The Ingredient of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #3

2. Home Is Where The Bullshit Is

Cukup tiga ketukan, teriakan MASUK dari balik pintu sudah membuat Ares tersenyum geli. Bikin kangen. Ares sudah berbulan-bulan tidak bertemu si bungsu.

"Siapa tuh cowok yang sembarangan ngerangkul adek Mas di Jogja? Caption-nya ‘best buddy in the world’? Halah. Nggak ada itu cewek sama cowok berteman," todong Ares sesaat setelah membuka lebar-lebar pintu kamar adiknya.

"Siapa, ya, yang udah janji mau temenin aku jalan-jalan tapi dua hari sebelum hari H tiba-tiba batalin. Katanya lagi sok sibuk di toko," balas Mita. Gadis itu tidak repot-repot memperlihatkan wajah betenya. Dia memunggungi kakaknya yang sudah menyamankan diri di kasur.

Ares sejujurnya butuh hiburan setelah kelelahan menemani Nina seharian. Misalnya, membuat adiknya marah.

"Jawab pertanyaan Mas, Shelomita," pinta Ares tegas, tapi terdengar lelah di saat yang sama oleh telinga si adik, membuat Mita mendengkus kesal, kemudian memutar tubuhnya cepat pada sang kakak dengan kursi gaming-nya. Ares sudah terpejam damai di kasurnya.

"Mas ngintilin aku? Stalking med-sos aku? Datang ke rumah sekali sewindu cuma buat nanya siapa cowok yang pergi sama aku? Gitu?" serang Mita.

Lagi-lagi Mita menyinggung Ares yang jarang pulang. Orang tuanya tidak pernah merasa perlu menyuruh anak sulungnya pulang. Namun, Mita berbeda. Si bungsu selalu merengek tidak terima bila kakaknya semakin jarang pulang. Untuk yang terakhir itu, Ares tidak akan membela diri. Itu makanya Ares memaksakan diri untuk datang ke rumah orang tuanya malam ini meski tubuhnya sudah tidak sanggup melawan gaya gravitasi.

"Tentu saja Mas periksa med-sos kamu. Berhari-hari nggak kasih kabar, tahu-tahu plesiran sama cowok. Siapa dia?"

"Temen."

"Temen apa temen?" kejar Ares. Matanya membuka karena suara defensif Mita membuatnya curiga. Sedikit merah jelaganya, karena Ares hampiiiir saja tertidur.

"Temen kuliah.”

Tertarik, si sulung menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur.

"Kok sedih gitu? Unrequited love, huh?"

"Ha ha ha. Kalau Mas cuma mau ngejek, mending keluar dari kamar ini sekarang juga. Malesin."

Ares malah tertawa lepas. Lelahnya sedikit terbayar setelah menjadi porter tas belanjaan Nina. Sayang , makan malamnya batal karena Nina mendapat panggilan darurat dari stasiun TV tempat—Nina menjadi presenter program talk show bertema life style di sana. 

"Mita, Mita. Sini. Duduk deket Mas. Mas kangen banget tahu!" Mencebik, tapi Mita patuh dan ikut bersandar di kepala ranjang di sisi kakaknya. "Maaf, ya, belakangan ini Mas nggak bisa sering ke rumah. Toko lagi banyak pesanan. Tapi untuk kamu yang ke Jogja bareng cowok …," Ares yang tadinya terlihat murah senyum tiba-tiba berubah serius. Pria itu mengunci iris Mita. "... there is no excuse, Young Lady. Kamu perempuan. Kalau ada apa-apa, Mas yang nomor satu menyesal karena nggak bisa jagain kamu."

Mita menunduk. Kata-kata kakaknya seratus persen benar. Tidak ada alasan yang pantas untuk membela dirinya.

"Sorry," sesal adiknya. "But he is a very nice companion. A friend, Mas. He also—"

"He also a man, Mita," potong Ares sabar. "Mas tahu isi pikiran mereka. Apalagi kamunya cantik begini. Sekarang paham, kan, kenapa Mas sewot kamu jalan sama laki-laki nggak jelas? Berdua pula."

"Aku memang cantik. I already know that," ucap Mita bangga.

"Bukan itu intinya."

"Aku nggak pergi berdua, kok. Temenku yang ngambil foto di med-sosku itu cewek," jawab Mita cepat.

"Kamu udah 21 tahun. Udah dewasa. Harus bisa menganalisis baik buruknya suatu keputusan untuk hidup kamu, Mita. Mas berharap kamu selalu mempertimbangkan apapun tindakan yang sudah dilakukan dan akan dilakukan nanti. Lalu—"

Lihat selengkapnya