The Hidden Soul Of Kaz

Hiday atrum
Chapter #6

Istana Han

Istana Han

Hewan-hewan bercahaya mengitari pohon besar di tengah istana kerajaan. Pohon itu menjulang tinggi dan meneduhkan. Batangnya menjalar membentuk pusaran, beranting banyak berdaun subur.

Inilah pohon makam, pohon kuburan—bercahaya terang ketika malam, rindang dan teduh saat pagi datang. Gumpalan-gumpalan energi menyerupai antimateri terlihat jelas; berwarna biru tatkala pagi, kuning ketika malam.

Tidak semua makhluk mengetahui tempat ini, sebab ia dijaga dengan sangat rapi di dalam istana yang megah dan mewah.

Dinding emas berkilau-kilau beratap besi tahan panas tidak berkarat. Batu-batu langka seperti merah delima, hanya menjadi lantai untuk berjalan, jendela-jendelanya tidak terbuat dari pasir kaca, tapi terbuat dari marjan khusus yang transparan.

Dupa-dupa di atas meja menyala setiap saat, berada di depan pintu masuk seluruh ruangan. Asap dari dupa itu tidak menyakitkan mata dan tidak pula merusak pernapasan; jumlahnya sedikit, namun aromanya semerbak ke segala arah.

Suasana menyenangkan meski ketat penjagaan. Selain dari makhluk yang bertugas dan keluarga kerajaan, tak satu pun yang dapat masuk hingga sejauh ini.

Inilah istana bagian utama Kerajaan Han, dipimpin oleh Raja Hadsan. Ia memiliki enam anak laki-laki dan satu anak perempuan.

Han adalah salah satu makhluk yang amat disegani, sebab Kerajaan Han merupakan kerajaan terbesar nomor dua, di seluruh kerajaan Dunia Tersembunyi. Bahkan, wilayah istana kerajaannya terbagi menjadi lima bagian, yaitu Istana Barat, Istana Timur, Istana Selatan, Istana Utara, dan Istana Utama.

Wujud mereka hampir serupa dengan makhluk seperti manusia di bumi. Namun han tidak memiliki bulu pada kulit-kulitnya; kecuali alis, bulu mata dan rambut saja. Mereka bahkan, tidak berkeringat. Sempurna dalam rupa, mulia dalam akhlak, bagi para pengikut yang memuja mereka.

Han punya anugerah menggaibkan suatu makhluk jika berhasil menyatukan darah dengan mereka, melalui ritual penyatuan darah.

Bangsa Han terbagi menjadi 2 bagian, kasta tinggi dan kasta rendah. Tentu kasta tinggi adalah keturunan raja-raja, kasta rendah adalah rakyat biasa. 1945 tahun lamanya, Bangsa Han dan rosman menjadi sekutu.

Han menyelamatkan rosman dari kejamnya dunia. Sementara rosman, menyelamatkan han dari kematiannya.

13 hari setelah kejadian hutan terlarang yang menyebabkan tangan Dien patah, Simon tiada, Andreas kehilangan kudanya, Sem termenung lama, menjadi dasar yang membuat Fiqon ingin menghibur mereka. Besok adalah hari di mana Fiqon akan bertanding untuk menentukan penyihir peringkat berapakah dia, di generasinya.

Fiqon diizinkan membawa keluarga rosman dalam pertandingan. Dia membawa Dien, 2 adik perempuannya yang kembar, Aisar neneknya dan juga Sem. Sayang sekali Andreas tidak boleh ikut, karena ini adalah pertandingan calon Kazu; hanya bisa disaksikan rosman, sulmen dan para han.

Malam itu, dengan beberapa rosman lainnya, semua berangkat bersama ke istana kerajaan. Atland penunggang lipan berbulu putih keemasan membawa mereka menuju portal. Di atas lipan, tepatnya di samping Fiqon, ada rosman yang tidak pernah dilihat oleh Dien, rosman itu sedikit berbeda. Karena di tangannya terdapat goresan-goresan pisau yang mengerikan, dia juga berbadan besar dan tinggi sekali.

Dien menduga, pria ini adalah rosman yang paling tinggi sejauh yang ia tahu.

Sesampainya di depan palang portal menuju istana, ada 2 penjaga yang berdiri di sana, satunya sulmen dan satunya dari Bangsa Han yang mulia. Sulmen itu berbulu monyet berkaki 4 dan han penjaga pintu gerbang itu, membuka portal keluar dari taman; ia melakukannya tanpa perintah. Lalu berkata;

“Jangan pernah membuka penutup kepala kalian, itu akan menyelamatkan kalian selamanya di luar taman.” Mereka semua masuk ke portal itu dan berpindah dimensi.

Sekarang mereka berada di istana Kerajaan Han Utama. Melihat semua kemewahan di depan mereka, Sem yang kaku pun mulai tersenyum. Sem terpukau dengan kilau warna mentereng di seluruh area. Meski begitu silau, mata tidak sakit sama sekali. Sementara Dien, langsung melihat ke bawah; Dien kaget karna rupanya, mereka di atas kuburan.

“Apa ini?” Tanya Dien. Fiqon tertawa karna dia mengerti, apa yang sedang Dien pikirkan. Tanpa menjawab pertanyaan Dien, Fiqon berkata “Pertandingan ku besok pagi. Kalian boleh berkeliling atau beristirahat. Kalau keliling, jangan lupa gunakan penutup kepala. Penutup kepala, akan menyelamatkan kalian di dunia ini. Karena para asebel makhluk dari kerajaan lain kadang-kadang berkeliaran. Meski, asebel itu hanya ada di luar istana, aku tetap harus ingatkan kepada kalian; adik-adikku yang aneh.”

Kemudian ia sambung dengan tertawa dan berjalan mengikuti dayang-dayang penunjuk jalan.

Dayang kerajaan membawa mereka ke kamar peristirahatan. Dupa-dupa atas meja, di depan setiap pintu ruangan, sangat wangi sekali. Aroma yang berbeda meski sejatinya, para rosman memiliki aroma tubuh yang khas. Mereka merasa, dupa ini lebih wangi ketimbang anugrah dari aroma badan mereka sendiri.

Di dalam kamar yang besar, kasur yang empuk, Dien memilih untuk berdiri di depan jendela yang terbuat dari marjan. Dien melihat ke jendela itu. Di bawah sana, banyak para aibret yang baru pertama kali dilihat olehnya. Aibret itu berleher panjang berbadan kurus. Perutnya buncit kulitnya biru, terdapat daging berlebih seperti ekor di kepalanya. Mereka berpakaian rapi dan memakai perhiasan dari mutiara dan emas.

Dia juga melihat para atland serta banyak sekali para sulmen dengan wajah hewan beragam macam.

Di tengah kerumunan itu, selompok anak dari Bangsa Han sedang bermain bersama. Di antara mereka ada gadis sebaya Dien yang tiba-tiba tersandung, saat itu terjadi; anak-anak di sekelilingnya malah tertawa. Gadis itu membalas tawa mereka dan berdiri lalu bermain kembali. Tidak begitu jauh dari sana, terlihat gadis sebaya Dien juga. Ia sedang berlari kemudian tersandung dan ia terjatuh.

Melihat gadis itu terjatuh, han dewasa berlari menolongnya untuk berdiri. Dien heran, kenapa ada perlakuan yang berbeda terhadap gadis yang satu ini.

Dien melihatnya dengan seksama, seketika gadis itu melihat ke arah Dien juga, Dien tertegun dibuatnya. Tak disangka, gadis itu indah sekali.

Dia seperti han lainnya, namun matanya hijau indah berseri-seri. Kulitnya putih kemerahan. Senyumnya rapi membuat dunia ingin berhenti untuk melihatnya.

Fiqon tiba-tiba menepuk pundaknya. Dien kaget dan bertingkah bodoh. Gadis di bawa tertawa melihat tingkah itu. Dien menoleh kembali dan tertegun lagi, karena gadis itu tertawa.

Fiqon bicara, tapi seakan tak ada suara. 2 adik kembar fiqon meloncat-loncat di atas tempat istirahat, nenek Aisar kerepotan meminta mereka berhenti juga tidak terdengar. Sem menutup kepalanya dengan bantal, Dien tak peduli kalau soal Sem, karena Sem kaku tak se asik Andreas. Kalau saja ada Andreas, Dien pasti turun ke bawah lalu bermain bersama; anak-anak yang lain. Terpikir demikian, Dien pun merasa ingin turun ke bawah sendirian.

“Fiqon, aku mau lihat-lihat ke bawah” Tiba-tiba Dien mengatakan itu. Fiqon yang ramah, senyum dan mengizinkannya.


*


Istana kerajaan begitu megah, tapi sudah terlihat biasa saja semenjak yang lebih indah tersenyum padanya. Dien turun dan menyaksikan kebahagian makhluk-makhluk di luar taman firdos. Mereka berpesta dan minum-minum khamar. Wanita-wanita menari di depan prianya. Para pedagang pun ikut tertawa karena apa yang ia jual laris semua. Anak-anak terlihat tanpa beban, cuma ada mimik wajah ceria tak seperti Sem. Meski para sulmen seram-seram seperti hewan buas, tetap saja di luar taman, mereka tampak sangat bahagia.

Dien mencari keberadaan gadis tadi… mengelilingi istana hingga larut malam. Tapi Dien tidak melihatnya.

Sedikit kecewa melanda malam itu, pasti tidurnya tidak akan senyaman yang sudah-sudah.


Wanita indah kadang suka mencuri akal sehat. Mengambil waktu tidur dan membuat hati bersedih, perih dan tawa sama saja. Karena melihatnya membuat mata terlena. Mimpi tidak ada yang lebih besar dari ini, melihat wanita menawan sang pujaan hati setiap hari, adalah hal yang paling berharga dari hidup itu sendiri. Gila, rosman ini langsung jatuh cinta.


Malam berpulang ke tempatnya. Dien terdiam sembari tersenyum tipis, tawanya hanya dapat diingat dan dinikmati sementara. Mata masih terbuka, rasanya ingin cepat-cepat pagi. Ketika pikiran kosong sejenak mata pun tertutup juga. Mentari datang menyapa kecepatan. Ini diluar jam kerjanya, Begitulah yang raga Dien rasakan. Dien tersadar, kalau semalam waktu tidurnya tersita teramat banyak. Gadis itu, bukanlah makhluk sebangsanya. Dien, kau harus segera melupakannya.


**


Pagi ini, para rosman angkatan Fiqon. G322 di panggil di aula tes. Sebuah tes untuk menentukan siapa yang akan menjadi Kazu—Kaz terbaik di generasi itu. Mereka semua ada 32 rosman dari sebelumnya 2000 rosman, 1968 rosman lainnya tidak perlu masuk ke babak ini. Kerajaan sudah memberikan tugas kepada masing-masing mereka.

Sedang 32 rosman yang ikut babak ini tentu akan menjadi penjaga anggota kerajaan yang penting-penting. Seperti anak pertama raja, anak gubernur kerajaan dan seterusnya.

Di aula, sosok menyeramkan berdiri di tengah-tengah. Sosok itu adalah sulmen, tubuhnya kekar dan besar, dia memiliki sayap berkepala singa, ia bertanduk tajam kaya rusa. Mereka memanggilnya Pasoken Sulmen.

Sulmen yang paling mengerikan dalam pertempuran. Saat ini ia menjadi wasit dari seleksi mencari Kazu di angkatan generasi 322.

Dien dan keluarga duduk di bangku penonton, untuk menyaksikan bagaimana Fiqon akan bertempur meski tongkat jiwa Fiqon tidak pernah diperlihatkan sebelumnya kepada sang adik. Bahkan Aisar neneknya juga belum tahu sama sekali. Di bangku hanya ada para rosman, han, dan beberapa sulmen. Selebihnya tidak diizinkan masuk ke aula ini. Keamanan dari keberadaan rosman adalah prioritas nomor satu di dalam Kerajaan Han.

Lihat selengkapnya