“I miss you, Karenina,” bisik Ares.
Ares mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepalanya di ceruk leher perempuan yang dia sangka kekasihnya dengan mata terpejam.
Tapi kenapa kali ini aroma Nina berbeda? Biasanya harum sitrus dan manis. Kali ini … asem? Sejak kapan sitrus berubah menjadi asem seperti bau baju bekas olahragaku yang tak tersentuh tiga hari di keranjang pakaian? But her smell won't affect my love anyway. I still love her, and I always will. It's not gonna change how I feel about her.
Ares malah semakin menggesekkan hidungnya ke leher anak gadis yang masih terlelap di pelukannya. Sesekali Ares menyapukan bibirnya, membuat Dita menggeliat.
Sapuan lembut bibir Ares tak jua berhenti, membuat gadis itu mulai menggapai kesadaran. Satu rasa yang baru Dita rasakan seumur hidupnya sebagai gadis, Dita meremang aneh.
"Geli, berat," gumam Dita.
Belum selesai dengan sapuan di leher, kini jilatan-jilatan kasar mampir di telinga Dita, diiringi dengkuran lembut merambat ke gendang telinganya. Memberi efek menenangkan, sejujurnya. Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Jilatan kasar dan basah tadi melebar ke pipi dan puncak hidungnya.
Dita diserang dari dua sisi: sapuan halus yang membuatnya meremang di leher dan geli-geli basah di seluruh wajahnya!
"Iiih, siapa yang jilat-jilat?" ucap Dita dengan suara serak khas bangun tidur. Gadis itu mencoba meregangkan tubuh semampunya karena merasa ruang geraknya terbatas. Tubuhnya serasa dihimpit karung beras lembut dan hangat.
Setelah berusaha keras membuka mata yang terasa direkat lem super, Dita dapati matanya bertubrukan dengan kepala berbulu yang sesekali mengeong dan menjilatinya.
“Kucing?”
Kenapa ada kucing di dadanya? Berat banget. Obesitaskah? Soalnya dadanya terasa sesak. Meski berat, tangan Dita tak henti mengelus bulunya yang halus dan lembut yang membuat si kucing gemuk makin mendengkur keras.
“Kamu pasti nyasar masuk kamar aku, ya? Jangan sampai ketahuan Mama, Sayang. Entar diburu sampai ujung komplek.” Dita terkekeh sendiri.
"Kenapa, Babe? Siapa yang diburu?"
Eeeh, suara laki-laki?! teriak Dita dalam hati.
Kewaspadaan Dita tiba-tiba meroket. Apalagi kecupan-kecupan ringan mampir di lehernya. Membuat tubuhnya makin bergidik. Seketika gadis itu membelalakkan mata, menegakkan badan dan melihat ke sekeliling.
"ARES!" teriak seorang ibu-ibu.
"SAYANG!" teriak seorang perempuan muda.
"AAAA!!!" Dita memekik histeris pada pria di sampingnya.
"Kamu siapa?" tanya perempuan yang lebih tua.
"Iya, kamu siapa?" ulang perempuan yang lebih muda dan cantik selangit.
"Ada apa, sih?"
Suara serak Ares memutus kontes saling tatap Dita dan dua perempuan tadi. Kendati masih terpejam, si lelaki menegakkan badannya. Tiga pasang mata menoleh bersamaan pada si pria setengah sadar.
"Pak Ares?!" Lalu Dita beralih ke dua wanita tadi. "Kalian siapa?" Nyawa Dita masih setengah terkumpul dan setengah kaget, jadi pertanyaannya sangat tidak bermutu, membuat si dua tamu darah tinggi.
"Astaga. Aresta! Bangun. Jangan bengong aja, Nak!"
"Sayang, kamu apa-apaan? Dia siapa? Kenapa nggak pakai baju, kamu? Kenapa perempuan itu pakai baju kamu?"
Sontak Dita menunduk dan melihat baju yang dia pakai, lalu menatap badan polos yang seperti pahatan maha karya Tuhan. Pahatan maha karya Tuhan? Kok rasanya dia pernah mendengar kalimat menjijikkan tadi? Gara-garanya, kepingan demi kepingan ingatan kembali menempati posisinya. Dita langsung melompat dari sofa hitam dan berdiri menjauh dari sumber masalah. Ralat, dia sendiri juga sumber masalah di sini.
"Hi, Ma. Babe. Kapan sampai?" Ares santai mengucek matanya. "Hellow Maple. Lapar, yah?" tanya Ares dengan suara dibuat imut. Kucing gembul itu menggesekkan kepalanya ke dada polos tuannya.
"Res, what did you do with her?! Kamu ... KAMU TIDUR SAMA PEREMPUAN DEKIL INI? Kamu selingkuhin aku!" Suaranya bergetar, satu tetes air mata lolos dari bola mata perempuan cantik itu.