The Hidden Soul Of Kaz

Hiday atrum
Chapter #3

Hutan Terlarang

Hutan Terlarang

Dien dan Andreas meluncur di atas Taman Firdos, tertawa lepas sambil berputar-putar seperti menaiki roller coaster yang tak terlihat.

Angin menerpa wajah mereka kencang, tapi tidak ada rasa takut sama sekali; setiap tikungan, dan lompatan udara justru membuat mereka semakin terhibur.

Pemandangan dari atas begitu memukau dan hidup, hingga mereka hampir tak percaya mata mereka sendiri.

Di tengah semua keseruan itu, mereka nyaris lupa bahwa tempat yang sedang mereka tuju bukanlah langit yang indah, melainkan neraka yang menunggu.

Seekor tupai berdiri tak jauh dari jalur terbang mereka. Tubuhnya lebih besar dari tupai biasa, wajahnya tampak tua, lengkap dengan janggut dan kumis yang membuatnya terlihat ganjil, untuk makhluk sejenisnya.

"Andreas!" teriak seekor tupai di puncak pohon yang tinggi.

"Apa kamu lupa akan janjimu?" tanyanya sambil berteriak. Namun suara itu hanya sampai ke telinga Andreas. Karena itu adalah kemampuan khas para Atland.

Andreas juga berteriak sambil tertawa, mengatakan "tentu tidak kawan" kemudian ia mengendarai Baraq untuk berbalik arah.

Sejenak, Dien diliputi tanya yang tak terucap; kepada siapa Andreas mengarahkan kata-kata itu?

Kuda terbang itu mendarat, Andreas dan Dien turun dari punggungnya.

Tupai yang sebelumnya berada di puncak pohon tinggi melompat bebas ke bawah, membentangkan selaput di antara tangan dan kakinya. Sekilas, makhluk itu tampak melayang layaknya burung, sementara Andreas telah menunggu di bawah.

Dalam satu gerakan ringan, Andreas menangkap tupai itu seolah sedang menyambut buah jambu yang jatuh dari pohonnya.

Dien hanya terdiam, mencoba memahami hubungan aneh di hadapannya. Apakah kedekatan itu serupa dengan ikatannya pada Sem—yang baru saja ia panggil tupai?.

Tiba-tiba, kuda hitam bersayap mengelus kepala ke Dien.

Sentuhan lembut itu memutus benang pikirannya, memaksanya mengalihkan perhatian dari Andreas dan tupai aneh tersebut.

Mereka terlihat akrab, seolah sudah bersama sejak dahulu kala. Keduanya lalu berdialog, namun bagi Dien, kata-kata tupai tak lebih dari keheningan—suara yang sepenuhnya berada di luar jangkauan pendengarannya.

Padahal telinganya panjang.

Baik rosman atau pun atland, mereka sama-sama punya indra pendengaran yang baik. Tapi suara tupai memang benar-benar tidak terdengar sama sekali.

Andreas menyerahkan tas kecil kepada si tupai. Di dalamnya terdapat beberapa biji-bijian atau bibit tanaman; mungkin di antara bibit itu ada biji apel dan juga biji jambu. Karena waktu terus berjalan dan Sem sendirian di hutan terlarang, Dien memanggil Andreas, “Hay Andreas, mari kita lanjutkan perjalanan kita.”

“Andreas… bukankah itu rosman? Ada urusan apa dengannya?” tanya tupai itu tiba-tiba.

“Kami akan pergi ke hutan terlarang. Apa kau mau ikut?” jawab Andreas kepada tupai tua itu.

Dien berjalan mendekati mereka, lalu berbicara kepada tupai itu, “Aku Dien, kamu siapa?” Ia memperkenalkan diri. Namun, tupai hanya menatapnya dan memalingkan wajah seakan tak acuh.

Hal itu membuat Dien bertanya, “Andreas, kenapa dia tidak menjawabku? Bahkan dia tidak merespon sama sekali.”

“Mereka tidak bisa mengerti bahasamu, Dien,” jawab Andreas.

“Tapi kamu bicara pada mereka dengan bahasa yang sama seperti saat kau bicara denganku. Aku tidak mendengar kosa kata yang berbeda sama sekali, begitu juga saat kau bicara dengan Baraq,” protes Dien, mulai merasakan keanehan.

“Ini adalah anugerah dari kejadian kami. Kami bisa mendengar mereka dengan bahasa kami, dan mereka juga bisa mendengar kami dengan bahasa mereka, meski kami tidak mengetahui bahasa mereka yang sebenarnya seperti apa. Itulah sebabnya aku tidak bisa mengajarkanmu untuk mengerti bahasa mereka,” jelas Andreas menanggapi protes Dien.

Dien terdiam, mencoba meresapi maksud perkataan itu.

“Tapi aku bisa meminta mereka untuk berteman denganmu jika kau mau,” sambung Andreas kepada Dien yang sedang mencerna penjelasannya. “Bagaimana, Dien, apakah kau mau?” tanya Andreas, memperhatikan Dien yang hanya termenung.

“Iya, tentu. Aku mau, Andreas,” jawab Dien setelah mulai mengerti maksud dari kalimat anugerah sebelumnya.

"Simon, kenalkan ini temanku, namanya Dien. Dia dari Golongan Rosman. Dia ingin berteman denganmu,” ucap Andreas dengan kebiasaannya; ia selalu tersenyum setiap kali berbicara, bahkan ketika berbicara kepada seekor tupai.

Andreas memang selalu menampilkan keceriaan di wajahnya; senyum dan tawanya begitu menular. Semua mungkin menyukainya, jika saja ia sedikit lebih sopan dalam bicara.

Mendengar perkataan Andreas, Simon menjawab dengan penuh kegembiraan, “Baiklah, aku akan berteman dengannya. Beritahu dia namaku Simon,” kata tupai tua itu.

“Nama teman kecilku ini adalah Simon. Jika kau memanggilnya, mungkin dia akan mencoba mengerti bahasamu. Meskipun sulit, ia akan tetap berusaha,” tambah Andreas.

Si tupai meraih tangan Dien, lalu bergelantungan hingga berdiri di atas bahunya, sementara Andreas menjelaskan hal yang tadi ia katakan tentang Simon.

Melihat itu, Dien memanggil nama tupai, “Salam kenal, teman kecilku, Simon. Oh iya, itu nama yang sangat bagus untukmu,” ujarnya sambil mengelus kepala Simon.

Simon terlihat nyaman, lalu memberikannya biji apel yang ada di dalam tas kecilnya—hadiah dari Andreas sebelumnya. Dien mengambil biji itu dan memberikannya kembali kepada Simon.

Simon menerima pemberian itu lagi, kemudian berlari di atas tanah, menggali dengan tangannya, dan menanam biji itu di dalam tanah.

Dien terkejut, menyangka Simon sedang marah karena ia mengembalikan biji apel itu.

“Ada apa dengan Simon?” tanyanya kepada Andreas.

Seperti biasa, Andreas tertawa ketika menjawab, atau setidaknya tersenyum terlebih dahulu sebelum berbicara.

“Itu memang kebiasaan para tupai. Ia bermaksud menyimpan makanannya di tanah. Tapi kadang mereka lupa di mana menyimpan makanan itu, dan ketika mengingatnya, ternyata makanan itu sudah tumbuh menjadi pohon,” jelas Andreas sambil tertawa.

Sebenarnya tidak begitu lucu, tapi apa yang Andreas bayangkan memang terasa sangat lucu. Sayang, ia tidak menyampaikannya kepada Dien.

Bisa jadi yang Andreas bayangkan adalah perasaan seekor tupai yang kelaparan ketika mencari di mana ia menyimpan makanannya, dan ternyata makanan itu sudah tumbuh menjadi pohon. Kemudian si tupai pun menangis, sementara Andreas tertawa membayangkannya. Bisa jadi pula yang ia bayangkan memang sesuatu yang tak terjangkau oleh pikiran biasa. Andreas memang unik, seunik tupai yang bisa terbang tapi tak memiliki sayap seperti burung, seunik Sem yang berayun menggunakan anak panah di dalam hutan yang rindang.

Setelah menanam biji apel, Simon berlari ke arah Dien dan berkata,

“Aku ikut ke hutan terlarang. Aku akan mengambil biji-bijian langkah di sana,” ucapnya dengan lugas, tanpa sedikit pun rasa takut.

Andreas menjadi penerjemah bagi Simon.

“Simon ingin ikut bersama kita,” terjemahan dari Andreas.

Dien melihat ke arahnya, sedikit tidak setuju.

“Itu kemauan Simon,” jawab Andreas memperjelas.

Apa boleh buat, Dien hanya bisa terdiam.

Simon memanjat tubuh Dien, lalu berdiri mantap di atas bahunya.

Mereka semua kembali bergerak, begitu pula kuda hitam yang sejak tadi hanya menikmati rehatnya. Sayap-sayap kembali dibentangkan, dan Simon ikut menyesuaikan diri, bertengger di punggung Dien mengikuti irama gerakan sayap.

Melihat pemandangan tersebut, Andreas tertawa lepas.

“Jangan berkhayal, Simon,” serunya.

Tawa mereka pun menyatu. Di sela gelak tawa, Andreas memberi perintah,

“Baraq, maju!”

Baraq segera berlari, lalu menghentakkan tubuhnya ke udara. Dengan kepakan sayap yang kuat, ia terbang melesat, membawa mereka menuju neraka Taman Firdos.


*


Di atas awan, mereka melanjutkan percakapan.

“Para tupai ibarat atland di hutan. Mereka sangat berjasa menanam bibit pohon. ‘Hahaha,’ itu memang kekurangan bagi para tupai, tapi kekurangan itu justru sangat bermanfaat bagi makhluk hutan lainnya. Simon-simon, kau begitu baik, kawan…” Langit pun dihiasi suara tawa mereka, lebih tepatnya, suara tawa Andreas.

Saat tengah melaju di udara, Baraq—kuda terbang—tiba-tiba menghantam sebuah pembatas tak kasatmata.

Benturan keras mengguncang segalanya. Tubuh Baraq dan para penunggangnya terpental seolah menabrak dinding, meski tak satu pun bisa melihat wujudnya.

Pembatas tak terlihat terasa lebih kokoh daripada besi mana pun yang pernah ada di dunia.

Kesadaran mereka terpecah. Andreas nyaris melepas tali pegangannya, tubuhnya terombang dalam sepersekian detik yang menentukan.

Sementara itu, Dien sepenuhnya kehilangan kesadaran—tali terlepas, dan tubuhnya jatuh bebas ke bawah.

Tak ada yang menunggu di sana. Bahkan para kera pun menjauhi tempat itu.

Tanah keras dan deretan pohon-pohon tinggi menganga di bawah, siap menjadi akhir dari kehidupan mereka.

Simon, si tupai tua, mendarat tepat di hidung Baraq dan menggigitnya tanpa ragu.

Gigitan Simon memaksa Baraq sadar dari peningnya. Tepat sebelum tubuh mereka menghantam tanah, kuda terbang menghentakkan kakinya dan menahan jatuh, menyelamatkan mereka dari benturan mematikan.

Mereka akhirnya tergeletak di tanah. Di saat itulah Simon melepaskan bau busuknya.

Dua anak laki-laki itu pun tersentak bangun dari mati surinya dan mengeluh hampir bersamaan, dengan ritme yang sama,

“Bau taik… siapa yang buang kotoran di hidungku?”

Dalam keadaan babak belur dan nyaris celaka, mereka masih sempat bercanda—dan tawa Andreas pun pecah, memecah ketegangan yang tersisa.

“Andreas, berisik! Tidak ada yang lucu, kau tahu... tawamu malah membuat kepalaku pusing,” protes Dien.

“Hahaha, kau tidak sadar, Dien? Kita tadi bicara serentak. Kita baru saja saling kenal, tapi sudah sekompak ini. Menurutku lucu—bahkan hebat,” balas Andreas.

“Ha ha ha, sama sekali tidak lucu, Andreas. Kecuali benjolan di kepalamu, mungkin itu bisa membuatku tertawa…” Dien terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada ragu, “Eh… sebenarnya kau ini siapa?”

Andreas pun menghentikan tawanya dan menatap Dien dengan heran.

“Wajahmu berubah. Kau tampak seperti baru saja disengat lebah,” katanya.

“Sumpah, aku tidak mengenalmu, hahaha,” balas Dien sambil ikut-ikutan mencari bahan bercandaan.

“Ini bukan sengatan lebah,” kata Andreas sambil terkekeh, menoleh ke arah Baraq.

“Ini lebih tepatnya seperti dicium gajah besar—disedot pakai belalainya yang panjang,” sambil menunjuk benjolannya.

Ia lalu menambahkan, “Dien, lihat Baraq! Kepalanya seperti tumbuh tanduk. Jauh lebih keren dari sebelumnya.”

Tawa mereka pun pecah kembali, sementara Simon hanya mengamati dua bocah tengil itu dengan diam.

Tiba-tiba, para kera mulai mendekati mereka. Semula, makhluk-makhluk itu mengira Dien dan kawan-kawannya telah mati. Namun yang mereka lihat justru sebaliknya—tawa pecah di antara tubuh-tubuh yang baru saja nyaris meregang nyawa.

“Makhluk macam apa mereka?” gumam salah satu kera berbulu cokelat keemasan, yang tampak paling mencolok di antara kawanan.

“Kukira mereka sudah mati, tapi malah bersenang-senang begini.”

Ucapan itu tertangkap jelas oleh Andreas. Ia mendongak ke arah pepohonan.

“Hai, kau di sana! Aku atland. Aku bisa mendengar kalian,” teriaknya lantang. “Kemarilah! Kami butuh bantuan!”

“Jangan berisik!” sahut para kera dari atas pohon. “Tempat ini berbahaya.”

Andreas mendengus, lalu berteriak lagi, “Hai, kau! Jangan berbisik. Jarakmu terlalu jauh. Apa kalian tidak diajarkan sopan santun?”

“Kami para kera,” jawab salah satu dari mereka. “Kami tidak membutuhkan itu.”

Jumlah mereka ternyata banyak—sebagian menampakkan diri di dahan-dahan rendah, sementara yang lain tetap bersembunyi di balik rimbunnya daun.

“Tapi tidak di hadapanku,” kata Andreas tegas sambil berdiri.

“Kalian perlu sopan santun, karena aku adalah atland.”

Para kera pun mencela Andreas. “Enak saja, aturan dari mana itu?” tanya beberapa kera yang berlari ke sana ke mari.

“Itu aturanku. Sebab aku atland. Tugasku adalah menuntun kalian. Tidakkah kalian sadar? Kita sedang berdialog sekarang,” jawab Andreas dengan menekankan kalimatnya.

“Benar juga… iya benar juga, dia bisa berdialog dengan kita,” bisik para kera yang mulai mencoba mengakui. Mereka mulai mendengarkan Andreas.

Salah satu kera mendekati Andreas dan kawan-kawannya.

“Baiklah, atland,” katanya. “Kami adalah kawanan kera yang tinggal di wilayah ini. Kami menunggu burung-burung jatuh dari atas. Kadang mereka membawa buah, kadang ikan, dan kadang… kami memakan burung-burung yang sudah mati.”

Andreas menoleh ke sekeliling. Saat itulah ia menyadari kebenarannya. Bangkai-bangkai burung berserakan di tanah—sayap terkulai, tubuh remuk, bulu-bulu tercabik.

“Dien, lihat sekitarmu.”

Dien menoleh, dan napasnya tertahan. Mereka berdiri di tengah sisa-sisa kematian—darah yang mengering, daging busuk, tulang-belulang, serta bulu dari berbagai jenis burung. Barangkali, semua makhluk itu jatuh dengan cara yang sama seperti mereka tadi.

“Andreas…” gumam Dien sambil bangkit berdiri. Tupai dan kuda terbang pun ikut berdiri. Tak ada lagi tawa.

“Ini mengerikan,” kata Andreas pelan. “Bagaimana semua ini bisa terjadi?”

“Mereka menabrak pembatas hutan terlarang,” jawab si kera. “Pembatasnya tak terlihat—sama seperti yang kalian alami. Setiap kali terdengar benturan besar dari atas, kami menjauh. Setelah kami yakin tak ada yang bergerak lagi, barulah kami datang… demi bertahan hidup.”

Andreas terdiam.

“Jadi… itu kenyataannya?” tanyanya, nyaris tak percaya.

Yang lain hanya menyimak. Termasuk Dien, yang kini mulai memahami bahwa tempat ini bukan sekadar wilayah berbahaya—melainkan perangkap kematian yang telah lama menunggu korban berikutnya.

“Kenapa kalian tidak memakan buah-buahan di hutan ini saja?” tanya Andreas lagi.

“Leluhur kami melarangnya,” jawab kera itu.

“Kami dilarang meninggalkan area ini. Leluhur juga melarang kami memakan buah-buahan di hutan karena para ular meletakkan racunnya ke dalam buah. Racun itu membuat buah menjadi berbahaya bagi kami.”

“Ular meletakkan racun ke dalam buah?” Andreas mengernyit.

“Aku belum pernah melihat hal semacam itu.” Ia menghela napas singkat. “Kalian benar-benar hidup dalam ketakutan yang diwariskan. Itu… memprihatinkan.”

Ia melangkah sedikit ke depan.

“Aku akan mengatakan sesuatu pada kalian. Buah di hutan ini memang bisa berbahaya bagi pohon-pohon tua yang telah lama tercemar. Tapi tidak bagi pohon yang baru tumbuh.”

Andreas menatap kawanan kera satu per satu.

“Percayalah, ular tidak bisa meletakkan racunnya ke dalam buah. Aku atland. Aku memahami hal semacam ini.”

“Simon,” panggilnya tiba-tiba.

Simon segera mengerti. Ia mengeluarkan biji-bijian dan menyerahkannya kepada para kera.

“Tanamlah ini,” kata Andreas lantang. “Aku bersumpah dan bertanggung jawab. Kelak buahnya akan aman dan segar untuk kalian makan—tanpa racun, tanpa tipu daya.”

Dien mulai menangkap maksud Andreas, meski belum sepenuhnya. Ia memperhatikan kawanan kera yang mendadak kegirangan; sebagian melompat, sebagian berayun di dahan, sementara yang lain mulai menggali tanah dengan tangan-tangan mereka.

Pemandangan itu mengingatkannya pada pagi hari tadi, saat ia mengejar saudaranya, Sem.

Lihat selengkapnya