Dita tertunduk lesu duduk di sofa single, tidak berani mengangkat kepala karena pelototan tajam Ares dan mamanya yang duduk di sofa hitam. Di saat-saat seperti ini, Safarina malah muncul di benak Dita.
Mamaaa, Dita takut ....
Ares mendengus bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya yang sudah terpojok.
"Kamu supir panggilan, kan? Kenapa bisa masuk apartemen saya?" tuntut Ares tak kalah sengit.
"Saya sama sekuriti bopong Bapak ke sini. Kan Bapak semalem nggak sadar dari Butterfly."
"Butterfly? Nggak sadar?" Widyawati menoleh cepat pada anaknya.
"Indra pesta bujangan di klub, Ma. Tapi Ares nggak ngelakuin yang aneh-aneh, kok. Mama tahu Ares nggak minum. Tobi salah kasih minuman ke Ares. Dia pikir itu mocktail, ternyata beralkohol. Jadi Mama tahu kan kenapa Ares nggak sadar?”
"Tobi kamu ikutin. Udah tahu tuh anak hidupnya nggak beres."
Tak menghiraukan Widyawati, Ares kembali menghadap Dita. Pelototan mata tajam itu membuat Dita menunduk.
"Nama!" bentak Ares.
"Dita, Pak."
"Kalau kamu sama sekuriti ke sini, kenapa nggak ikut keluar sama dia setelah antar saya?"
"Maunya keluar bareng Pak Sekuriti, tapi Bapak tiba-tiba muntah di baju bapak dan baju saya. Jadi saya bersihin badan dulu. Makanya saya pinjem kaus ini. Maaf, saya terpaksa," tunjuk Dita ke badannya. “Kalau nggak percaya, tuh baju Bapak. Baju saya pasti masih di wastafel. Terus … bekas muntahan Bapak masih ada, tuh, di karpet.”
Ares meringis jijik ketika mendapati kemeja yang dia pakai semalam bernoda muntah tergeletak di karpet. Dan karpet Turkinya … ugh, Ares tidak yakin mau memasangnya kembali meskipun sudah dicuci. Dia kemudian segera meluncur ke dapur dan menemukan apa yang gadis itu katakan tersampir di bibir wastafel. Dita … jujur. Kening Ares mengernyit samar. Dia kembali ke ruang tamu.
“Lalu kenapa kamu tidur … sama saya?”
"Pak Ares sendiri yang narik tangan saya sampai saya terjatuh di sofa. Dan kebetulan kepala saya lagi saki—”
"Halah, alesan," potong Ares. "Jangan-jangan kamu penipu? Ayo katakan, siapa komplotan kamu? Kamu mau mencuri dari saya? Atau kamu mau memeras saya? Mana ponsel? Pasti ada foto saya di ponsel kamu."
"Astaga. Saya wanita baik-baik. Apa untungnya saya meras Bapak?"
"Makanya. Saya perlu bukti. Mana ponsel kamu? Saya periksa!"
"Lakukan saja apa kata anak saya," desak Widyawati.
Dengan kaku Dita mengambil ponsel dalam kantong celananya. Dita menyodorkannya takut-takut.
Setelah memeriksa dengan menyeluruh semua isi galeri foto Dita, kening Ares malah makin mengkerut. Yang dia temukan hanya foto kucing nomor satu paling banyak, lalu foto dia dengan seorang wanita paruh baya, terakhir foto dia bersama teman-temannya. Apa-apaan ini? Tidak ada foto Ares sama sekali. Gadis ini, berkata benar. Tapi kenapa dia tidur dengannya?
"Ada, Res?"
Gelengan kepala Ares adalah jawabannya. Selang beberapa detik, getar ponsel Dita menampilkan sebuah nama di layarnya, Mamaku.
***
"Apa Dita marah, ya?"
Safarina bicara pada dirinya sendiri di kamar sambil memandangi lemari pakaiannya. Pikirannya terbagi antara si anak gadis yang tidak pulang-pulang dengan baju-baju yang tergantung rapat di lemari. Dita tidak pulang sempat membuatnya tidur tidak nyenyak. Sedikit. Namun, karena ibu tunggal itu merasa anaknya sudah dewasa dan bisa menjaga diri sendiri, maka kecemasan tadi sedikit mereda.
Safarina bersyukur mendapati putrinya tumbuh dan berkembang dengan baik dan tidak meniru sifatnya. Gen suaminya berperan lebih banyak dalam membentuk anak mereka, terutama wajah, sifat, dan keuletan. Itu sebabnya Safarina bahkan tidak khawatir bila anaknya tidak terlihat di mana pun di setiap sudut rumahnya karena yakin, Dita akan baik-baik saja.
"Tapi aku telepon berkali-kali kok nggak diangkat, ya? Dita baik-baik aja, kan? Duh, tuh anak bikin khawatir," ucap Safarina menerawang sesaat sebelum beralih ke lemari pakaiannya lagi. Beberapa dress lama ketinggalan zaman tergantung berdesak-desakan.