Dita baru sampai di rumahnya dari mengantar penumpang ketika mendapati seorang wanita paruh baya tampak sangat mahal, menawan, dan anggun dalam balutan gaun malam merah marun keluar dari kamar mamanya.
"Mama cantik banget. Mau ke mana?"
Safarina terkekeh malu. "Mama kan udah bilang mau pergi arisan."
Anaknya langsung menepuk jidat. "Ah iya. Dita lupa. Di mana?"
"Di hotel bintang lima dekat bundaran HI itu."
"Apa?!" Kepala Dita langsung pusing menghitung-hitung berapa tarif sewa ruangan di sebuah hotel bintang lima. Butuh duit berapa cuma buat makan-makan haha hihi?
"Makanya Mama mesti beli gaun ini supaya pas dengan tempat pertemuannya."
"Duit beli baju dari mana?" tanya Dita ngeri. Dita kemudian ingat baru beberapa hari lalu mentransfer uang ke rekening mamanya untuk perbaikan atap rumah bocor yang sampai detik ini belum ada tukang yang datang untuk memperbaikinya.
Nggak mungkin kan, dibeliin ke baju ini sama mama? Please bilang nggak, Ma, mohon Dita dalam hati.
"Mama pakai dulu duit yang kamu transfer waktu itu. Habisnya, kalau nggak cepat-cepat dibeli, orang lain yang dapat gaun cantik ini," terang Safarina bangga sambil memamerkan gaun elegannya. Tahu-tahu Dita menjambak rambut lepeknya. "Cantik, kan, Mama?"
"Ma! Mama nggak sadar kalau genteng bocor lebih penting daripada baju itu?" Dita marah. Marah ke mamanya. Ke satu-satunya keluarga yang dia punya. Sayang, semenjak kepergian papanya, rasa sayang Dita pada Safarina semakin dia pertanyakan ketulusannya.
"Mama tahu. Tapi pertemuan triwulannya pas banget hari ini," sesal Safarina. "Mama mesti tampil cantik, tho?"
Safarina tidak peduli wajah putrinya menggelap merah padam seperti Gunung Vesuvius yang siap memuntahkan lava pijar yang amat panas.
"Ma, itu duit ngumpulinnya lama!" teriak Dita frustasi. "Dita mesti nyambi kerja sana sini. Jemput penumpang hujan panas badai sampai nyupirin orang, Ma. Dita jadi supir panggilan! Mama malah seenaknya pakai uang itu buat beli baju pertemuan triwulan yang nggak guna!" Tak sadar Dita hentakkan kakinya ke lantai tak bersalah. Kesal. Padahal selama perjalanan pulang sudah terbayang mi rebus pedas dengan telur setengah matang dan nasi hangat, plus taburan cabe rawit cincang. Dita akan makan di depan TV sambil selonjoran. Sekarang Dita capek. Capek badan. Kini pikirannya ikutan capek. Lelah melihat kelakuan mamanya yang semakin menjadi-jadi.
"Nggak guna kata kamu?!"
"Iya nggak guna!"
"Mama selalu berdoa setiap arisan nama Mama keluar di kocokan nanti. Lima puluh juta sekali keluar, Nak. Dapat uang dari mana lagi kalau bukan di acara nanti?" ujar Safarina santai.
"APA?! Lima puluh juta? Jadi selama ini arisannya segede itu?" Matanya mulai mengabur. Lama-lama air matanya turun perlahan. Kesaaaal. Dita menangis karena kesal. "Jadi uang yang Dita transfer ke Mama tiap bulan buat arisan segede itu?" ulangnya frustasi.
"Kamu lebay banget, deh. Dulu waktu papa ada juga segitu arisan Mama."
"Tapi itu kan dulu, waktu papa masih kerja di tambang. Waktu papa punya banyak saham dan aset yang nggak habis-habis. Sekarang setelah papa meninggal, saham Mama jual. Rumah di Sentul dijual. Mobil juga dijual karena biaya perawatan dan pajak mahal. Tinggal rumah ini aja yang belum Mama jual!" sindir Dita sambil menahan tangis. Gadis itu menghapus kasar air mata yang jatuh dengan lengan jaket hijaunya.
"Heh, Aphrodita! Kalau nggak Mama jual, gimana kuliah, hm? Itu motor juga dari hasil penjualan rumah." Safarina tidak mau kalah.
Dita mendengkus kesal. "Dari hasil penjualan semua aset papa yang lima setengah M lebih, yang Dita pake cuma untuk biaya kuliah. Motor nggak sampai 20 juta, Ma. Bekas pula. Sisanya ke mana? Padahal Dita mau wisuda. Biayanya juga nggak sedikit. Ini malah Dita yang setor duit ke Mama."
Kelopak mata Safarina yang sudah dihias eye shadow coklat tua bergerak ke sana ke mari, memandang ke mana saja asal bukan ke anak perempuan satu-satunya. Safarina tak dapat menjawab pertanyaan itu.
"Ma," ucap Dita lembut. "Mama nggak perlu ikut arisan. Cukup nabung aja, Ma. Kita butuh uang itu untuk biaya hidup sehari-hari. Maintenance rumah, bayar listrik, makan tiap hari. Dita lapar banget cari uang seharian. Mama masak hari ini?"
"Biasanya juga kamu beli nasi bungkus trus makan di kamar," bela Safarina.
"Karena Dita tahu Mama nggak pernah masak lagi, makanya Dita beli nasi bungkus. Lauknya cuma telor tempe, Ma."
Safarina mendecih dan memutar bola matanya. "Kamu tuh memang hobi bikin orang lain merasa bersalah, ya.”
“Maksud Mama ap—?”