The Hidden Soul Of Kaz

Hiday atrum
Chapter #5

Jurang Kegelapan

Jurang Kegelapan

Di satu sisi pembatas, Dien terperangkap. Di sisi lainnya, Sem hanya bisa menatap, dihantui satu kemungkinan: bahwa keterlambatannya sendiri bisa membunuh adiknya.

Sem seakan putus asa; ia tidak tahu bagaimana cara menolong Dien, adik sepupunya.

Sem berkata:

“Aku sudah melarangmu ikut, kalau kau mati, ibu akan menyalahkanku.”

Sem menarik napas panjang, terdengar seperti keluhan yang tertahan di dadanya.

“Aku memintamu pulang. Tapi kau malah berada di dalam pembatas—entah bagaimana caranya.”

Sem menyapu rambutnya sendiri sambil mondar-mandir di luar pembatas.

“Sialan,” katanya. “Apa ini cuma ilusi?…”

Ia bicara sendiri, kemudian mencolok hidung dengan jari telunjuk sangat dalam sampai ia sendiri meringis kesakitan.

Melihat itu, Dien mencela,

“Kenapa kau mencolok lubang hidungmu, Sem?”

“Si kera itu tadi melakukan ini agar aku sadar dari ilusi.”

“Benarkah? Ternyata semudah itu terlepas dari ilusi sialan di depan pembatas. Padahal kami sangat sulit menyadarkan diri dari hal itu.”

Kemudian Sem langsung menyanggah,

“Kami?”

Dien segera menjawab,

“Iya, aku ke sini bersama atland yang sejawat. Ia memiliki kuda bersayap.”

Mendengar itu, Sem bertanya lagi,

“Atland sejawat? Tidak mungkin. Ini pasti ilusi.”

“Tupai bodoh, konyol. Tak perlu kau habiskan waktumu untuk bingung ini ilusi atau bukan. Aku hampir mati di tempat ini. Apa itu yang kau inginkan?…”

“Tentu tidak, meskipun Dien menjengkelkan, dia tetap sepupuku yang sangat kusayangi.”

Dien tertegun sebentar, dadanya terasa menghangat sesaat, mendengar Sem mengatakan itu.

“Jika begitu, bantu aku keluar dari sini, Sem.”

“Bagaimana caranya?” tanya Sem.

“Sejatinya dari tadi aku sudah memikirkan berbagai macam cara. Namun satu-satunya cara yang mungkin berhasil adalah….” terhenti dengan tanya yang belum terjawab.

Percakapan Dien dan Sem mulai menyusun strategi.

“Aku bisa berada di sini karena sebelumnya terperangkap di dalam mulut naga raksasa.”

“Apa? Ini pasti ilusi,” sahut Sem.

“Ayolah, sejak kapan kau menjadi benar-benar tolol seperti ini. Tolong dengarkan aku dahulu, kemudian ikuti!” Dien menekan kata-katanya, suaranya bergetar menahan cemas.

“Baik, ini demi Dien sialan,” balas Sem, mulai pasrah.

“Baik. Hanya hewan sejenis ular dan naga saja yang bisa keluar-masuk ke dalam pembatas ini.”

Sem ingin menjawab kembali, tapi Dien mematahkannya.

“Berhentilah mencela! Biar aku jelaskan saja. Kita tidak punya banyak waktu lagi.”

Sem yang mendengarkan hal itu pun tak berdaya dan hanya memilih untuk mendengarkan.

“Satu-satunya cara: kami harus kembali berada di dalam mulut sang naga. Karena jika kami hanya mengendalikannya, maka kami pasti terpental ketika naga itu melewati pembatasnya.”

“Maaf, lalu kenapa tidak langsung dilakukan saja?” tanya Sem.

“Hilangkan keraguanmu itu, Sem! Keraguanmu akan mencelakakanku!”

Sem kembali terkejut atas kalimat Dien yang berada di dalam pembatas hutan terlarang.

“Jika kau benar-benar Dien, setelah keluar nanti, aku akan menendang pantatmu.”

“Haha, kenapa?” Dien masih mampu tertawa, meski napasnya terasa pendek. Kebiasaan Andreas sepertinya sudah mewarnainya.

“Seenak jidat dari tadi kau mengatakanku meninggikan suaramu.”

“Baiklah, aku pun juga akan memukulmu setelah ini, tapi nanti saja. Bantu aku keluar dari tempat ini dulu.”

Mereka sepakat untuk saling bergaduh setelah perkara ini selesai.

Rencana Dien:

“Sem, saat kami sudah berada di dalam mulut sang naga, tidak ada yang bisa memastikan naga itu akan keluar dari pembatas ini. Hal yang baru saja aku sadari tentang sihirmu—mengenai gajah dan lebah yang mengejarku—bukan bermaksud menindasku. Tapi mereka seperti menyukaiku. Apa aku benar mengenai efek sihirmu itu?” tanya Dien memastikan.

“Benar sekali. Aku juga yakin sekali kau adalah Dien. Masalah menendang pantat itu bukan janji, aku cuma bercanda. Lalu, apakah kamu bermaksud memintaku melakukan sihir kepada naga yang kamu sebutkan tadi?”

“Iya. Aku akan mengarahkannya dari sini. Dari sekian banyak perubahan panah yang kau miliki, hanya anak panah merah muda yang bisa menembus pembatasnya.”

“Mari kita coba. Tunggu, aku akan meminta Andreas dan yang lain kemari,” balas Sem.

Percakapan mereka lumayan memakan waktu; untung saja naga itu sedang berkelahi dengan monster batu.

Sementara Andreas dan yang lain masih menunggu. Seperti yang Dien sampaikan sebelumnya, satu-satunya cara agar mereka bisa keluar dari tempat ini adalah mengikuti instruksi Dien dengan baik.

Tatkala suara Dien terdengar samar-samar di bawah pohon tinggi yang memiliki lubang seperti gua di bagian bawahnya, mereka pun bertanya-tanya tentang suara itu.

“Dengar, apa Dien sudah meminta kita keluar?” tanya Andreas.

“Bukan,” kata Simon, yang dari tadi sudah menunjukkan kebijaksanaannya.

“Itu adalah suara pohon menjerit.”

“Tidak, Simon. Kali ini kamu salah. Itu Dien. Aku yakin sekali,” kata Andreas.

“Suaranya jauh sekali,” kata Simon.

“Saatnya beraksi, karena Dien sudah memanggil kita. Baraq, apa kau masih ingin bersembunyi seperti kucing rumahan?”

Baraq pun mengatakan tidak dengan isyarat. Mereka pun bersiap-siap. Dari kejauhan, monster dan naga itu masih berseteru dengan sengit. Setelah keluar dari lubang tempat persembunyian yang berjarak sepuluh meter dari lokasi itu, barulah mereka mendengar suara Dien dengan jelas. Sementara pandangan mereka masih tertutupi pohon-pohon di Hutan Terlarang—yang sesungguhnya telah Dien ketahui hanyalah ilusi.

“Andreas… tolong… aku di ujung pembatas, kemarilah!” kata Dien dengan teriakan yang hampir saja memutuskan urat lehernya.

Andreas kemudian terbang ke arah suara itu menggunakan Baraq. Baraq tampak telah kembali pulih dari lelahnya yang hampir setengah mati, sehingga mereka bisa terbang sangat cepat. Dien melihat Andreas yang begitu memukau—kehadirannya berlatar dua monster yang bertarung sengit. Namun Andreas datang sambil tertawa. Tawa itu, yang kembali muncul, seakan menyihir Dien dari kecemasannya dan berubah menjadi kekuatan baru yang berapi-api.

Itulah Andreas Atland—pria kecil yang sebelumnya melarangnya memakan buah apel di tengah hutan, dan kini melewati masalah besar bersama. Dua bocah yang belum genap sepuluh tahun: satu rosman yang belajar di sekolah dasar penyihir, dan satu bocah atland yang gemar bercanda.

Lihat selengkapnya