The Ingredients of Happiness

Steffi Adelin
Chapter #10

9. Fake Responsibility

"Apa?!"

"Ma!" ucap Ares dan Dita serentak.

Dita meremas rambutnya sampai meringis. Dia tidak percaya pada pendengarannya. Tapi sepertinya tidak ada salah dengan kesehatan telinganya.

"Heh! Tidak ada ceritanya anak saya menikah dengan ...." Pandangan mata Widyawati memindai Dita dari ujung kepala sampai ujung kaki, sungguh pandangan meremehkan. ".... anak Anda. Lagian anak saya sudah mempunyai tunangan."

Kepala Safarina menggeleng pelan. "Punya tunangan tapi meniduri anak saya."

"Ma, nggak gitu ceritanya."

"Saya bisa pastikan saya tidak pernah ‘menyentuh’ anak Anda!" Ares menggertakkan rahangnya menahan emosi.

"Ma, Pak Ares benar. Dita … Dita baik-baik aja, kok," bujuk Dita.

Tapi Safarina tidak berpikir demikian. Wajahnya mengeras dan bola matanya melotot tidak terima. "Kamu perempuan, Nak. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, siapa yang tanggung jawab? Kalau kamu sampai hamil gimana?"

"Ma, nggak mungkin."

"Diam Dita!"

"Tapi Ma—" Dita terpaksa bungkam oleh tatapan tajam bermakna perintah yang sangat Dita kenal tidak boleh dibantah.

"Kamu diam aja. Biar Mama yang bereskan semuanya." Lalu Safarina beralih ke Widyawati. "Jeng, saya nggak mau tahu. Pernikahan harus tetap dilangsungkan. Saya nggak mau terjadi apa-apa dengan anak saya satu-satunya ini. Kalau sampai anak saya hamil karena perbuatan anak Jeng, saya pastikan kejadian ini akan sampai ke media dalam hitungan jam!"

Bagai dihantam petir di siang bolong, Widyawati kaget tak terkira. Skandal. Satu kata yang amat dihindarinya. Dia tidak ingin keluarga Sasongko diterpa skandal, bahkan yang kadarnya ringan sekalipun. Suaminya tidak boleh terkena masalah. Pemilu semakin di depan mata. Jangan sampai Dadang Sasongko gagal jadi anggota dewan lagi hanya gara-gara kejadian tidak penting ini.

"Res," ucap Widyawati memohon.

Sekali lihat Ares tahu pasti apa makna tatapan barusan. Ares menggeleng muak. “Come on, Ma! Apa pun yang ada dalam kepala Mama, Ares nggak setuju!”

Widyawati mendesis tajam. "Kamu nggak bisa seenaknya berbuat sesuka hati di saat genting seperti ini. Kalau terjadi sesuatu sama kampanye Papa, bukan hanya Papa yang hancur, karir kamu juga, Res.” 

"Ma, solusinya nggak hanya menikah. Mama nggak pertimbangkan hidup Ares juga?" Ares frustasi. Dia menyugar kasar rambutnya.

"Dita nggak mau nikah. Dita masih mau kuliah, Ma." Dita pun mencoba peruntungannya, memohon dengan puppy eye-nya pada Safarina. Yang dia dapatkan hanyalah remasan kuat di tangannya, menyuruh Dita membungkam keinginannya.

"Saya tetap dengan pendirian saya, Jeng. Mereka harus menikah sebagai bentuk tanggung jawab anak Jeng. Harus gentle jadi laki-laki." Safarina menatap jengkel Ares. "Setelah meniduri anak saya, lalu kamu lari dari tanggung jawab? Iya?"

"Ma—"

"Tante. Bukan begitu—"

"Dita, ayo pulang," potong Safarina.

Tangannya sudah ditarik menuju pintu. Keputusan sepihak mamanya sungguh membuat jiwa Dita meronta dan tak berdaya di saat yang sama. Dita tak rela menikah dengan pria asing pemarah itu. 

"Ma, please. Ares nggak bisa menikahi orang lain selain Nina.”

Lihat selengkapnya