The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #7

6. Unavoidable Sleepover

Dita salah besar melewatkan mi rebus tadi karena kini dia merasakan akibatnya. Perutnya pedih. Mungkin lambungnya ngambek karena sudah lama tidak diisi makanan. Ugh, memori bau bumbu mi instan kari ayam mulai mengacaukan akal sehatnya. Tapi uang supir pengganti terlalu sayang untuk ditolak. Jadinya Dita pulang ke rumah hanya untuk mengganti pakaian agar terlihat lebih rapi dan formal lalu memesan ojek online.

"Mbak ngapain ke Butterfly?" teriak kang ojol melawan angin malam Jakarta yang Dita tumpangi menuju lokasi mobil calon customer.

“Lagi ada kerjaan, Bang.”

“Oh, Mbaknya LC?”

“Hah?”

“Atau dancer?”

Dancer?” ulang Dita tidak mengerti.

“Jangan-jangan stripper?”

“Apa lagi tu, Bang?” Dita makin bingung.

“Itu, lho, cewek-cewek penghibur tamu minum atau karaoke.”

Deg.

Dita baru sadar ke mana arah pembicaraan kang ojek. Saking senangnya akan mendapatkan uang, Dita lupa mencari tahu Butterfly itu tempat apa. Dan sekarang Dita justru harus menjadi supir pengganti untuk seorang pria dari nightclub. Konotasi negatif terlalu melekat pada kata klub malam. Minuman beralkohol, mabuk, musik dugem yang memecahkan gendang telinga, pergaulan asyik masyuk, hingga narkoba.

“Bukan, Bang. Saya supir pengganti. Ketemunya di sana.”

“Owalaaah.”

Motor kang ojek masuk ke halaman depan Butterfly dan berhenti di depan gerbang masuk.

Sebelum pergi, kang ojeknya berpesan, “Hati-hati aja, Mbak. Udah malem. Orang-orang di Butterfly kelakuannya pada aneh-aneh.”

Perasaan Dita sudah seperti bubur ayam yang diaduk ketika berjalan ke parkiran. Takut, merinding, dan … takut! Demi Tuhan, dia seperti memasuki sarang penyamun. Tapi mengingat akan ada uang masuk ke rekeningnya, Dita menguatkan diri dan melawan rasa takutnya mencari sebuah SUV putih mewah asal Jepang berlogo L. Tidak butuh semenit, Dita menemukannya.  

Tapi, ada tiga pria—kalau Dita perkirakan berusia awal 30-an—yang berdiri di depan SUV itu. Yang mana pelanggannya? Semuanyakah? Gila aja. Pesan kang ojek tadi terngiang-ngiang di kepalanya. Kalau mengangkut semua pria itu, Dita keder. Nanti pulang tinggal nama, bagaimana? Kalau harga diri tinggal kenangan, bagaimana? Sereeem.

Dita memutuskan menelepon si pemilik mobil.

“Halo. Selamat malam. Saya Aphrodita dari aplikasi SupirKu. Ini dengan Pak Indra?” tanya Dita sopan.

"Selamat malam. Benar saya Indra. Oh, kamu yang pakai kemeja hitam, celana denim biru, dan sneakers, kan?

Ketika salah seorang dari tiga pria tadi melambaikan tangannya, jantung Dita meluncur ke perut. Apalagi yang harus Dita lakukan kalau bukan berlari kecil menuju pelanggannya. Dia harus menjaga nama baik aplikasi tempatnya mencari uang. “Halo, Pak Indra.” Dita menjabat tangannya. Kokoh dan kuat.

“Halo. Oh iya, ini teman-teman saya, Mike dan Tobi,” tunjuk Indra pada pria setengah bule dan pria paling jangkung di antara mereka bertiga.

A girl?” sela Mike. 

Dita sadar tidak sedikit kok yang meremehkan dirinya sebagai sopir pengganti. Jadi dia hanya diam mengulum senyum.

“Kamu bisa bawa mobil otomatis?” tanya Tobi yang sedang merokok.

“Bisa, Mas.”

Are you sure?” Si blasteran terdengar tidak percaya.

Dita mengangguk yakin. “Dulu sering bawa mobil papa jenis otomatis juga.” Dita menyebutkan merek sebuah jip keluaran Amerika Serikat dan sebuah sedan keluaran Jepang yang sudah dijual. Mike seketika bersiul.

“Manual juga bisa?” tanya Indra yang juga penasaran.

Lihat selengkapnya