The Hidden Soul Of Kaz

Hiday atrum
Chapter #2

Taman Firdos

Taman Firdos

Selepas hujan tatkala cahaya langit mulai memberikan sentuhan, di saat air masih tergenang di permukaan tanah berlubang, di dahan, induk burung memberi makan anak-anaknya, sayap mereka berkibar lembut mengkilap di bawah cahaya, namun tetap menenangkan mata.

Sungai-sungai mengalir di antara akar pohon-pohon raksasa, menambah kesan damai di dalam Taman Firdos—rumah bagi para atland dan rosman. Tempat yang diberkati, harta bagi Kerajaan Han.

Di hutan bercampur warna itu, dua rosman kecil berlari, meninggalkan jejak percikan air memantul warna sekitar. Yang berada di belakang lebih berisik, itu mengganggu beberapa makhluk hutan yang tertidur—diantaranya kucing hutan dan tupai-tupai.

Dua rosman itu adalah Dien dan Sem sepupunya. Perawakan Dien sederhana: telinga panjang, rambut putih lurus hingga bahu, kulit seputih salju bersemu biru, mata biru berkilau, alis dekat kelopak mata, hidung mancung merona merah, dan bibir yang senada. Bajunya dari kain handuk berbentuk V di dada, selendang wol hitam, sepatu kanvas coklat tua diikat tali dari lateks. Saat berlari, langkahnya menghantam genangan air hingga memercik, membentuk titik-titik warna biru, hijau, dan ungu yang menari di udara.

Lubang-lubang di tanah masih terlihat jelas—bekas pijakan gajah raksasa, makhluk agung berkulit abu-abu kebiruan yang pernah melintas di jalur hutan ini.

Dien memanggil sepupunya, suaranya lantang hingga induk burung beterbangan.

“Sem, berhenti!” seru Dien.

“Sem, apa kau tuli?!” ucapnya sambil berlari mengejar.

Namun Sem tidak menghiraukan teriakan itu. Ia terus melaju dengan cepat, meloncat dari dahan ke dahan seakan tanah dan udara hanyalah jalannya sendiri.

Tak mau kalah, Dien bergelantungan, berayun lincah seperti kera cerdik. Ia memanfaatkan ranting-ranting yang menjuntai, seakan terbang menembus udara, melintasi jarak yang mustahil dicapai hanya dengan kaki biasa.

Melihat itu, Sem tersenyum tipis dan berseru, “Kejar aku jika kau mampu.”

Sem berusia sepuluh tahun, tapi perawakannya sudah menyerupai remaja. Tinggi, tampan, kulit seputih salju, rahangnya tirus, hidung mancung, dan rambut putih terbelah samping. Telinganya seperti Dien dan rosman lainnya. Ia mengenakan baju putih dengan prada-prada emas menghiasi dada, menambah aura anggun sekaligus gagah.

Gerakan mereka luar biasa, lincah dan tepat, meski baru berusia sembilan dan sepuluh tahun. Setiap lompatan, setiap ayunan, tampak sempurna, seperti tarian yang dipadukan dengan kecepatan dan kelincahan, membuat hutan di sekitar seakan hidup bersama langkah mereka.

Dien akhirnya berhasil meraih Sem, namun sepupunya dengan sigap menghantamnya, lalu melesat kembali di atas tanah yang lembab. Dien terdongak, ranting terakhir yang digenggamnya pun patah, menandai kegagalan pertama.

Tanpa putus asa, Dien kembali memanfaatkan ranting-ranting menjuntai untuk berayun ke depan lebih cepat. Beberapa kali ia mencoba, namun jejak Sem lenyap begitu saja.

Dien turun ke tanah, heran bagaimana mungkin Sem bisa secepat itu. Ia berhenti sejenak, menajamkan pendengaran, hingga terdengar dengungan kumbang-kumbang petarung dan gemerisik daun kering yang diinjak kaki Sem.

Suara itu mengejutkan Dien—ternyata Sem di belakangnya, dengan cepat, Dien menyesuaikan posisi, bersembunyi di balik pohon berselaput seperti jamur, menunggu momen yang tepat, untuk merencanakan penangkapan, bahkan melepas selendangnya—untuk membungkus Sem begitu kesempatan datang.

Diamnya hutan pecah oleh kilatan cahaya, membuat Dien menoleh ke arah Sem. Sekejap kemudian, Sem meluncur di depannya, berayun dengan kecepatan menakjubkan menggunakan anak panah yang terikat tali ajaib.

Sem bergerak lincah seperti yang Dien lakukan sebelumnya, namun lebih gesit. Setiap kali anak panah menghantam pohon tinggi, tali ajaib menahan dan menariknya, menggantikan ranting untuk bergerak lebih cepat daripada Dien bisa ikuti.

Dien menganga, terpesona sekaligus bingung.

"Bagaimana Sem bisa bergelantungan sambil memanah, sementara anak panah itu seakan menariknya ke depan sendiri?" Dien heran, dari mana panah itu berasal.

Tanpa menunda, ia bertanya sambil berayun di tengah hutan, “Sem, itu tongkat jiwamu?”

“Kita baru 13 hari sekolah sihir, tapi kau sudah mampu memanggil tongkat jiwamu. Kau berbakat sekali, saudaraku,” kata Dien kagum.

“Dien, Pulanglah!” perintah Sem, suaranya keras, sementara anak panahnya menancap di pohon dan menariknya meluncur ke depan seolah terbang.

“Aku tidak akan pulang sendirian!” teriak Dien, membalas. “Hutan terlarang bukan tempat latihan untuk anak-anak baru seperti kita. Kau menjadikan ini seperti permainan—aneh sekali!”

Sem tetap tidak menghiraukan.

Dien kesal dan berteriak, “Sem, dengar! Tongkat jiwa itu belum tentu bisa menyelamatkanmu. Jika kau tak mendengarku, aku akan memanggilmu tupai hari ini!”

“Pulanglah! Kau terlalu berisik, atau ingin kusiapkan caraku?” balas Sem memperingati.

Sem memanah pohon tinggi, terdorong ke depan, lalu melepas talinya, melayang di udara.

Ia terus memanah lagi dan lagi, sambil melihat kondisi sekitar yang terdapat kawanan lebah madu, kumbang petarung, dan tupai-tupai bergelantungan.

Dengan satu gerakan halus, Sem menutup mata kanan secara diagonal dengan tangan kiri yang memegang busur, mengucapkan, "Akererioba" seketika, busur di tangannya berubah warna menjadi merah muda, memancarkan aura sihir yang memikat di hutan yang lembab.

Ketika busur Sem berubah warna menjadi merah muda, ia berhenti berayun dan menapak tanah. Dengan tenang, ia membidik salah satu makhluk hutan—lebah madu yang sebelumnya ia lihat.

Anak panah itu aneh; tanpa mata tajam, tanpa tali, bahkan nyaris tak terlihat.

Saat mengenai lebah, panah itu lenyap seketika.

Kemudian, Sem membidik Dien. Panah merah muda itu meluncur ke arahnya, tapi tiba-tiba suara gemuruh terdengar—gajah besar muncul, tubuhnya jauh lebih besar dan aneh daripada gajah biasa. Sekilas Sem terkejut, namun ia tetap menembakkan panah ke arah Dien.

Kemudian melihat gajah itu lumayan menakutkan, Sem menembak gajah itu juga dengan anak panah yang sama, agar ikut mengejar Dien.

Kawanan lebah kini bergerak ke arah Dien.

Sem tersenyum tipis, berkata,

“Dien, jika kau ingin mengejarku sampai hutan terlarang, kau harus bebas dari dua hewan ini terlebih dahulu. Dan buatlah dirimu berisik, agar para atland datang membantumu.”

“Dua hewan?” Dien ternganga, matanya melebar saat lebah madu dan gajah besar mendekat. Ia terkejut sekaligus jengkel, tidak percaya akan sihir yang Sem lakukan. Refleks, ia berteriak,

"Dasar tupaiiii!"

Selendang Dien terlepas dari bahunya.

Dien lari pontang-panting sambil teriak, “Dasar, Sem tupaiiii!” mengejek Sem sekaligus lari menghindari ancaman.

Lebah dan gajah itu begitu cepat, ranting-ranting pun tak sempat ia raih.

Dien berteriak dan berlari di sepanjang jalan rumput manila, ia mulai kehilangan arah. Lurus atau berbelok, tak ada jalan aman dalam sadarnya; lebah terus mengejar, satu bahkan sudah hinggap di lehernya, menyengatnya.

Sengatan demi sengatan membuat Dien terkejut, seolah tubuhnya terdorong lebih cepat ke depan oleh kekuatan magis sengatan itu.

Akhirnya, ia melihat sungai deras mengalir di dekatnya. Tanpa pikir panjang, meski belum bisa berenang, Dien meloncat dan menyebur ke dalam air.

Berpegangan pada batu besar di dalam air, Dien bersembunyi, ia bergumam di dalam hatinya “Semoga tidak ada buaya…”

Dien menahan napas sekuat mungkin, tangan mencengkeram batu besar di dasar sungai agar tetap stabil. Tubuhnya mulai membiru, namun ia berusaha tetap tenang. Perlahan, ia mengangkat kepala untuk mengintip—syukurlah, gajah dan kawanan lebah itu sudah hilang.

Tiba-tiba, seekor makhluk muncul, membuat jantung Dien melompat. Ia segera menenggelamkan kepala kembali tanpa persiapan, sehingga air masuk ke hidung dan telinganya, bahkan sedikit tertelan. Membuatnya secara reflek mengeluarkan kepalanya dari air. Dengan batuk-batuk, dia kembali melihat. Ternyata, penyebab ketakutannya, hanyalah seekor kucing hutan yang menatap dengan mata bercahaya.

Dien akhirnya keluar dari sungai, tubuhnya basah kuyup, napasnya terengah-engah, dan rasa lelah menjalar ke setiap ototnya. Setelah menenangkan diri, ia berjalan pelan ke arah rumah, menapaki jalan hutan yang lembap sambil menghela nafas panjang.

Di perjalanan pulang, pikirannya melayang ke latihan bela diri bersama kakak sepupunya, Fiqon.

Fiqon mengingatkan betapa kerasnya hutan terlarang dan betapa ia harus lebih berhati-hati.


*


Di depan halaman rumah Fiqon yang permukaannya ditutupi rumput babat, Dien, Sem, dan dua saudari kembar Fiqon duduk melepas lelah.

Latihan ilmu bela diri baru saja usai, dan tubuh mereka masih terasa pegal.

Fiqon, kakak sepupu sekaligus guru mereka, duduk tegak di depan adik-adiknya, memberi wejangan.

Usianya 19 tahun, perawakannya lembut namun tegas: hidung mancung, dada bidang, tubuh ideal. Penutup kepala hijau menutupi kepalanya, dipadukan dengan rompi coklat, kemeja putih, dan celana hijau polos.

Seperti rosman lainnya, kulitnya putih salju dan mata biru.

“Lihatlah rumah kita,” kata Fiqon, suaranya tenang namun penuh wibawa.

“Taman Firdos ini damai, tentram, dan indah. Jika kalian melihat sedikit perselisihan di sini, itu bisa dipastikan hanyalah sebuah latihan atau hukuman. Tapi di luar sana, dunia jauh lebih keras. Kalian akan menyaksikan pertumpahan darah, penindasan, perebutan kekuasaan, penghianatan dan kadang hal yang kita percaya ternyata hanyalah dusta. Sebuah kedustaan yang diciptakan mereka dengan kekuasaan lebih.”

Ia menatap adik-adiknya sejenak, memastikan mereka memahami.

"Kita, para Rosman, dilarang menggunakan sihir untuk menghadapi kejahatan dunia. Karena itu, kita harus melatih ketangkasan: mental, pengetahuan, cara berpikir, kelapangan jiwa, dan fisik."

"Jika suatu saat perkara memaksa kita bertarung, kita harus siap. Dahulu para Rosman bahkan tidak mampu memukul bunga kapas sekalipun. Karena beratnya tangan untuk melakukan itu, para Rosman hanya menggunakan sihir mereka dalam banyak hal, termasuk latihan untuk memperdalam ilmu dari tongkat jiwa mereka. Selain itu, tongkat jiwa yang bertipe serangan, dahulu tidaklah berguna."

Lihat selengkapnya