The Ingredient of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #4

3. The Smile

Jika dipaksa membuat semacam daftar, ada tiga hal yang paling Ares butuhkan: waktu sebanyak mungkin untuk bereksperimen di dapurnya, Nina, dan kehangatan keluarga. Namun sayangnya, yang terakhir belum dia dapatkan. Makin ke sini, papanya makin sibuk dengan partai, mamanya sibuk mengelola yayasan sosial milik Dadang Sasongko, dan adiknya, oh, si manja Shelomita sedang sibuk mengerjakan skripsi.

Berhubung pilihan ketiga tidak akan terwujud, maka dia memilih untuk menenggelamkan dirinya di safety bunker-nya: dapur. 

Ketika bergumul dengan segala perangkat dan bahan membuat kue dan roti di dapur, Ares menjadi orang lain. Dia meninggalkan kerumpangan keluarganya dan masuk ke 'dunia’-nya sendiri. Ares akan terperangkap oleh waktu yang hanya dia saja yang bisa mengendalikannya. Ares baru sadar dia tidak keluar dari dapur kecuali untuk hal yang benar-benar penting hingga sore pun datang. 

Saking larut bekerja, Ares tidak mendengar Mimi memanggilnya dari tadi. Ares sedang konsentrasi menyemprotkan buttercream berwarna pink lembut ke atas permukaan sebuah cupcake.

"Ketok aja mejanya, Mi," sahut Sandy dari seberang. Mimi menurutinya.

Setelah mengetuk meja kerja tiga kali, akhirnya chef berwajah tampan itu mendongak dari pekerjaannya.

"Ada apa?"

"Mas, di luar ada customer yang pengen komplain." Seketika dahinya mengernyit.

"Komplain apa?"

"Dia mau order kue ulang tahun pakai karakter Bluey dan Bingo."

"Bluey dan Bingo?" Ares tidak tercerahkan setelah mengulang tiga kata itu.

"Itu, lho, Mas, karakter kartun anak-anak anjing."

"Oo-kay. Lalu?" Sejujurnya Ares tidak tahu yang mana kartunnya.

"Tapi diambil jam delapan nanti. Karena dadakan banget, jadi Mimi bilang nggak bisa. Eh, mbaknya marah."

Ana langsung menghitung waktu di jam tangan pintarnya. "Tiga jam lagi? Persiapan bahan, membuat adonan, manggang, mendinginkan kue, sampai buat karakternya pake fondan nggak bisa kali, tiga jam," celetuk Ana. Bagian menghias cake-cake cantik adalah keahliannya. Tapi tiga jam? Justru Ana yang komplain.

“Sudah diterangkan ke mbaknya kalau pesan kue karakter harus pre-order?”

“Sudah, Mas. Dia juga tahu itu, tapi dia minta pengecualian untuk satu kue ini.”

"Bilang nggak bisa, Mi. Coba bujuk orangnya ke kue yang ada di pajangan," ucap Ares tenang dan melanjutkan menghias sisa tiga puluh cupcake lagi.

"Udah, Mas. Si mbak ngancem mau ngadu-ngadu ke med-sos kalau kita nggak penuhi permintaannya. Katanya udah semua toko kue yang dia datangi. Nggak ada yang menyanggupi permintaannya."

Ares mulai terusik.

"Ya iyalah. Permintaannya mengada-ada." Ana memanas.

"Kali aja, kalau Mas keluar, bisa mengademkan marah si mbak." Mimi menyipitkan matanya, dan memamerkan senyum jahil yang semua orang juga bisa menangkap maksudnya. 

"Aah, bener juga tuh, Mas. Masih muda kan Mi, Mbaknya?" pancing Sandy. Ana menaikkan dua jempolnya setuju.

"Masih, Bang. Boleh dicoba, lho, Mas Ares." Mimi mengguyur bensin. "Mana tahu berhasil kayak dua bulan yang lalu. Gantengnya Mas Ares harus dimanfaatkan buat situasi darurat kayak gini."

Ares memutar bola matanya dramatis. Hilang sudah 'meditasinya' ketika menyemprot buttercream. Ares menghempaskan piping bag silikon dan melepaskan apron yang menggantung di lehernya.

"Awas ya, kalian. Nggak ada bonus akhir tahun!"

Serentak tiga orang karyawannya memucat.

"Yaaah, Mas Ares. Jangan pakai ancaman begitu. Saya mau nikah, nih." Sandy memohon.

"Mas Ares, aku mau liburan sama keluarga besar, nih." Memelas sudah wajah Ana.

"Mas, Mimi tarik ucapan Mimi tadi. Mimi masih mau bonus dari Mas Ares."

Lihat selengkapnya