exited masuk ke link-link halamannya. Kulihat buku Selina masih tergeletak di lantai dekat kasur. Setelah melihat website, kupikir Selina berniat pulang ke rumahnya, karena waktu itu sudah jam 02:30. Tapi dia malah mengambil gitarku, duduk di atas kasur dan memainkan beberapa grip. Kemudian dia mengambil sebuah buku dari tasnya, membukanya dan memainkan sebuah lagu. Aku tidak familiar dengan lagu itu, mungkin seperti lagunya Sarah Mc Lachlan atau Tori Amos.
Selina tersenyum-senyum padaku saat lagunya selesai.
“Bagus nggak?” tanyanya.
“Lagu siapa sih? Sarah Mc Lachlan ya?” aku asal tebak.
“Bukan! Ini lagu gua! Baru kemarin gua tulis liriknya.”
Aku tersenyum kecut, kukira lagu bule. Bagus juga dia bikin lagu.
Aku ambil buku Selina. Di dalamnya banyak tulisan tangannya. Seperti kumpulan puisi. Di beberapa tulisan ada tanda gripnya. Tulisan terakhir yang dia nyanyikan tadi malam, sempat kubaca bagian reffnya.
Can you find me
When I’m lost
In the city that nobody smile
Can you reach me
When I’m melting
In the different blue of sky
Cause my breath is so empty
And I need a rest now
Selebihnya halamannya masih kosong. Di sampul paling belakang terselip selembar kertas, terlipat dan sudah kumal. Ada tulisan anak kecil. Sebuah puisi. Di bawahnya tertulis untuk rumah baruku, Joly, Februari 1990.
Aku masukkan teh celup ke dalam gelas. Panasnya air menggumpalkan warna coklat. Kulihat Selina memincingkan matanya, posisinya masih telungkup di atas kasur. Mungkin dia terbangun waktu aku mengaduk. Dia menggeliat meluruskan bagian tubuhnya. Sebagian mukanya tenggelam di bantal yang dipeluknya. Dia tersenyum. Seberkas sinar pagi menerobos jendela kamarku, memantul lembut di putih kulit wajahnya. Aku sempat berpikir sawal bantal itu entah berapa minggu belum dicuci. Tapi tampaknya dia tidak peduli, malah semakin erat memeluk bantal, senyumnya masih di sana.
Pukul 09:10
Jalan di lingkungan kosku masih basah. Aku dan Selina berjalan menghindari genangan-genangan air. Dia masih bicara di HPnya menanyakan kondisi mobilnya. Beberapa menit yang lalu dia menanyakan apakah aku lapar.
“Iya, semalam kita belum makan apa-apa… mau pesan delivery?” tanyaku.
“Emang nggak ada warung di deket sini?”
“Ada sih, warteg… kamu mau?”
“Ada sayur asemnya nggak?”
Selina memakai jeans dan kaosku. Tidak memakai make up, rambutnya diikat. Tetapi tetap saja tukang-tukang ojek di persimpangan pada melotot. Si Kandar tukang ojek yang aku kenal mendekatiku.
“Bangkok tuh temen lo.”
“Iye,” jawabku ngasal.
“Udah jangan kelamaan, sikat aje… keburu diambil orang ntar.”
“Iya pasti lah,” aku tinggalkan dia. Air liurnya mungkin sudah seember kalau ditampung.
Selina begitu lahap dengan sayur asemnya, “Enak Dep sayur asemnya.”
Aku mengangguk, merasakan hal yang sama, tetapi memang karena lapar.
“Kamu punya suatu tempat yang kamu anggap spesial?” Selina menghentikan mengunyah makanannya.
“Maksudmu?” tanyaku sambil menggigit kerupuk.
“Yah…tempat yang tidak bisa kamu lupakan…tempat yang kamu bisa merasakan bebas melakukan apa saja.” Tampaknya dia menunggu jawabanku.
“Ada, waktu aku kecil. Di gudang belakang rumahku ada pintu cahaya. Di dalamnya ada padang rumput.”
Aku dan Bajul begitu bebas bermain di situ. Tidak ada aturan, tidak ada yang mengawasi, tidak ada orang yang memarahi.
Kini senyumnya tersimpul.
“Aku punya tempat rahasia.” Matanya berbinar seperti seorang anak yang ingin menunjukkan mainan barunya.
“Di rumahmu?” Yang kulihat kemarin ada di dapur, mungkin masih ada lagi di kamar tidur atau di garasi.
“Enggak, di Monas.”
Monas, 1 hari kemudian
Di tempat ini tugu monas tidak ada. Tidak ada benda vertikal. Jajaran pohon mendominasi sudut horison. Pohon-pohon berdaun merah. Merah burgundi. Bunganya rekah kuning keemasan. Membuat garis nuansa merah dengan tekstur berbintik kuning. Membagi dua ruang yang tak berhingga, biru berbercak mega dan hijau bergores semak.