Penghalang
“Wahe Peduasha, Wahe Pacita, sapudan kawajena, sabaga lalahera, ko sapunaen bem salabaen.”
Mantra utama pemanggil tongkat jiwa itu meluncur dari mulut Dien.
Cahaya menyambar dari raganya—singkat, seperti kilat—menyadarkan mereka—kini berada di dalam mulut sang naga.
Cahaya itu padam. Tongkat jiwa tidak muncul juga.
Dien menahan air mata. Ia mengulang mantranya.
Lebih pelan. Lebih tenang.
Tetap gagal.
Namun Dien merasakan panas merambat di tangan kanannya—padat, menusuk. Ia menyentuh tali (lateks) sepatunya. Dalam hitungan detik, lateks itu meleleh dari dalam dan putus. Ia mencoba sisi lain. Sama saja—putus.
Dien meletakkan lateks itu di atas saddle pad.
“Simon, pegang Andreas.”
Ia merangkak di atas lidah naga. Permukaan itu berdenyut, licin, seolah makhluk itu mulai sadar ada yang bergerak di dalamnya. Setiap lidah bergerak menghalangi, Dien pukul, keras dan cepat.
Simon, si tupai tua, bergerak tanpa bicara. Ia mengeluarkan batu runcing dari tas kecilnya, menempelkannya pada ujung tali lateks yang terbakar. Setelah kering, tali itu mengeras—cukup kuat untuk menahan berat tubuhnya.
Dien mencapai gigi depan naga.
Di saat yang sama, Simon bergerak ke arah lubang hidung.
“Simon, kau mau ke mana?!” teriak Andreas.
“Ke hidung naga sialan ini.”
“Jangan bodoh! Nafasnya saja membuatku terpental!”
“Itu karena kau kurang persiapan.”
Simon melempar batu itu. Lemparannya menghantam langit-langit mulut naga—menembusnya. Naga mendadak menggeram, suaranya bergetar sampai ke tulang. Dengan satu ayunan bersih, Simon berayun, bergerak lincah seperti Sem pagi tadi.
Dari luar, naga tampak tetap terbang di antara awan. Tubuhnya melengkung membentuk huruf O, seperti rintangan roller coaster raksasa. Namun kepakan sayapnya mulai tidak beraturan.
Di dalam mulutnya, waktu menipis.
Di gigi naga, Dien mengepalkan tangan dan menghantam taring. Pukulan pertama membuat rahang itu bergetar. Nafas naga berubah panas, terputus-putus.
Di hidung naga, Simon mengejan sekuat tenaga.
Serangan mereka menyatu.
Bau busuk Simon memicu kejang.
Dien menambahnya dengan hawa panas seperti api dan kekuatan lengan yang melonjak tiba-tiba.
Rahang naga menutup setengah.
Taring naga patah. Mulutnya ternganga, dan bau Simon memicu bersin hebat yang mengguncang udara. Andreas segera keluar. Dien memukul sekali lagi—hingga darah mengalir dan pergelangan tangannya terkilir.
Dien dan Simon terjun bebas. Andreas menyambar mereka tepat waktu.
Mereka menghantam punggung Baraq.
Baraq tersungkur. Sayapnya berlendir dan basah. Tubuh mereka sama—licin, menjijikkan, dan dingin. Tak ada waktu memikirkan rasa muak.
Naga itu tiba-tiba tumbang. Dentumannya mengguncang telinga dan tanah di bawah mereka. Andreas dan Simon terbangun. Dien masih terkulai, mata terpejam.
Tak ada yang tahu persis apa yang menjatuhkannya. Tapi jelas—itu ulah mereka.
“Simon,” Andreas menghela napas berat. “kau bau sekali."
“Semua makhluk bau saat buang air,” jawab Simon tenang.
“Kau buang air besar?!” Andreas mendelik.
“Sedikit. Tapi cukup,” Simon menyeringai. “Lihat naga itu, bauku berhasil buat dia pingsan.”
“Yang pingsan itu kami,” balas Andreas datar.
Wajah Andreas menegang, panik.
“Dien, jangan mati sekarang,” katanya sambil meraba hidung Dien, memastikan napasnya masih ada.
“Simon… apa rosman mati tetap bernapas?” Dien membuka mata setengah. “Bukan waktunya bercanda. Konyol sekali.”
Andreas terkekeh lega.
Dien meringis. Tangan kanannya berdarah, tinjunya membiru.
“Pukulanmu,” kata Andreas, kini serius. “Itu yang menjatuhkannya.”
“Aku…” Dien menarik napas pelan. “Aku sudah bisa mengeluarkan api.”
Andreas terdiam. Tatapannya berubah—kaget, lalu kagum. “Beberapa menit yang lalu kau bilang belum. Sekarang sudah?”
Dien mengangguk kecil sebagai isyarat iya.
“Kau sangat berbakat, guruku.” Andreas tampak senang melihat perkembangan cepat itu. Geraknya menjadi lebih agresif. Rasa bangga pun meluap, membuatnya lupa bahwa bahaya belum sirna.
Tubuh Andreas menutup pandangan Dien. Di sela gerakan petakilannya, Dien sempat melihat sesuatu di belakang punggung Andreas.
Sekilas—sebuah patung wanita berambut ular. Sosok itu tampak samar. Namun Dien belum menangkapnya sebagai ancaman.
“Jangan sanjung aku,” kata Dien cepat. “Kita belum aman.”
“Kita selamat. Naganya tumbang,” jawab Andreas sambil membantu Dien duduk.
Dien mengangkat kepala. Pandangannya jelas. Itu patung wanita berkepala ular—seperti yang pernah Andreas katakana.
“Tidak,” katanya pelan. “Ini lebih gawat.”
“Duum.”
Angin beradu tak tentu arah. Tanah terbuka luas; pohon-pohon berakar besar berdiri jarang, batu-batu berserakan seperti sisa hujan meteor. Napas mereka mulai stabil, tetapi kaki mereka justru mulai bergetar.
“Kita di dalam pembatas,” ucap Dien.
"Hutan terlarang." Sambung Andreas.
Dien, Andreas, dan Simon membentuk segitiga di antara Baraq yang terkapar lelah. Tidak ada jalan keluar yang terlihat.
“Buum.”
Tanah bergetar. Andreas tercegang dan memaksa seluruh indranya siaga. Telinganya bergerak, menangkap getaran yang tak terdengar oleh telinga biasa.
“Buum.”
Lebih dekat. Lebih berat. Batu-batu di sekitar mereka bergeser sendiri. Tanah merekah tipis. Di kejauhan, bukit abu-abu gelap menjulang—diam, tapi terasa hidup. Seolah menunggu.
“Dhuum.”
Benturan itu bukan suara jatuh. Itu suara sesuatu bergerak. Udara tertekan. Pohon-pohon merunduk bersamaan. Nafas Andreas tertahan.
Apa pun yang datang, ia tidak berlari.
Ia meloncat.
*
“Dien, ini ilusi?!” tanya Andreas panik.
Tak ada yang berani menebak. Bahkan rosman sekelas Madin Sehan tak pernah keluar dari tempat ini.
Dien menarik napas dalam. Sekali. Lalu sekali lagi.
“Wahe Peduasha, Wahe Pacita, sapudan kawajena, sabaga lalahera, ko sapunaen bem salabaen.”
Kilat menyambar dari raganya—singkat. Tongkat tak muncul juga. Tapi cukup untuk menegakkan dirinya. Dan energi panas itu terasa kembali dari dalam tubuhnya.
“Sesuatu yang besar menuju ke sini!” teriak Andreas.
Mereka muncul dari balik pepohonan—makhluk mirip anjing tapi berkaki tiga, tingginya dua kali tubuh mereka. Bergerak cepat. Tanpa ragu.
Dien maju. Ia memukul dengan tinju terkilir dan berdarah. Rasa sakit tak berarti. Jika bukan karena dirinya, mereka tak akan terjebak di sini.
Pukulan Dien menghantam makhluk itu. Hawa panas menyembur. Kulit mereka melepuh, sebagian meledak. Darah pekat membasahi wajah Dien. Andreas dan Simon terdiam.
“Duaarrr!”
Batu runtuh dari puncak bukit.
Bukit itu bergerak.
Bukan tanah—monster batu setinggi bukit bangkit. Dua kaki menghentak, dua lengan panjang mengayun. Pohon-pohon tercabut, menjerit, lalu hancur. Tanah bergetar.
Yang lebih mengerikan—pohon itu hancur, pohon baru tumbuh kembali. Hewan-hewan mirip anjing tapi berkaki tiga yang hancur sembuh lagi. Siklusnya berulang.
Naga yang tumbang tetap diam.
Dien berhenti menyerang. Tidak ada yang bisa dimenangkan di sini.
“Lari,” katanya singkat.
Monster bukit menatap mereka.
Tidak marah. Tidak tergesa.
Ia melangkah—dan tanah menjawab langkah itu dengan retakan.
Mereka berempat berlari.
“Sialan, ini mimpi buruk!” teriak Andreas.
“Apa itu mimpi?” tanya Dien, terengah.
“Bukan waktunya belajar!”
“Belajar tidak pernah memilih waktu,” jawab Dien, panik, nyaris kehilangan akal.
“Rosman sepertimu memang aneh. Mimpi adalah kejadian yang terasa nyata, tapi terjadi saat kita tertidur,” jelas Andreas cepat.
“Aku tidak pernah bermimpi,” jawab Dien datar. “Berarti ini nyata.”
"Tentu sajaaa" teriak Andreas membalasnya sambil lari pontang-panting.
Desisan keras memotong udara.
Mereka menoleh bersamaan. Seekor ular raksasa melata ke arah mereka—terlalu cepat, terlalu dekat. Tubuhnya memisahkan mereka dalam satu lintasan: Dien dan Simon di satu sisi, Andreas dan Baraq di sisi lain.
Ular itu tidak menyerang. Ia melarikan diri.
Gerakannya mustahil—secepat kilat, seperti memiliki seribu kaki tak terlihat. Ia menembus pembatas dan selamat.
Dien melihat itu dengan ekspresi tak biasa, dan tubuhnya bergerak sendiri langsung berlari.
“Andreas, ikut aku!” perintahnya tiba-tiba.
Andreas berlari beriringan dengan Baraq. Sayap Baraq mengepak kasar.
Simon meloncat, mencengkeram bahu Dien.
“Aku sudah bisa terbang!” seru Baraq.
Andreas meloncat dan ikut terangkat.
Terlambat.
Monster batu setinggi bukit itu mengayunkan lengannya ke arah Dien.
“Awas!” teriak Andreas.
Dien membuang tubuhnya. Batu raksasa itu menghantam tanah tempat ia berdiri sedetik lalu. Jika terlambat sedikit saja, Dien pasti hancur.
Andreas terbang rendah sambil menggenggam kayu patah.
“Baraq! Kita buat dia berhenti! Dia melukai temanku!”
“Dien, cari jalan keluar!” teriak Andreas. “Monster ini biar jadi urusan kami!”
Dien mendengar kepercayaan itu. Ia tersenyum singkat, pahit.
Kami hanya anak-anak yang berharap menjadi legenda namun kini tersesat di neraka.
Ia membuka mata. Mengamati.
Segala yang dihancurkan monster itu kembali seperti semula. Pohon tumbuh lagi. Hewan muncul lagi. Tapi satu pohon besar—setinggi monster bukit—ia biarkan utuh. Dan naga itu… masih tergeletak, tak bangun.
Tempat ini mengembalikan segalanya ke wujud awal, pikir Dien.
Lalu kenapa tanganku belum sembuh? Kenapa naga itu tetap tumbang?
Sementara itu Andreas mengitari udara, memancing kemarahan monster bukit. Setiap ayunan tangan dihindarinya dengan susah payah.