The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #5

4. The One Who Asked What Is The Real Meaning Of A Family?

"Mas, ada pesanan dadakan cupcake seratus buah. Hiasan terserah kita. Yang penting elegan."

"Buat kapan?" tanyanya. 

"Nanti malam. Mereka yang jemput. Bisa, Mas?" 

Matanya kembali fokus menyemprot adonan madeleine ke loyang yang sudah diberi olesan butter dan taburan tepung. Dalam semenit, loyang madeleine penuh dan dimasukkan ke oven yang sudah dipanaskan terlebih dahulu di ruang oven.

"Apa aja pesanan kita hari ini?" tanya Ares sekembalinya ke dapur utama.

Walaupun bertanya, Ares tetap berjalan ke papan pesanan di dinding sambil mengelap tangannya ke serbet yang tergantung di kantong depan apronnya, kemudian membaca pesanan hari ini. Ada tiga pesanan. Satu kue ulang tahun yang sedang dikerjakan Ana, dua kotak kroisan—kroisan-kroisan cantik itu sedang menunggu warnanya berubah keemasan di dalam oven, dan pai daging dua puluh buah.

Pai daging nggak makan waktu lama, pikir Ares dalam kepalanya.

"Bisa. Kamu mulai buat adonan kulit pai. Biar saya yang buat cupcake."

Seratus? Memang banyak. Tapi ketika mengingat ada banyak cupcake yang akan dihias, adrenalinnya memuncak. Ares suka menenggelamkan dirinya dengan berkreasi di atas permukaan kue-kue kecil itu.

"Oke. Saya kasih tahu Mimi di depan." 

Tanpa ragu, Ares langsung mengambil tepung, gula halus, dan telur ke ruangan persediaan bahan di sebuah ruangan terpisah dari dapurnya. Sedangkan butter ada di lemari pendingin satu ruangan dengan dapurnya.

Ketika sedang menakar gula, ponselnya berbunyi di rak khusus gadget. Ares tidak suka ada yang mengganggu 'me time'-nya di dapur. Lho, Ares kan sedang bekerja. Kenapa disebut me time? Karena memanggang kue dan larut dalam aroma bahan-bahannya membuat sarafnya rileks dari hiruk pikuk dunia dan keluarganya yang banyak memberi tuntutan.

"BOB!" teriak Ares.

"Boby lagi ke toko Madam, Mas," sahut Ana.

Ares menghela napas lelah. Biasanya Boby yang bertugas mengambil gawai Ares dan mengaktifkan mode loudspeaker untuknya. Ares tidak mau diganggu bila sedang sibuk dengan urusan dapur. Kini dia harus capek-capek menjalankan kakinya sejauh lima langkah hanya untuk mengambil gawai itu. 

Lagi-lagi Ares menghela napas lelah. Padahal masih pagi, tapi sepertinya dia telah melakukan squat jump sepuluh kali tiga set. Ares melipir ke luar dapur.

"Ya, Pa?" 

"Res, Papa ada acara seminar kewirausahaan di kampusnya Mita."

"Lalu?"

"Kamu datang, ya? Hitung-hitung perkenalan Ares anaknya Dadang Sasongko, si chef terkenal." Tawa khas bapak-bapak pejabat merambat ke telinga Ares.

"Ares lagi sibuk, Pa."

"Ayolah. Ada wartawan. Bagus kalau kamu datang mendampingi Papa ke sana. Biar masyarakat makin familiar sama kamu."

Aku nggak perlu cara seperti itu untuk terkenal, Pa, kesal Ares di kepalanya.

"Kalau Papa hanya ajak Ares untuk menaikkan popularitas Papa di pemilu nanti, maaf, Pa. Ares nggak bisa." Ares paham betul apa tujuan papanya sejak awal. Tapi pasti papanya tidak akan menyerah begitu saja.

"Ya sudah. Tapi jaga hubungan kamu sama Nina, ya. Setidaknya sampai pemilihan nanti. Pesta kamu nanti pasti jadi sorotan media."

"Ya. Pasti."

Dan begitu saja. Tidak ada kata-kata penyemangat hari ini dari Dadang untuk Ares. Rasanya, hubungan kekeluargaan ini sudah beralih fungsi menjadi hubungan transaksional. Apa yang Ares lakukan hanya untuk menyokong karir Dadang di dunia politik. Semua tentang Dadang Sasongko. Posisinya sebagai anak … mulai tersingkir. Ares muak dengan nama belakangnya.

Saat akan menghidupkan mikser, lagi-lagi ponselnya berdering.

Gangguan apa lagi sekarang?

Lihat selengkapnya