The Ingredient of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #2

1. It's About How To End A Night

Angin malam Jakarta menggiring bau roti panggang dari sebuah toko roti artisan ke cuping hidung Dita, membuat gadis itu menghirup dalam-dalam aroma yang tak akan mungkin dia nikmati.

Wangi yang mahal.

Dompetnya pasti akan protes kalau sampai dia membeli salah satu roti di dalam toko itu. Dompet Dita hanya memberi izin membeli roti 3000-an. Lebih dari itu namanya pemborosan tidak penting.

"Thanks, Aphrodita. Berkat kamu saya bisa menikmati sedikit sisi lain Jakarta hari ini." 

Suara penumpang di belakangnya mengembalikan Dita kembali ke bumi. Seorang pria tinggi, rambut keriting dipotong pendek dan berkulit tembaga khas Indonesia Timur memberikan helm hijau pada Dita.

"Saya hanya nunjukin tempat-tempat yang dikira menarik untuk difoto." 

Glen tergelak. Menampilkan giginya yang rapi dan putih, kontras dengan warna kulitnya yang segelap tembaga, berkilau dalam gelap malam. Glen seorang fotografer profesional yang pernah bekerja untuk majalah internasional berbingkai kuning, begitu salah satu penuturan Glen pada Dita dalam perjalanan tadi siang hingga matahari kembali ke peraduannya.

"Dan gara-gara kamu, saya punya foto-foto bagus di memory card.”

"Hehe. My pleasure, Bang."

"Tadi kamu bilang, kamu masih kuliah?"

"Yup."

"Semester?"

"Akhir."

"Oh, lagi skripsian?"

“Betul.”

Glen mengangguk-angguk.

Lagi, Dita menghidu bau yang membuat perutnya berbunyi memalukan. Ugh, Glen langsung menoleh dan lirikan matanya jatuh ke perut Dita, membuat Dita ingin diterbangkan angin puting beliung untuk mendarat di Zimbabwe.

“Kebetulan kita di depan toko The Leisure Treasure Bakery. Mereka punya the best croissant in Jakarta kata banyak food vlogger. Yuk, saya traktir,” ajak Glen sambil mengedikkan kepalanya ke toko roti yang menguarkan aroma harum tadi.

Dita meringis malu dibuatnya. Traktir adalah kata favorit Dita sejak dua tahun terakhir. Tapi setelah pria hitam manis ini memberi tips segepok, Dita masih tahu diri.

“Enggak usah, Bang. Tapi makasih tawarannya.”

Glen tidak mau memaksa lebih jauh. “Ya udah. Berarti ini perpisahan kita. I really had a nice trip today, thanks to you," ucap Glen tulus.

"Sama-sama, Bang Glen."

“Di next event, semoga kita bertemu lagi dan kamu harus jadi tour guide saya."

Dita tertawa. "Tentu."

Lihat selengkapnya